Kamu dan buku

Kamu tidak menjadi inspirasiku dalam bermain dengan kata-kata. Kamu tidak membayangi ketukan jemariku di keyboard. Kamu tidak menghidupkan imajinasiku.

Namun tanpa kamu…

Aku tidak bisa bercerita.

Kamu adalah kalimat dari aku yang kumpulan kata-kata. Kamu adalah paragraph dari aku yang hanya kalimat-kalimat. Kamu adalah cerita dari berlembar-lembar tulisan. Kamu adalah seutuhnya kisah dari pintalan-pintalan bahagia yang aku panjatkan. Kamu kesimpulan berupa dongeng yang aku harapkan.

 

Kamu adalah titik tempat aku mengembara menebar koma. Kamu adalah jawaban dari tanda tanya yang banyak. Kamu adalah tanda seru cinta yang aku coretkan cepat. Kamu adalah sumber titik dua tutup kurung. Kamu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilanku yang lengkap.

Kesimpulannya, kamu adalah keyboardku, Bang.

Maaf dari mau romantis malah jadi gagal fokus. Dan ini bukan lelucon gagal.

Aku hanya ingin mengatakan pada dunia. Bahwa, tanpamu. Ceritaku tak ada. Dongengku tak bersuara. Hidupku mati dalam tumpukan tanda kutip buatan orang.

 

Kamu adalah sumber kekuatanku membuat sebuah buku. Karena begitu riuh orang di luar sana menyuruhku menerbitkan bukuku sendiri. Padahal aku hanya penulis blog amatir. Namun bersamamu aku yakin, aku mampu membuat sebuah buku.

 

 

Ya… buku nikah.

Cincin

Siang itu saya mengunjungi toko emas langganan terkait urusan kerjaan. Pembicaraan kami random. Dari urusan kerjaan hingga bercanda. Dari tanya harga emas, tanya usia. Dari nego harga hingga ke pembicaraan soal cincin.

“Cincinnya kok gak dipake, Tan?”

Sontak saya melihat ke jari manis saya tempat sebuah cincin bernaung beberapa bulan ini. Cincin belah rotan pasir ditaksir perhiasan emas 23 karat berat 10 gram. Yang kalau bahasa pasarnya. Cincin 3 mayam mas murni. Cincin tersebut saya pesan di toko tersebut. Cincin yang digunakan pada acara pertunangan saya dengan seorang lelaki. Cincin yang mengikat saya, hati saya, pikiran saya hanya untuk satu lelaki saja. Dalam cincin itu bahkan terukir nama saya dan nama lelaki yang memberikan cincin itu.

“Oh.. iya.. Lupa, bang.”
“Emang dilepas-lepas ya?”

“Iya. Kalau di rumah gak pake. Lepas jam tangan ya lepas juga cincinnya. Jadi kadang lupa.”

“Gak nyaman ya?” tanya lelaki pemilik toko emas itu lagi.

“Iya.” Jawab saya simpel.

Berat cincin itu lumayan. Bagi perempuan yang tidak gemar memakai perhiasan seperti saya. cincin dengan berat 3 mayam (10 gram) itu lumayan bikin berat dan tidak nyaman. Selama ini paling berat saya pakai 2 mayam (6.6 gram). Bentuk cincin tersebut yang belah rotan padat juga cukup membuat keberadaan cincin tersebut amat terasa. Dan juga karena saya sedikit tahu tentang emas, makanya saya jarang memakai cincin tersebut, singkat kata cincin itu meski special namun kegunaannya sama seperti aksesoris saya lainnya.

“Ya udah, kalau gak nyaman balikin aja.”

“Balikin gimana, bang? Diganti bentuknya gitu sama abang?” saya bertanya polos.

“Balikin aja sama orangnya. Nanti abang kasih lain. Biar pake cincin yang abang kasih aja.”

“Haaa? Kok gitu?”

“Tadi katanya gak nyaman. Ya udah sama abang aja.”

“Bukaaaaaan… maksud Intan tu cincinnya yang bikin gak nyaman. Karena berat. Bukan sama orangnya.”

“Biasa, kalau lepas pake gitu tanda gak nyaman sama orangnya. Kalau lepas pakai gitu nantinya juga bakal terlepas. Cincinnya. Orangnya.”

Kalimat itu berhasil membuat “deg” di hati saya. gedebam “deg” itu membuat saya henyak seketika.

Nanti saya kisahkan kenapa kalimat tersebut membuat “deg” keras di hati saya. Di lain kisah. Lain hari.

