57 Menit

45 menit sudah saya duduk sendiri di sini. Tengah menunggu. Ice chocolate mint yang terletak di meja juga tengah menunggu. Menunggu untuk saya sentuh. Tapi setidaknya waktu tunggunya tak selama saya. Dia baru menunggu selama 25 menit. Saya 45 menit.

Untuk kali ketujuh belas saya kembali mengecek smartphone saya. Membuka aplikasi chating. Melihat last seen dari kontak seseorang. Last seen-nya 5 menit sebelum chating saya masuk.

Kembali dengan gelisah saya ketik lagi sebuah pesan.

Intan sudah menunggu.

Tanpa balasan darinya, saya kembali menekan dial suatu nomor. Tadi sudah tiga kali saya hubungi. Namun tak diangkat. Kali ini bukankah harusnya diangkat. Sudah 50 menit. Tidak masuk akal untuk suatu keterlambatan.

Assalamualaikum

Waalaikumsalam. Ini Intan. Sudah di mana?

Dia menjawab telepon saya setelah panggilan keempat. Untuk mengatakan dia tidak akan mau menemui saya di situ. Saya sudah menunggunya 53 menit sekarang. Katanya kalau saya ingin menemuinya saya harus pindah tempat. Minuman sudah saya pesan. Pandangan mata pengunjung lainnya sudah begitu penasaran dengan kehadiran saya di situ malam-malam sendirian. Dan dia tidak mau datang ke sini.

Jangan tanya bagaimana perasaan saya. Saya sudah membujuknya. Meminta pengertiannya kalau saya tidak mungkin berpindah tempat. Dan dia bersikeras bila saya ingin menemuinya saya harus pindah.

Kenapa harus pindah?

Sudah menit ke 57 sekarang. Telepon sudah saya tutup dari tadi. Tidak mungkin berdebat di tempat umum di telepon. Harga diri saya gak mungkin saya jatuhkan berulang kali di tempat yang sama.

Jangan tanya betapa kecewanya saya.

Dia tidak datang. Ice chocolate mint tidak tersentuh. Saya tetap membayar tagihannya dan pulang.

Hati saya kembali patah. Tapi saya tetap harus berdiri tegap dan kembali pulang.

 

Terima kasih untuk tak pernah datang. Menunggu 57 menit mungkin suatu pertanda, bahwa saya tak perlu lagi membuang waktu untuk yang lebih lama untuk kamu. Cukup 57 menit.

 

Terima kasih.

Mematahhatikan tanpa membuang waktu saya.

 

 

Biar Seperti Orang-Orang

“Sekarang sih pergi kondangan harus cantik maksimal. Biar ada yang ngelirik.”

“Ada?” tantangku yakin jawabannya tidak.

“Gak.” Jawabnya tertunduk lesu. Saya tertawa. Dia juga tertawa. Kami tertawa.

“Kita dandan cantik. Pergi kondangan. Lalu berharap ada yang merhatiin kita dari jauh lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Gak ada itu sih,” saya balas.

“Iya. Di novel-novel aja itu sih adanya. Lalu kisah cinta semasa kecil. Suka dari kanak-kanak lalu jatuh cinta ketika dewasa dan menikah. Drama doang itu sih. Novel aja.”

Saya tertawa, “Iya. Aslinya gak ada yang kayak gitu di kehidupan nyata.”

“Iya. Gak ada. Novel doang,” dia bersikeras.

“Mungkin karena kita kebanyakan baca novel, Ka. Jadi mengkhayal deh.”

“Mungkin, sih.” Jawabnya males.

 

Iya. Kisah bertemu tak sengaja di keramaian lalu jatuh cinta pada pandangan pertama sebab kita tampil cantik dan anggun itu gak nyata.

Kisah cinta semasa kecil yang terus tumbuh hingga dewasa lalu menikah juga palsu.

Kisah jatuh cinta sebab tak sengaja bertemu dengan orang yang tepat ketika di pesawat juga gak ada.

Disapa lelaki keren ketika sedang duduk cantik di coffe shop drama banget.

Semua itu gak ada di dunia nyata. Kenyataan gak semanis romantis itu.

 

Akhirnya kita pakai cara klasik. Menambahkan akun sosial media seseorang lalu berkenalan via japri.

Atau minta dikenalin sama temen.

Atau minta pin bb perempuan single.

Atau malu-malu tapi mau minta dikenalin sama si bos oleh  ponakannya yang tampan.

Atau dijodohin ortu.

