Aku Bisa Menunggu

Aku bisa menunggu. Yang kubutuhkan hanya terus bernapas dan tetap hidup. Aku bisa menunggu. Menunggu itu mudah, kubiarkan saja waktu berlalu.

Aku terbiasa menunggu. Baik itu hal yang pasti atau tanpa kepastian. Yang kulihat hanya jarum jam yang bergerak. Kudengar gerakan pelan jarum detik yang seiiring helaan nafasku. Aku menunggu.

Aku menunggu sampai sesuatu yang kutunggu datang. Itu hal yang mudah. Kuhirup saja oksigen agar terus bernafas. Atau aku menunggu bahkan sampai yang kutunggu tak datang. Bukan menyerah, tetapi yang kutunggu sudah memberikan suatu pertanda bahwa ia tak datang. Aku pulang. Kembali. Berhenti menunggu. Untuk hari ini. untuk saat ini.

Ingatanku kembali berputar pada kejadian setahun silam. Aku mempunyai janji pada seorang teman. Dia akan datang menjemput, jadi kutunggu di rumah. Pada jam yang telah dijanjikan aku telah bersiap. Aku tengah menunggunya.

Lama.. jarum menit berpindah detik berlari. Waktu janji telah tak tertepati. Aku tetap menunggu, awalnya dengan sabar. Kelamaan menjadi resah dan jengkel tapi aku terus terjaga karena ini sebuah janji.

1 jam sudah. Tak mungkin janji terpenuhi pikirku. Tapi aku belum menyerah. Aku tak menghubunginya. Ini janjinya, dia yang harus memenuhi pikirku. Tiba-tiba ada suatu ide untuk mengetahui kepastian. Dan ya, kepastian aku temukan. Dia gak bakal datang. Maka aku tak perlu menunggu lagi. aku kembali mengganti bajuku dan memilih menghabiskan waktu yang seharusnya bersamanya dengan membaca novel. Kualihkan pikiranku.

Esoknya, tak juga kutanya mengapa ia tak datang. Tak perlu. Itu janjinya, bukan aku. Saat ia menghubungiku-pun tak kubahas sedikit-pun tentang betapa sia-sianya aku menunggunya. Tak perlu, hanya menambah amarahku saja. Dan.. dia yang memulai. Aku tau dia merasa bersalah lalu ia berbohong. Aku hanya tersenyum sinis membaca balasan sms darinya yang berisi alasan tak datang dan permintaan maafnya. Semuanya kebohongan. Tak juga perlu aku konfirrmasi mengapa ia berbohong, bukan urusanku. Hanya saja ia terlalu berlebihan. Padahal ia tak perlu berbohong demi kenyamanan diriku. Sama sekali gak perlu. Ku pikir gak ada seorang-pun di dunia ini yang pantas mendapat dosa karena berbohong hanya demi diriku. Terlalu berlebihan tindakan itu. Padahal dengan atau tanpa dia berbohong lamban laun atau bisa saja dengan cepat aku tau kebenarannya. Lantas, kenapa harus repot-repot berbohong?

Karena aku menunggu? Oh.. itu bukanlah suatu hal yang pantas bila dibandingkan dengan berbohong. Bila menunggu aku hanya perlu bernafas agar tetap hidup guna janji terpenuhi. Bila berbohong kau perlu membayarnya dengan sebuah dosa.

Maka aku akan menunggu, selama apa-pun itu. Biarkan waktu yang menemaniku. Biarkan waktu yang memutuskan kapan aku harus berhenti menunggu. Karena menunggu itu hal yang mudah.

Akan tetapi, bila yang ditunggu tak datang, bila janji tak dipenuhi, manusia mana sih yang tak kecewa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s