“Oh… baiklah… mulai besok bakal Intan pake setiap hari cincinnya.”

“Ya gitu lah. Karena kalau intan gak mau cincin itu. Abang siap kasih cincin yang lain”

“Gak usah, bang. Gak usah repot-repot. Cincin dari abang lebih bikin gak nyaman.”

“Kenapa?”

“Cincin jadi istri ketiga. Mana mau Intan.” Jawab saya ketus.

Lalu kami tertawa.

Pulang dari sana. Pikiran banyak memenuhi kepala saya. Kalimat si toke emas itu. Kenyataan. Kekhawatiran.

Pulang ke rumah saya langsung menuju kotak perhiasan saya. Mengambil cincin itu. Memasangnya di jari manis saya. Lalu meski tidak nyaman, saya memakainya ketika mandi, ketika mencuci dan ketika apapun itu di rumah. Bahkan sampai ketika cuci muka dan muka saya terasa banget tergaret-garetnya. Saat pakai krim malam juga kulit wajah saya harus mengalami kebrutalan aksi cincin itu. Karena bertekstur pasir jadi lumayan bin wajah saya terasa terbaret-baret. Hingga saya bawa tidur.

 

Tidur saya yang nyenyak harus terhentikan ketika tangan saya dengan tidak sengaja menampar wajah saya sendiri. Cincin tersebut sukses membuat wajah saya terbaret dan jidat saya sakit karena hantaman dari tangan saya. Saya juga heran kenapa saya tidurnya bisa seaktif itu. Tapi dengan cincin tersebut membuat keaktifan tangan saya melukai wajah saya.

Demi esok pagi yang cerah. Saya terpaksa melepaskan cincin tersebut dan meletakannya di bawah bantal. Sebelum melanjutkan tidur. Saya bergumam.

“Bukan karena Intan gak nyaman sama abang, Intan lepasin cincinnya. Tapi karena cincinnya yang bikin gak nyaman.”

Padahal cincin itu dibuat sesuai model yang saya inginkan. Hanya saja, pas saya memesan cincin itu saya memang gak berniat untuk memakainya setiap saat setiap hari. 24 jam. Maka itu saya memilih bentuk itu. Kalau tau cincin tunangan itu meski dipakai setiap hari konon saya akan memilih cincin belah papan dengan berat 2 mayam saja.

 

Setelah itu setiap harinya ketika saya melihat nasabah saya memakai cincin bermayam-mayam di lebih dari 3 jarinya saya suka bergumam sendiri, “gak berat apa ya tangannya?”

Untungnya si abang tunangan bukan tipikal lelaki yang menuntut agar saya memakai cincin pemberiannya setiap hari. Memang saya usahakan untuk selalu ingat memakai cincin tersebut ketika bertemu dengannya. Namun bila saya terlupa ia tak bertanya apa-apa.

Cincin tersebut. Saya memang cepat menyerah untuk mempertahankannya dipakai setiap hari. Namun untuk yang memberikannya, semoga pikiran dan hati saya tetap teguh untuk tak pernah menyerah mempertahankannya.

img-20161223-wa0006.jpg

Kepatahhatian (2)

Menyambung tentang kepatahhatian cerita sebelumnya. Jalinan hubungan lain yang mampu membuat saya patah hati dan menangis pilu adalah ketika dihadapkan pada kelutnya romansa persahabatan.

Air mata saya pernah bercucuran berkali-kali tentang memercayai teman. Teman saya sedikit. Itu-itu saja. Namun yang itu-itu sajalah yang sudah mampu membuat saya cukup dan bahagia. Bila ada yang menyakiti, melupakan, dan meninggalkan saya yang saya rasakan adalah gedebam rasa sakit patah hati.

 

Belum lama ini. Saya pernah dikecewakan lagi oleh seseorang yang sangat saya percaya, sangat saya bela, sangat saya sayangi, sangat saya perlukan. Saya berpikir selama ini saya juga seperti itu di hatinya. Meskipun mungkin perasaan kami tidak sama banyak, namun entah kenapa saya yakin kalau dia menganggap saya sebagai salah satu temannya yang ia sayangi. Yang ia pedulikan dan ia ingat.

 

Namun.. layaknya cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin rasa perteman yang saya alami juga bertepuk sebelah tangan. Tangannya tak pernah menggenggam tangan saya sebagai salah satu temannya. Sahabatnya. Atau mungkin tidak lagi. pernah tapi itu dulu. Tahun lalu. Atau entah kapan berhentinya. Hanya dia yang tahu.

