Lelaki Lusuh

Ini merupakan postingan titipan seorang teman @dsrnhrln (twitter)

LELAKI LUSUH ITU

Mungkin ia tipe lelaki penikmat kecantikan wanita. Entahlah. Tapi aku telah menciumnya –pria dengan dua orang anak itu.

Aku tidak menyadari bahwa rasa kasihanku telah mendorong perasaanku menjadi ingin bertanggung jawab atas dirinya. Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia datang ke kantor dengan langkah kakinya yang santai. Tas butut, jaket busuk, dan baju lusuhnya. Badannya yang kurus kering dan kepulan asap yang keluar dari mulutnya setelah ia selesai menyantap sarapannya.

Aku telah memperhatikannya selama dua bulan. Tapi tidak pernah berani lebih jauh. Ia terkadang terasa sangat dekat dan di lain sisi terasa sangat dingin. Kadanga ia menatap kosong pada printer yang menjerit melepehkan kertasa-kertas. Kadang kudapati ia tengah sibuk mencatat sesuatu di buku agenda.

Ia jarang bercerita tentang keluarganya. Ia selalu bercerita hanya tentang dirinya. Maka bukan salahku ketika aku terkejut mendengar ia sudah menikah. Saat itu keterkejutanku bukan ungkapan kekecawaan atau hati yang patah. Hanya saja tidak menyangka, pria lusuh itu telah beristri.

Ya. Pria lusuh yang setiap pagi menyunggingkan senyum yang sama, yang selalu pergi sarapan ke warung di sebelah kantor, yang jarang pulang tepat waktu hanya karena istrinya masih sibuk bersama teman-temannya di sebuah kafe elit.

Setelah ciuman kami, tidak ada yang terjadi. Kami tidak menjadi lebih dekat atau dia berusaha menjauhiku. Ia masih menyapaku dengan sama, melontarkan lelucon yang kadang sangat begitu tidak biasa, ia masih menceritakan hari-harinya, menceritakan weekend-nya, ia masih lelaki lusuh itu.

Lelaki lusuh yang diam-diam kuperhatikan karena kasihan.

Lelaki lusuh yang selalu kuandai-andaikan dalam imajiku.

Andai istrinya yang cantik itu lebih memperhatikan pakaiannya, ia tidak mungkin masih memakai baju lusuh itu.”

Andai istrinya yang cantik itu lebih memperhatikan makannya, ia mungkin tidak akan sarapan di warung sebelah.”

Andai istrinya yang cantik itu lebih memperhatikan suaminya, ia pasti akan jauh lebih bahagia.”

Andai istrinya yang cantik itu tahu betapa hebat suaminya, mungkin tidak akan ada lagi agenda hang out bersama teman-teman.”

Andai istrinya yang cantik itu adalah aku.”

index

Desrian Harleni

Satu, Dua, Tiga.

Satu dua tiga alasan menjadi penyebab. Salahku. Bahkan ribuanpun kamu beberkan tak cukup. Tak satupun bisa menjadi alasan. Tak satupun mampu kuterima sebagai alasan.

Alasan meninggalkanku.

Bukan satu, dua atau tiga kali aku memaafkan. Aku memaklumi. Aku bersabar. Tak satupun ada alasan yang mampu kujadikan amarahku membludak.

Alasan menyalahkanmu.

Satu, dua bahkan tiga orang sudah menanyakan perasaanku padamu. Mengapa sebegitunya aku takut kehilanganmu. Kenapa sebegitu susahnya aku merelakanmu.

Setidakpunyaperasaan itukah mereka akan perasaanku.

Satu, dua bahkan tiga orang menyuruhku merelakanmu. Melupakanmu. Mengabaikan pedih dan sakit hatiku.

Setidakpunyaperasaan itukah mereka untuk mengetahui perasaanku.

Ini disebut apa? Masihkah harus kamu tanyakan? Masihkah harus aku jelaskan.

Ini adalah cinta.

Cinta yang tak pernah kuucapkan.

