Don’t Let World Knows

onSaya gondok banget ama hasil make-up untuk acara yudisium saya. Benar-benar gak sesuai keinginan saya dan saya jadi gak pede. Ujungnya, saya cuman ada buat sedikit poto ama teman-teman yang yudisium bareng saking mindernya saya. Abis, dandanan mereka bagus-bagus. Seharian saya gunakan waktu saya dengan memaki salon dan orang yang telah saya bayar untuk dandanin saya.

Awalnya, saya diam-diam aja. Saya gak mau ada yang tau kalau saya gak suka ama make up yang nempel di wajah saya. Saya berpura-pura tak ada hal yang salah. tetapi begitu melihat hasil poto melalui kamera saya gak bisa menahan diri saya lagi begitu melihat yang terpampang disana bukanlah wajah saya. Saya seperti memakai wajah orang lain dengan mata yang amat sangat kecil. Kesel.

Padahal dari dulu saya termasuk orang yang menyembunyikan kesalahan yang terjadi pada diri saya. Tujuannya agar jangan sampai ada yang berani menghina saya. Karena, tak ada seorangpun yang berhak menghina diri kita bila kita tidak mengizinkannya. Maka, diam saja dan jangan pernah memberitahu orang apa-apa saja yang bisa membuat kita merasa dihina.

Berulang kali sebenarnya setiap saya ke salon untuk potong rambut, model yang saya inginkan gak tercapai. Maksudnya, rambut saya kecelakaan. Ya kependekanlah. Ya anehlah. Ya gak cocok dengan wajahlah. Tapi saya selalu diam tak saya umbar-umbar pada orang lain bahwa rambut saya salah dipotong dengan demikian orang berpikir model rambut kecelakaan itu adalah model yang saya inginkan. Hasilnya gak ada yang tau saya gak suka dan malah merasa terlihat aneh dengan potongan rambut baru yang ancur. Toh.. rambut itu bakal tumbuh. Gak selamanya kita akan berpotongan rambut aneh.

Nah.. itu saya berhasil menerapkan pasal untuk gak mengizinkan orang lain menghina diri saya. Herannya saya melanggar pasal tersebut saat dandanan waktu yudisium itu gak sesuai keinginan saya. Tapi syukurnya saya berhasil tampil PD dengan baju hasil obrak-abrik yang sukses bikin saya ngamuk-ngamuk pasca baju untuk yudisium itu selesai dijahit. Gimana gak, saya pengennya lain eh malah dibuat lain. Kebesaranlah. Terlalu panjang lengannya. Pitanya macam tali sepatu. Dan banyak hal lainnya yang bikin say gak puas. Akhirnya, demi meredakan amarah saya, ibu saya memutar otak dan merubah sana-sini baju tersebut. Bahkan di malam acara, kami sempat memotong pitanya dan menggantinya dengan bros. Hasilnya, hmm.. baju itu jadi sangat memuaskan untuk saya dengan sentuhan akhir dan ide dari ibu saya. Besoknya pas acara, saya menerima pujian kalau baju yang saya kenakan pas banget dibadan saya. Hehehe mereka gak tau aja, ada pertumpahan darah dibalik suksesnya itu baju melekat jumawa di tubuh kurus saya. Nah, untuk hal ini, meski sebenarnya kalau diteliti lebih jauh, baju itu memiliki cacat tepat di bagian depan tapi gak ada yang tau. Hal ini terjadi karena saya tak ingin memberitahu. Karena dengan omongan negative kita, persepsi orang jadi negative juga. Dan dengan kepedean kita, maka orang menganggap itu memang hal yang seharusnya terjadi.

Maka bila kita mau, dunia tidak akan pernah mau tahu kalau kita mengalami “kecacatan”. Jadi, jangan biarkan dunia menghinamu.

Ps: Adakah diantara kamu yang nyadar kalau di wajah saya, saya memiliki kecacatan yang nyata?

One thought on “Don’t Let World Knows

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s