 

Saya malas menggangapnya hanya sebuah kesalahpahaman saja. Sebagai seorang yang hrausnya merasa teman harusnya kesalahpahaman itu tidak terjadi. Namun karena terjadi, saya menyadari satu hal.

Posisi saya tidak sehebat itu di dalam laman hati bertajuk “teman” miliknya.

Mungkin saya hanya tipikal teman yang biasa saja. Teman sekedar kenal. Tahu nama dan pernah beberapa kali nongkrong bareng. Sekedar itu saja. Cukup kita ketahui saja.

 

Dipatahhatikan oleh seorang teman seperti dia membuat surut rasa percaya saya. kikis rasa sayang saya. membludak amarah saya. Namun mengingat umur yang tidak lagi di era main engklek makan es goreng, maka saya memutuskan dan dengan pasti mengucapkan kalimat ini dari bibir saya kepadanya, “Saya gak bisa maksa kamu untuk menyukai dan berteman dengan saya. Saya akan mencoba untuk tahu diri. Mulai sekarang kita hanya akan menjadi teman biasa saja. Saya tidak mengatakan tidak akan bicara lagi pada kamu atau memutuskan hubungan. Namun, saya hanya akan berbicara padamu bila itu perlu saja.” Saya mengucapkan kalimat itu dengan kepalan tangan yang tergenggam. Kepalan tangan yang tergenggam guna menahan agar air mata tak jatuh. Kepalan tangan sekuat tenaga.

Meskipun melankolis untuk hal beginian, namun saya masih ingin terlihat kuat. Entah terlalu malu dengan usia masih merengek durja karena urusan pertemanan. Entah karena terlalu gengsi padanya dan seolah menunjukkan. Antara saya dia. Sayalah yang jatuh hati lebih dalam dalam hubungan pertemanan yang kami jalani selama beberapa tahun ini.

 

Akhirnya… siang itu. Setelah berbicara dalam atmosfir tak mengenakkan, saya pergi lebih dulu meninggalkan tempat itu. Meninggalkan dia. Meninggalkan apa-apa yang selama ini pernah kami jalani. Dalam suka, dalam duka. Dalam tawa, banyak canda. Dalam sulit dalam mudah.

 

Siang itu, dalam lirih, saya meminta Tuhan menghapus rasa sayang saya padanya. Meskipun sulit menghapus kenangan yang yang telah kami cetak dalam banyak poto-poto yang memenuhi memory, tapi saya ingin rasa kecewa saya cukup besar untuk menghapus rasa sayang, rasa peduli dan rasa kagum saya padanya.

 

Demi mengalihkan kepatahhatian, saya menghibur diri. Bahwa, tidaklah mengapa kehilangan seorang teman karena toh kelak hidup saya akan lebih ribet dan masalah akan lebih ruwet daripada dilupakan oleh seorang teman.

 

Iya… untuk hal hati yang telah saya percayakan pada suatu sosok. Untuk sosok yang telah saya patri dalam hati, saya memang lebay. Saya bisa merasakan patah hati dan terpuruk parah akibat dikecewakan.

Padahal ini hanya untuk urusan hubungan atasan-bawahan dan teman. Bagaimana lagi bila hati saya dipatahkan oleh pasangan saya. mungkin efeknya, akan-jauh—lebih-besar.

Kuserahkan Padamu

Tentang siapa yang lebih dulu jatuh hati. Itu aku.

Tentang siapa yang mencintai lebih. Aku jumawa.

Namun tentang siapa yang ingin bertahan sampai akhir. Itu kuserahkan padamu.

 

Coba ingat ingat lagi. Siapa yang lebih dulu memulai. Meskipun kamu yang duluan mendapatkan kontakku dan memulai sapaan hi juga pertanyaan penuh basa basi. Namun akulah yang memulai memercikkan sebuah letupan, agar hatimu berdetak bila muncul namaku dalam notifikasi ponselmu.

 

Coba kamu resapi. Meskipun kamu yang mengutarakan perasaan dan memanggilku sayang berkali-kali tanpa balasan serupa dariku. Namun akulah yang mati-matian memohon agar tak pergi kamu dariku. Agar tak jauh kamu di mataku.

 

Tentang siapa yang lebih dulu jatuh hati. Itu aku.

Tentang siapa yang mencintai lebih. Aku jumawa.

