Tragedi Tulang Ikan

Pernah aku berpikir aku bakal mengakhiri hidup aku di dunia ini dengan terkapar lemas di jurusan demi menunggu ketua jurusan guna meminta tanda tangan. Ajaibnya, pun telah menunggu begitu lama berulang-ulang kali dan tentunya dengan berulang kali menerima kekecewaan jua aku tak mati dengan cara itu. Aku masih hidup hingga sekarang. Bukan karena terlalu lama dan banyaknya waktu yang kuhabiskan untuk menunggu aku bisa mati. Tidak dengan cara yang konyol itu.

Lalu. Kamis lalu setelah tulang ikan nyangkut di kerongkonganku maka aku berpikir dengan akibat inilah aku akan meninggalkan dunia fana ini. Jumat pagi setelah mandi aku panik karena ternyata tulang yang tersangkut kala aku makan sore kemarin masih ada. Siangnya ketika Ibuku pulang aku mengadu perihal tragedy nyangkutnya tulang di kerongkonganku. Lalu pertanyaan itu muncul, “adek bisa mati gak mi karena nyangkut tulang ni?”
“Bisa” jawab ibuku langsung. Lalu ia menambahkan “kalau adek ketabrak sama truk pas tulangnya masih nyangkut di kerongkongan” hiyyeeeeh…. Bisa becanda juga nih si mami.

Aku serius. Aku gak bercanda soal pikiranku akan mati itu. gini kronologisnya. Tulangnya nyangkut+gak bisa keluar juga+infeksi+bengkak+mulut aku membesar+operasi-+gagal= MATI!
Tuh bisa kan? Nah, tentu aja aku gak mau mati dengan cara konyol versi kedua ini. Aku ingin mati dalam keadaan Khusnul Khotimah dengan cara yang elegan. Yaah.. caraku menjalani hidup emang udah rada-rada konyol tentunya aku mau mengakhirinya dengan cara yang lebih baik, agar dunia mengenangku dengan cara terhormat nantinya.

Ternyata oh ternyata Ibuku belum ngerti benar tragedi nyangkutnya tulang di kerongkonganku. Dikira olehnya hanya nyangkut-nyangkut seperti biasa yang bakalan lepas sendirinya. Atau bisa diatasi dengan menelan nasi panas, minum air pakai sendok kuah, atau memutar-mutar piring makan layaknya resep kuno entah jaman kapan dan siapa penemunya. Darimana coba bisa kita melepaskan tulang di kerongkongan dengan putar-putar piring. Jelas aja tempatnya beda. Tulangnya di dalam mulut cuy, piringnya diatas meja. Dimana letak korelasi antara piring dan tulangnya? Mau bikin Isaac Newton dan Michael Jackson main wayang orang di alam kubur sana? halllaaah…

Kujelaskanlah pada Ibuku, kalau tulangnya itu nyangkutnya di dekat amandelku (bener kan amandel nama daging yang gelantungan di pangkal mulut?) dan tulangnya itu nancep macam panah nancep di buah apel. Naah.. paniklah Ibuku. Barulah beliau bisa ikut alur ceritaku yang berujung matinya aku kalau ini tulang gak bisa dicabut. Aku usahakan untuk mencabutnya dengan pinset, tapi tak berhasil yang ada malah aku muntah-muntah. Karena itulah Ibuku mengajakku untuk ke UGD hari Sabtunya. Awalnya aku pikir UGD libur Sabtu-Minggu. Ternyata gak tuh. Terjawab sudah pertanyaanku kemana dibawa larinya orang-orang yang kecelakaan pada hari Sabtu-Minggu. (heheheh iya, menjadi bodoh untuk sesekali itu gak dosa teman, jadi bodohlah maksimal 23 kali selama hidupmu)

Aku menolak pergi ke UGD hari Sabtu karena teman-temanku mengajak aku untuk berakhir pecan dengan main-main ke Brayeung (Leupung) semacam tempat wisata di Mata-ie yang airnya berasal dari gunung. Minggunya aku juga menolak pergi ke UGD karena hari itu bertepatan dengan ulang tahun sahabatku. Bukannya aku udah terlanjur cinta sama tulang itu hingga aku menolak untuk membuangnya, hanya saja tulang itu belum mengganggu aktivitasku. Makan masih lancar, ngomong masih bisa, bahkan aku bisa nyanyi lagu 17 Agustus lagi, yang mengganggu hanya kalau aku menggerakan mulut aku tau dia ada disana. Terasa sedikit, tak kentara.