Karena kupikir kamu cukup cerdas mengetahuinya.

Mungkin memang satu kali aku ucapkan sayang. Dua kali aku ucapkan rindu. Tiga kali aku merayumu. Namun kamu tahu, ada ribuan komat kamit munajat kusampaikan pada-Nya, agar semesta mengamini doaku. Menyatukan kita. Merestui kita.

Kamu tak perlu lakukan apapun.

Cukup satu.

Kamu harus mencintaiku.

Tanpa dua, tanpa tiga.

Aku.

Entah

Di salah satu pagi di bulan Desember, hujan turun dengan derasnya, dengan suara yang berdebur kerasnya. Semua itu cukup membuatku merasa gigil meskipun tempatku berdiri masihlah di dalam kamarku.

Sudah sekian menit yang entah aku berdiri di jendela yang kacanya tak kubuka. Menatap curahan hujan yang berkejar-kejaran satu sama lain menggenang jalan. Aku sendiri sudah rapi. Dengan setelan ke kantor aku siap pergi sebenarnya. Sebenarnya bila tak hujan.

Mungkin hujan mengejek atau malah merayakan, itu yang jadi pikirku sejak aku mulai berdiri di jendela kamarku untuk sekian menit yang entah. Mengejek tentang kesialan yang baru aku alami atau malah merayakan kesialan itu.

Hujan masih deras. Aku semakin malas. Adakah bisa aku memakai jatah cuti karena alasan penting untuk hal ini? Tentu tidak, kantor manapun aku rasa tidak mengenal cuti tidak masuk kantor karena alasan hujan. Apalagi dibalik itu. Hujan hanya dijadikan alasan.

Hati yang patah. Cita-cita yang hancur. Jiwa yang hilang semangat itulah sebenarnya alasan dibalik enggannya aku pergi bekerja. Aku jadi berpikir, adakah kantor yang mau memberikan cuti patah hati pada karyawannya?

Hujan masih deras. Aku masih berdiri yang sudah makin banyak saja waktu kuhabiskan dengan sia-sia. Jariku memainkan sebuah cincin yang telah bersemayam di jari manis kiriku selama setahun ini. Harus kuapakan cincin ini? Membuangnya? Menjualnya? Mengembalikannya? Atau menyimpannya?

Jelas cincin ini tak perlu lagi kupakai, karena lelaki yang memberikannya dengan jelas dan tegas telah mengatakan bahwa semuanya telah berakhir. Iya. Kemarin di Minggu sore ia memutuskan hubungan dengan sepihak. Lalu belum habis air mata yang kukeluarkan akibat patah hati, deringan teleponku malah memberitahu, kabar tak kalah buruk.

Semalam Rendi ditemukan tewas akibat kecelakaan ketika ia tengah menyetir di jalan lintas Propinsi. Ia tewas bersama seorang wanita yang pergi bersamanya di mobil itu. Mungkin dialah wanita yang membuat Rendi memuuskanku. Mungkin. Entahlah.

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Aku menghentikan aktivitasku di pinggir jendela. Kuambil jaketku dan payung yang terletak di sebelah rak sepatu di kamarku. Aku akan pergi bekerja. Iya. Sudah terlambat memang. Tapi biar saja aku beralasan apa yang entah. Aku sama sekali tak berniat pergi ke pemakaman Rendi. Aku tak mengantarnya. Untuk apa? Toh iya pergi dengan seorang teman. Jadi aku tak perlu mengantarnya. Biar mereka pergi dengan tenang melalui perjalanan berikutnya.

Hujan hari ini entah mengejekku entah merayakan kesialanku. Apapun alasannya yang entah, aku yakin hujan ini akan berhenti, meskipun pada waktu yang entah.