Pake koneksi abang atau kakak.

Yaah semacam itulah.

Agar bisa kayak orang-orang. Menikah.

 

Saya Lamar!

Saya sedang jatuh cinta. Namun ini bukan jatuh cinta yang mudah. Lelaki yang saya jatuhi cinta mencintai perempuan lain. Tidak hanya itu, lelaki ini usianya terpaut jauh dari saya. Ketika dia tengah menikmati bandel-bandelnya masa SMA saya malah baru lahir.

Lelaki ini kocak nan aneh. Romantis yang ekslusif. Puitis dan unik. Lelaki ini mampu membuat saya tertawa dan senyum-senyum memikirkannya. Dan juga membuat perasaan saya begitu cemburu pada kekasihnya. Sungguh beruntung perempuan itu. Sial, dia bisa mendapatkan lelaki hebat begitu pikir saya.

Sudah saya katakan saya jartuh cinta. Namun ini bukan jatuh cinta yang mudah.

Sekali lagi. Tidak. Mudah. Tidak mudah.

Bukan hanya karena lelaki itu mencintai perempuan lain. Bukan hanya karena usia kami yang terpaut jauh. Namun lebih karena lelaki itu memang tidak bisa saya jangkau. Dia berada di luar batas jangkauan saya. Dia berada dalam ruang imajinasi. Dia hidup bernapaskan khayalan orang lain. Dia terpatri dalam kata-kata. Dia begitu ilusi.

Dia adalah Dilan.

 

Iya, dia bernama Dilan. Salah satu karakter fiksi karangan Pidi Baiq dalam sebuah novel berjudul: Dilan. Dia adalan Dilanku tahun 1990.

13084232_10204967266095902_432162233_n

Novel ini saya dapatkan hasil memeras seorang teman untuk dijadikan kado ulang tahun saya di tahun lalu. Novel keren yang sayang untuk dilewatkan. Dengan tutur bahasa ala-ala curhat karena memang begitulah sudut pandang yang ingin ditampilan, novel ini penuh dengan bahasa yang ringan.

Tokoh Dilan yang dilukiskan Pidi Baiq di novel ini dibuat dari sudut pandang Milea. Milea-lah yang dalam novel ini menceritakan bagaimana Dilan. Bagaimana Dilan menyukainya. Bagaimana cara Dilan PDKT dengannya. Bagaimana Dilan memberinya hadiah-hadiah.

Percakapan rayuan Dilan ke Milea sungguh lucu. Romantisnya kena, lucunya dapet. Romantis dan lucu dijadikan satu. Rasanya kayak makan oreo dicelupin ke susu.

Saya tidak bisa berhenti ketawa ketika Dilan menghadiahi Milea TTS yang sudah diisi semua sebagai kado ulang tahun buat Milea. Katanya, TTS-nya diisi supaya Milea gak usah susah lagi capek-capek ngisinya. Mungkin maksud Dilan, ini namanya pengorbanan.

“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti besoknya, orang itu akan hilang.”

Tidak hanya itu kelucuan Dilan kepada Milea. Banyak. Milea saja tidak habis pikir dan tidak berhenti ketawa. Lah, saya apalagi. Seru. Dilan itu seru. Begitu kata Milea yang juga saya aminkan.

Dilan adalah sesesok lelaki perhatian, penghibur, lucu dan romantis yang juga jago bikin puisi. Tidak jatuh cinta kepada Dilan? Bagaimana bisa?

Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja. (Dilan 1990)

Ya… tentu saja Milea yang dengan mudahnya jatuh cinta pada semua aksinya Dilan juga membuat saya jatuh cinta pada Dilan. Jatuh cinta pada Dilan adalah sebuah keniscayaan. Lelaki seperti itu langka. Jarang.

Dan bila saya ketemu lelaki seperti Dilan di dunia nyata. Tahukah kamu apa yang saya lakukan?

Akan saya lamar!

Seperti komentar salah seorang Pak-Bapak yang pernah menjabat sebagai Pimpinan Cabang saya. Beliau bilang, dari cara saya berperilaku dan menulis maka dibutuhkan lelaki spesial yang mampu menangani saya.

Well, saya rasa orang itu mungkin haruslah seperti Dilan. Dilan kw ori bisa jugak.

Mi…

Mi, menjadi dewasa itu tidak mudah ya? Terlalu banyak yang menjadi pikiran. Terlalu banyak persoalan. Dan menghadapinya seorang diri aku tak mampu.