 

Namun aku sadari. Pengorbanan yang lebih itu ada pada tangguhnya hatimu. Kesabaran tiada habis itu ada pada luasnya hatimu. Pemaafan tiada henti itu ada pada bijaknya pribadimu.

Pada aku yang plin-plan. Suasana hatiku yang berwarna warni. Baik burukku. Pada cinta yang bertahan sampai akhir. Semua kuserahkan padamu. Kupasrahkan padamu.

 

Bertahanlan sampai akhir. Sampai akhirnya kita memulai kehidupan baru kita. Hari setelah ijab Kabul kamu lantangkan mantap.

Bertahanlan sampai akhir. Sampai lelah mulutku mengomel padamu karena karena sebagai suami kamu masih terus saja lupa. Dan sebagai istri aku masih terus tak puas.

Bertahanlah sampai akhir. Sampai anak-anak kita tak hanya menjadi sumber kebahagiaan kita namun juga sumber sakit kepalanya kita.

Bertahanlah sampai akhir. Sampai rambutku memutih, kulitku kisut dan mataku tak mampu lagi melihat jelas senyum malu-malumu.

Bertahanlah sampai akhir. Dari kita memulainya berdua. Mengakhirinya berdua. Lalu hingga salah satu dari kita lebih dulu menghadap-Nya. Untuk yang pertama mengucapkan terima kasih pada-Nya, atas diberikannya jodoh terbaik. Atas skenario indah yang Ia buat. Atas pertemuan kita yang dijembatani dari kepatahhati-kepatahhatian.

 

Tentang siapa yang ingin bertahan sampai akhir. Itu kuserahkan padamu.

 

Kepatahhatian (1)

Saya tipikal perempuan sensitif nan perasa. Iya. Boleh gak percaya. Boleh terbahak. Bebas. Muka jutek, nada bicara judes dan gaya serampangan gak cocok emang kalau mau mengaku hatinya ini sensitif dan mudah tersakiti.

 

Namun nyatanya, untuk beberapa hal saya bisa menangis haru. Meski menurut adik saya bahkan pilem india yang tingkat sedihnya level juarapun tak mampu membuat saya menitikkan air mata.

Saya orang yang tidak bisa dikecewakan. Tidak boleh ditinggalkan. Tidak suka dilupakan. Bila hati saya telah saya percayakan pada satu orang, lalu bilang orang tersebut mengkhianati saya. Hancurlah perasaan saya.

Ini tidak hanya soal asmara pada lawan jenis. Namun ini juga berlaku kasih sayang pada keluarga. Romantisme persahabatan. Dan hormat dan menghargai pada rekan kerja atau bos.

 

Saya ingin bercerita…

Tentang bagaimana sakit hati saya ketika saya mengetahui bos saya pernah lain di depan saya lain di belakang saya. Tentang bagaimana ia manis di depan saya namun menjelekkan di belakang saya. Dia adalah sosok yang saya hormati. Saya banggakan pada teman-teman sekantor yang lain. Amat sering saya memuja kelebihan, kehebatan, kepintaran dan kebaikan bos saya. Tentu saja untuk dibandingkan pada bos mereka. Intinya, pada bos itu saya jatuh hati. Jatuh hatinya seorang bawahan pada atasan. Sebuah kisah jatuh hati dalam sebuah keprofesional.

Untuk memastikan tidak ada pembaca yang menafsirkan metamofa saya dengan pikiran pendek lebih baik saya jelaskan. Maskud kata-kata “jatuh hati” di atas tidak sama seperti perasaan jatuh hati sama lawan jenis ya. Maksdunya hanya perasaan hormat dan kagum pada atasan.

Lanjut…

Lalu pada suatu ketika saya mengetahui suatu hal. Bahwa kejelekan saya sebagai anak buahnya pernah ia sebarluaskan pada semua orang. Semua orang kecuali saya. Disitu terhenyak kecewa saya. Pikir saya ia sosok bijaksana. Yang akan mengevaluasi kesalahan anak buahnya hanya demi kebaikan anak buahnya. Akan menegur langsung anak buahnya bukan membicarakan anak buahnya di belakang. Yang paling membuat saya menjadi seperti orang bodoh adalah saya tidak pernah benar-benar tahu kesalahan saya apa karena tidak pernah ditegur. Namun semua rekan sekantor mengetahui apa salah saya. Yang paling membuat saya terlihat konyol adalah tentang saya yang terus bertingkah semua baik-baik saja yang padahal tidak. Semua karena tidak pernah ada teguran atau peringatan atas apa yang saya lakukan. Yang lalu hanya saya terima adalah hukuman. Hukuman tanpa tahu salah saya apa.