Lanjutkan Tidur

Saya bertanya-tanya, siapa sih di dunia ini yang disiplin banget hingga ketika tiba bunyi alarm maka ia langsung bangun dan siap menyongsong hari. Saya sih, pasti akan menekan tombol ‘snooze’ dulu sebelum siap ikhlas bangkit dari tempat tidur. Malahan, saya ini sengaja banget membuat alarm lebih cepet 15 menit dari seharusnya, hingga saya punya waktu 15 menit untuk antara sadar dan tidak sadar selama kurun waktu itu untuk menekan tombol snooze beberapa kali. Biasanya saya setel bunyi alarm tiap 5 menit setelah waktunya.

Menyoal soal alarm dan begitu banyak sindiran tentang ‘menunda alarm’ saya tetiba teringat dengan masa kecil saya dulu. Lebih spesifiknya dengan jam weker.

index

Semasa SD hingga SMP saya sering menerima jam weker sebagai hadiah ulang tahun saya. Bentuknya ragam rupa. Saya punya banyak.

Jaman dulu (okay, saya tua) untuk bangun saya menggunakan weker. Saya setel sesuai kebutuhan lalu letakkan di meja yang jauh dari telinga karena bunyi tik tuk tik tuk perputaran jarum detiknya mengganggu bila malam telah senyap. Lalu… saat tiba waktunya dering weker membangunkan maka itu adalah saat-saat paling menjengkelkan. Bunyinya gak enak banget. Menganggu hingga ke penjuru rumah. Dan tidak akan mati bunyinya sebelum si empunya mematikannya. Untuk mematikannya harus bangkit dari tempat tidur dengan rasa kesal. Dan…. Jadilah mau gak mau memang harus bangun pada waktu yang telah ditetapkan. Dulu begitu. Dulu seusaha itu.

Sekarang… alarm bunyi. Snooze… lanjutkan tidur.

images

Episode 4 di Korea Selatan

Setelah turun naik turun naik subway dan naik turun naik turun tangga stasiun subway sampailah saya dan ketiga teman seperjalanan saya di suatu daerah bernama Ihwa Mural Village. Sebuah daerah perumahan yang kaya akan seni.

Objek wisata yang menjadi fokus di perumahan ini adalah disajikannya lukisan-lukisan dinding di hampir setiap rumah. Ragam macam gambar lukisannya yang pastinya cantik.

Sebelum mencapai perumahan ini kita harus ngos-ngosan dulu karena jalan menuju perumahannya nanjak gak nyantai banget. Udah samalah kayak naik gunung (oke, lebay). Saya sih capek banget dan nyaris sesak napas, tapi gitu liat orang-orang penduduk aslinya pada jalan gak pake emosi saya mah gengsi. Langsung berjalan tegap meski ini lelah.

Oke ini poto-potonya.

IMG_7784

 

 

 

 

 

 

 

IMG_7791

 

 

 

 

IMG_7764IMG_7795cats

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini tangga yang dilukis. Mantap ya? Rajin banget mereka ini.

IMG_7770

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini spot poto favorit. Ngantri dan gak bisa lama-lama berpose kalau gak mau dijudesin sama turis lain. Saat saya ngambil pose di sini saya rebutan dulu ama turis China, dan ya… saya menang.

IMG_7224

 

 

 

 

 

 

 

 

before i die

 

 

 

 

 

 

Dinding penuh tulisan berjudul “Before I die” spot poto yang keren dan menjadi favorit saya. Sebelum otak saya ngeh, saya pikir ini tadinya kumpulan rumus-rumus kayak di papan tulis SMA untuk pelajaran Fisika. Eh… ternyata ini semacam kumpulan curhatan orang-orang yang ingin melakukan apa sebelum mereka mati.

Saya juga pengen ikutan. Etapi… jangankan spidol, pensil pun gak bawa. Jadinya saya gak bisa deh menuangkan ‘Dream List’ saya yang jumlahnya 173 item per 1 November 2014. Saya gak inget lagi apa-apa tulisan –yang beralfabet tentu saja– orang-orang di dinding itu, yang pasti seputar mimpi dan pengharapanlah.

20141108_113413

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Okay… mari kita go go dari sini dan melanjutkan perjalanan selanjutnya.