Mi, banyak waktu saat aku begitu letih dan gelisah aku ingin memelukmu. Bersandar di tubuh gempalmu. Meringkuk manja di pangkuanmu.

Mami…

Dunia kadang bisa begitu membuat resah. Orang-orang turut membuat sesak. Aku ingin dipeluk, Mi. Atau aku ingin kembali saja menjadi remaja, yang kerjanannya hanya baca komik yang membuat Mami murka. Karena aku rela begadang hingga jam 2 untuk baca komik.

Mami, tinggal berjauhan dan hanya bertemu di akhir pekan ternyata tak selalu menyenangkan. Memang aku selalu mengatakan ingin mandiri dan hidup sendiri. Namun tetap, sebagai seorang anak aku masih membutuhkan Mami. Masih ingin dipeluk dan diusap air matanya oleh Mami.

Mami…

Aku kangen.

Mami…

Aku ingin menangis.

Namun aku tak bisa menangis bila aku sedang tak ada di hadapanmu. Sudah beberapa kali kejadian bila aku menangis dan aku jauh dari Mami, itu hanya akan membuat Mami stress. Bahkan Mami bisa sampai tidak bisa makan.

Mami… sejak umur menginjak angka 25 hidup memang benar-benar menguji ketahanan dan ketangguhanku. Ketahanan dan ketertatihanku menghadapi peliknya hidup semua juga karena Mami. Mami yang rela aku sandarkan kepalaku di pangkuan Mami. Mami yang mau mendengar aku menangis dan saat aku berteriak marah. Mami yang sabar mengusap air mataku.

Mami..

Aku kangen.

Mami…

Dunia membuatku lelah.

Mami.. aku menangis. Sendiri. Saat ini sendiri dulu. Aku tak bisa menangis di telepon hingga membuatmu resah.

Akhir pekan nanti aku pulang. Ijinkan aku tidur di sebelahmu. Memeluk tubuh gempalmu. Menyandarkan kepala di bahumu. Menangis. Mungkin Mami juga akan ikut meneteskan air mata. Maafkan aku yang sudah setua ini masih meresahkan Mami. Mungkin aku akan selalu meresahkan Mami. Tapi aku tahu, cuma Mami tempat aku bisa melepaskan segala kesedihan. Kesedihan yang aku tutupi dari dunia.

Mami…

Aku kangen.

 

Kepatahhatianmu

Dan aku tahu. Kamu tengah patah hati. Terluka. Resah. Marah. Lelah. Namun aku bahagia.

Maafkan aku, Pujaan. Aku menikmati kepatahhatianmu. Aku bersuka atas dukamu. Aku tertawa di atas air matamu. Aku menari penuh harapan saat kamu meringkuk nelangsa.

Maafkan aku.

Pujaan…

Rasakanlah parahnya patah hatimu. Sedihlah dan berdarah-darahlah hingga lelah. Nikmati semampumu. Sekuatmu.

Aku di sini berbahagia akan kepatahhatianmu. Tengah berbunga, ber-asa. Aku memimpikan kelak akan menjadi nyata, pada suatu hari layaknya sebuah dongeng kita akan bertemu. Di sebuah jembatan yang didirikan dari rapalan doa-doaku mengharapkanmu.

Lalu saat kita bertemu, percayalah, aku bukan sekedar menjadi penyembuh hati yang lara. Aku akan lebih dari itu.

Menjadi alasan kamu merasa bahwa patah hatimu hari ini adalah sebuah yang setara kamu dapatkan terlebih dulu sebelum bertemu denganku.

Kelak, segala patah hati yang kamu rasakan, dan juga aku rasakan. Mengantarkan kita pada sebuah cerita cinta yang mampu mengalahkan segala legenda tentang cinta.

Sekarang menangislah. Biar aku rayakan kepatahhatianmu.

Memilih Suami (Part 4): 1/3

Saya pernah ditawari menikah dengan seorang lelaki. Iyalah. Lelaki. Namun tidak seperti kebanyakan lelaki yang mampir di hidup saya. Lelaki ini agak sedikit kurang beruntung secara finansial. Di saat sekarang saya dan teman-teman saya dilimpahkan rejeki finansial yang cukup. Saya agak merasa miris akan hidupnya. Ke mana ia buang usianya hingga masih berada pada posisi selevel fresh graduate?

