Udang Goreng Tepung dan Pak Dekan

UDANG goreng tepung. Tumis kangkung pake UDANG. Ayam goreng tepung. Sate. Sup ayam. Itulah barang-barang yang ada di depan muka saya. Dalam kondisi seperti ini dan situasi makan siang, harusnya saya jadi liar dan ambil semua makanan itu dan meletakkannya di dalam piring untuk saya kirim ke perut melalui mulut. Itu seharusnya!

Kenyataannya. Disamping kiri saya duduk seorang dosen yang juga mantan dosen pembimbing skripsi saya,. Di sebelah kiri lebih parah lagi, duduklah seorang Pembantu Dekan 4. Di depan saya duduk tiga pria berusia kira-kira antara 25-35 staff IT Fakultas Ekonomi Unsyiah. Jadi, dengan struktur tempat duduk sedemikian rupa gimana caranya saya bisa mengeluarkan jurus Kalap Makan Siang? Suasana makannya formal walaupun obrolannya tidaklah formal.

Awal mula, saya duduk paling ujung, lokasi strategis untuk focus sama makanan yang ada. Tapi memang takdir gak ijinin saya untuk merasakan secuil surga dunia hari itu maka jadilah saya duduk dikelilingi oleh Ibu dan Bapak-Bapak yang terhormat. Saya terpaksa makan dengan kalem, ngunyah ampe 33 kali dan mengambil makan seadanya (baca: ngambil hanya satu udang goreng, satu ayam, satu tusuk sate, secuil tumis kangkung plus mungut udangnya).

Bayangin?? Dari sekian banyak piring berisi udang saya hanya makan satu udang goreng. GAK ADIL…..!!!!!

Di tengah acara jamuan makan, saya berusaha keras untuk makan dengan gerakan slow motion. Tau sendiri-lah, saya kalau makan ekstra cepat, soalnya saya pernah ikut latihan militer yang mengharuskan makan secepat mungkin guna mengantisipasi musuh di kala perang. Herannya, tetep aja saya siapnya cepet. Emang sih bapak-bapak itu ambil menunya banyak ragam, hingga mereka sibuk dengan setiap lauknya. Lah, saya.. saya kan makannya simpel maka dari itu makanan saya cepet habis.

Yang paling nyebelin ini nih.

Saya udah siap makan setelah memastikan dosen yang duduk di ujung udah lebih dulu siap. Saya rapikan sendok dan garpu lalu minum. Duduk tenang. Tiba-tiba…

Pembantu Dekan: nih.. tambha lagi nasinya (sambil nyodorin piring nasi tambahan).
Saya: (senyum malu anak kucing kelaparan)
PD: gak usah malu-malu.. makan aja
Saya: pengennya sih enggak, Pak. (ucapku dalam hati sambil ngasih senyum malu-malu anak kucing).

Daan.. kenapa saya bisa makan siang bersama para dosen juga Pembantu Dekan? itu bukan karena saya dekat sama dosen, terkenal di kalangan dosen ataupun mahasiswa yang disukai oleh dosen. Saya semata-mata hanyalah staff magang di Pojok Bursa Efek Indonesia BNI Securities Fakultas Ekonomi Unsyiah. Acara makan siang ini hanyalah untuk temu ramah (iya gitu istilahnya?) para staff-staff dan pengurus/pengelola Pojok BEI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s