IMG_7816

 

 

 

 

 

 

20141108_122106

 

 

 

 

 

 

 

IMG_7822

 

 

 

 

 

Saya heran apa yang ada di pikirin orang Korea tentang pup. Iya tai. Apakah menurut mereka itu lucu? menggemaskan? unik? atau apa?

hingga mereka membuat ini.

IMG_7823

 

 

 

 

 

Bahkan pernah saya melihat ada sebuah kios yang menjual makanan dengan bentuk tai lengkap dengan warnanya yang kuning kecoklatan. Kue loh. Buat dimakan loh. Kenapa bentuknya harus hal yang menjijikkan kan?

Baiklah. Lupakan tentang tai dan mari kita ke Gyeongbokgung Palace

20141108_131534

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jangan pernah berharap bisa ngambil pose cantik di sini dengan latar gerbang istana tanpa manusia satupun. Gambar-gambar di iklan pariwisata mereka (Korea) yang bisa menampilkan gerbang ini utuh tanpa manusianya hanya Tuhan dan potograpernyalah yang tau kapan diambilnya dan bagaimana tekniknya.

20141108_133209

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar di bawah ini yang menjadi latar saya adalah Istana Raja mungkin. Kenapa pake mungkin? karena saya gak tau apa arti tulisan yang dipajang di atasnya dan saya gak ikut tim pemandu wisata yang hanya punya subtitle Korea, China, Jepang dan English. Gak ada subtitle Indonesia masa….

 

20141108_134353

 

 

 

 

 

 

 

Kenapa saya pede bilang Istana Raja? karena di dalamnya ada singgasananya.

20141108_134018

 

 

 

 

 

 

 

Ini potonya dari jendela yang tampak terbuka di poto sebelum ini. Gak boleh masuk. Dan seinget saya cuma inilah istana yang diperlihatkan isi dalamnya. Yang lainnya ya…. cuma nengok-nengok luarnya saja. Semua tampak sama menurut saya. Makanya saya males poto-poto bangunan yang mirip-mirip ini.

Paling di antara semua bangunan yang tampak mirip itu saya penasaran banget gimana bentuk kamar mandi plus toiletnya. Tapi ya… mau gimana, gak ada petunjuk yang menggunakan English sih.

Yang bikin kesel, karena gak bisa melihat isi dalam istana-istana dan bangunan yang mirip-mirip ini. Melihat kenyataan ini saya jadi teringat dengan situs sejarah di kampung saya, Aceh. Rumah Aceh dan Rumah Cut Nyak Dhien misalnya. Kita bisa melihat puas gimana bentuk rumahnya plus bisa berjalan di dalam rumah itu untuk melihat-lihat kamar tidurnya, dapurnya, ruang tamunya hingga kamar pembantunya. Pokoknya rasa penasaran kita terpuaskan dan rasa-rasanya kita seperti berada di waktu dulu. Melintasi waktu dengan pemandangan yang ditangkap mata.

Oke. Balik lagi.

Gyeongbukgong ini luas banget. Karena keterbatasan waktu dan uang jadinya kami hanya melintasi area Gyeonbukgong Palace ini saja yang kalau gak salah bayarnya 12.000 won atau 15.000 won gitu deh. Aaaah… saya lupa.

Totalnya kalau tidak salah ada tiga istana yang bisa dijadikan agenda tur. Tapi satu area Gyeongbukgong Palace aja udah luas pake banget.

Ini poto-poto di area Gyeongbukgong Palace selain pemandangan istana.

IMG_7428

Photo was taken by Carina Adhitia

 

 

 

 

 

 

Processed with VSCOcam with f2 preset

Photo was taken by Carina Adhitia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20141108_143539

 

 

 

 

 

 

 

20141108_144247

udah capek, bobok cantik dulu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20141108_151842

Suci in action. Dia lagi moto Rizka

 

 

 

 

 

 

20141108_152132

Gantian. Rizka motoin Suci,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abis dari sini kami ke Insadong. Suatu pasar yang mirip ama Myeongdong Market. Tempat jualan barang-barang untuk oleh-oleh. Tapi tempatnya lebih bagus dan cantik ketimbang Myeongdong Market yang beserak tak tentu.