Namun, ia lelaki baik. Agamis namun tidak humoris. Calon imam yang cocok untuk membimbing saya ke surga. Pikir saya. Jadilah saya mempertimbangkan tawarannya untuk menjadikan saya istrinya.

Dasar perempuan. Dasar juga saya yang perhitungan. Saya lalu ngambil kalkulator dan itung-itungan.

Gaji saya+ gaji dia       = aaah… masih terbilang cukup untuk hidup di aceh.

2

 

 

Bahkan pendapatan kami setelah dijumlahi dan dibagi dua itu sama hasilnya dengan kebanyakan penghasilan lelaki rata-rata yang bekerja di aceh dengan istrinya tidak bekerja. Bila mereka saja masih bisa hidup ya berarti saya juga.

Saya mantapkan hati saya untuk mengatakan iya. Atau mempertimbangkan mengatakan iya. Karena selain materi tentu saja saya harus lebih mengenalnya secara jauh. Kepribadiannya terutama. Karena saya gak mau terjebak dengan muka aja yang innocent tapi kelakuan bajingan.

Di tengah-tengah pertimbangan. Benak saya kembali ke perihal gajinya yang (maaf) hanya sepertiga dari penghasilan bulanan saya.

Lalu dengan jumawanya tetiba otak saya membuat suatu pertanyaan,

Entar kalau kami menikah apakah aku masih bisa beli lipstik tiap bulan ya? Atau apakah belanja lipstik harus dikurangi?”

Beberapa menit kemudian saya sontak kaget dengan pikiran saya sendiri. Bagaimana bisa saya membandingkan suatu pernikahan dengan lipstik. Kayaknya saya kebanyakan makan micin nih. Udah gak bener otak saya.

Cepat saya gelengkan kepala saya. Membuang pikiran itu jauh ke Tapak Tuan.

Tapi lalu…

Apakah iya, saya harus cukup punya lipstik satu sampai habis?”

Bisakah?

Saya seorang perempuan dewasa. Berusia 27 tahun. Memunyai karir. Hidup dengan perjuangan. Memiliki hobi membaca, menulis, jalan-jalan, makan, dan mencintai seseorang dengan setia.

Saya memunyai dua gelar di belakang nama yang kedua orang tua saya berikan. Nama saya bagus, begitu kata orang kebanyakan. Meski tidak pernah ber-ipk 4 dan gagal lulus cumlaude saya ini termasuk perempuan yang pintar. Memang masih kalah sama yang lainnya, tapi setidaknya saya gak bego banget.

Saya perempuan yang memiliki ambisi, cita-cita dan sangat tahu harus bagaimana menjalani hidup saya. Pun saya tahu pasti apa-apa yang ingin saya capai di kehidupan mendatang.

Saya memang lebih sering terlihat memakai sneaker ketimbang heels, tapi saya punya cukup banyak koleksi heels. Saya bisa jadi sering tampil tanpa alis yang tercetak sempurna. Tapi alat make-up saya tak kalah lengkap.

Saya boleh jadi tidak berdandan seperti perempuan-perempuan seumuran saya pada umumnya. Dengan sanggul kepala mengalahkan sanggul Cut Nyak Dhien. Dengan tas petak besar mentereng khas ibu pejabat. Dengan wedges setinggi 7 cm. Saya jauh dari itu. Saya lebih suka berpenampilan sedikit sporty. Tapi jangan kaget bila suatu ketika saya mampu tampil anggun dengan gaun dan heels. Itu saya.

Saya boleh jadi suka ngawur dan bercanda, tapi saya tahu jelas apa yang saya inginkan atau tidak inginkan. Saya boleh jadi suka ketawa ngakak dan kadang kekanakan tapi saya tahu harus bersikap bagaimana pada orang yang bagaimana.

Tutur kata bahasa saya baik. Saya sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Dalam percakapan melalui teks pun saya tidak alpa tanda baca. Saya pecandu aksara.

Dengan usia saya, dengan passion saya, dengan karakter saya, bagaimana bisa kamu menempatkan saya pada level yang begitu rendah? Dengan sikap saya yang tegas, bagaimana bisa kamu menaruh saya sejajar dengan anak SMP?

Kalau kamu mencintai saya. Cintai saya dengan usia saya, yang juga usia kamu. Kita bukan monyet. Jangan masuk dalam romansa cinta monyet khas anak SMP. Jangan meminta reremehan khas anak SMP. Usia kita telah terbang jauh dari angka belasan. Bisakah mencintai saya lebih berkelas? Karena mungkin kelak cintamu akan saya balas.