Akhirnya hari Senin tiba, sebelum ke kampus aku pergi ke UGD Rumah Sakit Ibu dan Anak di Blang Padang bersama Ibuku. Awalnya aku menolak pergi ke sana karena aku merasa aku bukan Ibu-ibu. Setau aku itu rumah sakit bersalin atau semacamnya-lah. Tapi Ibuku lalu berkata, “ya adek emang bukan Ibu, tapi adek-kan anak. Jadi bisa juga kita kesana. Lagian adek kan perginya ama Mami, kita kan Ibu dan Anak” hiee… lucu ya Ibu saya. Kadang saya bingung kok bisa wanita berzodiak Libra ini melontarkan lelucon karena bukannya biasanya orang-orang berzodiak Libra itu cenderung serius?

Nah, tiba disana (Rumah Sakit Ibu dan Anak) aku langsung ditangani sama perawat yang kebetulan masih sodaraan ama kami. Aku jadi tau alasan Ibuku mengajak aku kesini. Ada yang dikenal rupanya. Begitu tau kalau masalahku amat sangat gak keren sekali sampai-sampai waktu ditanya apa keluhanku sama perawatnya aku menjawab dengan amat lembut supaya gak didenger sama yang lainnya, si perawat memintaku untuk membuka mulut. Hiyyeeh.. dia langsung nampak tulang laknat yang udah berhari-hari nginep di kerongkonganku. Dia ambil pinset. Gede e pinsetnya cukup buat aku cenat-cenut mikirin nama-nama personel Sm*sh yang belum sempat aku hapal. Dia suruh aku rebahan, meminta rekannya untuk menyenter mulutku, dia masukkan pinset dan tap, tulang itu langsung tercabut hanya dalam hitungan detik. Huaaaa… sebelum bersyukur aku takjub dulu. Bukan takjub karena masalahku berhasil diatasi, tapi takjub sama ukuran tulangnya. Gila aja, itu tulang lumayan panjang, ukurannya 0,5 cm. Bukan tulang halus biasa. Aku takjub sama kemampuanku memakan itu tulang. Aku rasa kalau orang normal pasti gak bakalan nelan tuh tulang. Ukurannya cukup membuat kita berpikiran waras untuk mengenyahkan alih-alih memasukkanya ke dalam mulut.
Haaa…. Aku geleng-geleng kepala!

Dan.. akhirnya tulang itu berhasil dikebumikan di tempat yang seharusnya. Dan akhirnya aku gak jadi mati dengan alasan nyangkut tulang. Dan aku masih mungkin bercita-cita untuk mati dalam keadaan Khusnul Khotimah dan masuk surga. Dan setelah aku tanya sama Ibuku, ternyata itu ikan namanya Ikan Gembong (semoga aku gak salah nangkep/denger).

Ps: Aku berhenti sementara waktu untuk makan ikan yang memungkinkan tragedi ini terulang. Saat ini aku hanya akan makan ikan tongkol saja.

2 thoughts on “Tragedi Tulang Ikan

  1. hehehe.. ternyata ada yg punya pengalaman sama seperti saya yang barusan pagi ini ketulangan ikan patin sambal masakan nyokap dan alhamdulillah untungnya itu tulang masih bisa diambil dengan mengobok-obok tenggorokan pake jari, tadinya lumayan bikin panik juga malah nyokap udah nyuruh dibawa ke “orang pintar” buat dijampi-jampi hihihi.. makin bikin runyam ajalah ini tulang ikan, rasanya memang sangat mengganggu bikin ngak nyaman di tenggorokan setelah tulang bisa diambil rasanya lega bgt pengalaman ini bakalan jadi pelajaran berharga buat saya supaya lebih hati2 lagi kalo makan ikan dan mengurangi kekalapan kalo lagi ada di meja makan🙂 intinya saya bisa tahu yang kamu rasakan. Mudah2an tragedi ketulangan ngak terulang lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s