Saya gak ambil poto di sini karena sibuk belanja. Tangan penuh dengan belanjaan jadinya gak bisa pegang kamera.

Saat perut mulai lapar dan mencari makan, saya nemu ini di salah satu tempat di area perbelanjaan ini.

20141108_181728

 

 

 

 

 

 

Apapun itu (gambar di atas) saya yakin ini maksudnya sama kayak Gembok Cinta di Namsan Tower. Orang Korea gemar banget ya ginian kayaknya.

Di Insadong ada Restoran India Halal. Aseeek… makan normal lagi akhirnya. Cuma nyampe di dalam restoran mood makan saya langsung hilang. Aroma kari yang pekat khas India membuat saya mual. Pilihan menunya juga gak membuat saya semangat. jadilah pilihan saya jatuh ke Nasi Goreng Sayur saja.

20141108_193703

 

 

 

 

 

 

 

Minumnya air putih aja, sama kayak di Nami Island. Gak ada menu untuk minuman. Lagian nasi goreng gituan aja harganya nyaris Rp100.000. E buset… mahal bingit kan?

Setelah makan kami lanjutkan belanja. Kesimpulan saya belanja di sini adalah harganya lebih mahal 1000-2000 won ketimbang belanja di Myeongdong. Akan tetapi lokasinya lebih enak, ditambah lagi ada atraksi dari penjual eskrim asal Turki yang cukup menghibur setelah lelahnya berjalan menyusuri pertokoan.

Dan… capek. Mari balik ke Hostel.

Pada Suatu Hari

Pada suatu hari saya pernah disuruh mengarang cerita oleh guru SD saya. Karangan tentang apa yang telah dilakukan selama liburan untuk mengisi waktu. Saat itu (masa SD), saya seperti kebanyakan orang lainnya, membenci mengarang. Bukan hanya tangan yang capek yang menjadi alasan karena harus nulis berlembar-lembar, namun saya juga benci karena saya tidak tahu harus memulai dari mana selain menggunakan kata-kata “Pada suatu hari…” atau “Pada hari Minggu…”

Kini… saya heran kenapa pula dulunya saya bisa begitu tidak kreatifnya memilih kata-kata pembuka karangan. Juga tertawa betapa dulu saya konyol, saya tau saya bosan memulainya dengan kata-kata basi itu tapi saya tak juga menemukan cara bagaimana memulai karangan dengan kata lain.

Pada hari ini saya dapati diri saya menjadi orang yang menjadikan kegiatan menulis menjadi hobi. Mendapati saya dapat memulai cerita atau tulisan dengan beragam kata yang terdapat di kamus. Tidak lagi melulu “Pada suatu hari…” atau “Pada hari Minggu…”

Dan demi mengenang momen saat masih menjadi bocah ingusan (meskipun saya tidak selalu beringus), saya hadirkan tulisan ini. Tulisan yang saya mulai dengan kata pembuka basi.

Pada suatu hari kita memang berubah. Kita belajar. Kita berproses. Hingga akhirnya pada suatu masa kita dapati diri kita menjadi lebih baik dari yang dulu.

Pada suatu hari saya pernah disuruh mengarang cerita oleh guru SD saya. Karangan tentang apa yang telah dilakukan selama liburan untuk mengisi waktu. Saat itu (masa SD), saya seperti kebanyakan orang lainnya, membenci mengarang. Bukan hanya tangan yang capek yang menjadi alasan karena harus nulis berlembar-lembar, namun saya juga benci karena saya tidak tahu harus memulai dari mana selain menggunakan kata-kata “Pada suatu hari…” atau “Pada hari Minggu…”
Kini… saya heran kenapa pula dulunya saya bisa begitu tidak kreatifnya memilih kata-kata pembuka karangan. Juga tertawa betapa dulu saya konyol, saya tau saya bosan memulainya dengan kata-kata basi itu tapi saya tak juga menemukan cara bagaimana memulai karangan dengan kata lain.
Pada hari ini saya dapati diri saya menjadi orang yang menjadikan kegiatan menulis menjadi hobi. Mendapati saya dapat memulai cerita atau tulisan dengan beragam kata yang terdapat di kamus. Tidak lagi melulu “Pada suatu hari…” atau “Pada hari Minggu…”

Dan demi mengenang momen saat masih menjadi bocah ingusan (meskipun saya tidak selalu beringus), saya hadirkan tulisan ini. Tulisan yang saya mulai dengan kata pembuka basi.

Pada suatu hari kita memang berubah. Kita belajar. Kita berproses. Hingga akhirnya pada suatu masa kita dapati diri kita menjadi lebih baik dari yang dulu.

Sebuah kegagalan (menikah) di 2014

Hebatnya, di dunia ini ada kalimat “manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan-lah yang menentukan”. Jadinya saya gak perlu terlalu menanggung malu dan bisa bersembunyi sambil berkilah dibalik kalimat ini.

“Ini udah mau habis 2014-nya. Udah bisa tuh status di WA-nya diganti.”

“Masih ada 16 hari lagi jelang akhir tahun. Masih ada kemungkinan,” kelit saya saat itu.

Sebut saya ngotot, sebut optimis yang sudah di luar akal sehat. Tapi itulah saya.

Namun… Sekarang sudah tanggal 31 Desember. Saya belum juga menandatangani buku nikah saya. Cita-cita sirna, harapan kandas. Celotehan saya agar bisa menikah di tahun 2014 berlalu bersama kalender yang siap dibuang. Segera saya hapus status dengan bunyi “Ayooo dukung saya bisa menikah di tahun 2014” yang saya cantumkan di beberapa aplikasi chating dan akun media social. Status yang saya buat pada tanggal 1 Januari 2014. Status yang termaktub banyak harapan atasnya, banyak panjatan doa atasnya. Namun akhirnya menjadi status yang tak lebih dari sebuah bualan, karena doa yang belum diiyakan. Belum. Bukan tidak.

Gagal menikah di tahun 2014 cukup mengusik saya sebenarnya. Pertanyaan orang-orang atas apa kelanjutan dari cerita sebuah cincin yang terus terpajang manis di jari manis saya cukup mengganggu. Keusilan atas orang-orang yang membuat ciut hati saya yang mengatakan kalau saya harus bersiap tentang kemungkinan terburuk karena ditundanya menikah tidak seperti yang ditargetkan. Tunangan terlalu lama biasanya berakhir kandas, kata beberapa orang.

Namun, jangan panggil saya Intan kalau saya pesimis.

“Jadi.. kapan nikahnya, Kak?” tanya seorang teman seangkatan di kantor yang usianya lebih muda dari saya

“Tahun 2015.”

“Masih dengan tingkat kepercayaan diri yang sama seperti tahun 2014 ya?” tanyanya dibumbui sedikit sindiran.

“Perkataan adalah doa, Yun,”senyum saya PD.

“Iya. Masih bisa berharap banyak di 2015. Ada 365 hari di 2015.”

“Iya. Dan salah satu harinya harus jadi hari pernikahan kakak,” jawab saya.

“Aamiin…”

Kita akan membuang kalender lama dan saya juga harus menghapus semua status-status saya. Seperti kalender yang akan diganti dengan yang baru, maka status saya juga akan berganti dengan yang baru.

“Di tahun 2015 ada 365 hari. Salah satu harinya akan menjadi hari pernikahan saya.” Dengan rasa optimis yang bertambah, dengan harapan yang semakin besar, dengan lantunan doa yang makin banyak, saya ucapkan “Bismillah…”

Status update

Semoga di akhir tahun 2015 saya gak harus merasa de javu ya dengan menulis postingan berkisah sama berbeda waktu.

Hahahay…

It’s life…

Doakan saya ya.

Kita akan menikah, Bang. Di 2015. Lunasi hutangmu padaku :*