Kecewa iya. Terluka sangat. Dan jangan tanya kepatahhatian apa yang saya rasakan. Rasa kepercayaan saya pada seseoang terus makin kikis makin tipis. Semuanya terasa sadis.

 

Sejak itu saya memandang curiga pada semua orang sekantor. Pindah ke kantor baru membuat saya seperti harus memasang tembok pertahanan untuk diri sendiri. Untuk tidak terlalu mudah percaya pada orang. Tidak terlalu kagum pada orang. Dan tidak usah terlalu dekat dengan atasan. Awalnya… saya jalani kehidupan di kantor dengan kepribadian robot. Diam bila tak perlu bicara. Menghindari keramaian dan manusia. Dan saya menatap mata-mata yang seolah memojokkan dan menyalahkan saya.

 

Butuh berbulan kemudian untuk move on dari patah hati. Untuk bisa menerima kekecewaan atas kepercayaan pada mantan bos. Hingga pada suatu pertemuan kantor ketika saya bertemu dia (si bos), saya bisa menjabat tangannya, menanyakan kabar, dan lalu mencandai satu sama lain seperti biasa. Seperti dulu. Kalau kata temen saya. saya udah baikan sama bos saya. Ya meskipun mantan bos saya gak tau saya marah padanya, seperti saya tidak tahu bahwa ia tak suka cara kerja saya. Tapi setidaknya saya sudah memaafkan. Memaafkan sakit hati yang ia ciptakan. Runtuhnya kagum saya padanya tak bisa saya bangun lagi.

 

Begitulah perasaan saya. begitulah sakit hatinya saya ketika dikecewakan seseorang ketika sosoknya telah saya pigura rapi di hati saya.

 

 

Kesunyian Beda Kelas

Tahun lalu saya masih ngekos di sebuah desa di Kabupaten yang berjarak 3 jam dari kota Banda Aceh. Di sana demi bisa mengumpulkan receh untuk mejeng di bandara dalam maupun luar negeri. Di sana untuk melangsungkan hidup. Di sana untuk tidak mendapatkan apa-apa kecuali kesendirian dan kesepian.

 

Mundur ke beberapa tahun silam. Tepat ketika saya masih berkutat dengan segala keruwetan dan keidealisan seorang mahasiswi, saya pernah memiliki suatu cita-cita. Kelak, bila telah menjadi dewasa saya ingin menjadi perempuan mandiri. Bekerja di suatu perusahaan, hidup mandiri jauh dari orang tua, dan menjalani serta bertanggung jawab dengan diri sendiri.

 

Bayangan kala itu merujuk ke penokohan suatu karakter di film holiwud. Seorang perempuan muda dewasa, cantik, pintar dengan karir cemerlang. Hidup single namun jumawa di kota besar dan tinggal sendiri di apartemen yang tidak terlalu besar namun tidak kumuh. Memunyai cukup uang untuk kesenangan sendiri. Berkutat dengan segala kesibukan kerja hingga lupa asmara. Pulang kerja ketika membuka pintu apartement yang didapati hanya sebuah kegelapan namun kesunyian yang dirindukan setelah seharian penat dengan tumpukan kerjaan dan klien. Menyiapkan makan malam ditemani suara TV yang menyiarkan entah itu siaran komedi atau berita yang isinya entah apa. Hanya diperlukan kebisingan untuk menemani proses memasak spageti instan lalu segera memakannya. Setelah itu, mandi dan mengakhiri hari dengan tidur tenang nyaman seorang diri.

Yang saya narasikan di atas adalah sebuah kehidupan yang sempat saya cita-citakan. Sebuah pencapaian hidup menurut saya. Namun, memang Tuhan maha baik. Ia berikan kehidupan yang saya inginkan tersebut untuk saya jalani. Sama namun beda kelas.

Nyatanya….

Menjadi perempuan dewasa iya. Cantik ya dipaksain dengan fitur kamera hp dan perawatan wajah menguras dompet. Pintar, ya gak bisa dibilang bodoh juga. Karir cemerlang? Ya udah syukur dapat kerjaan. Tinggal mandiri jauh dari keluarga, iya banget. Namun bukan di apartement bagus, melainkan kos-kosan tanpa ventilasi yang baik di sebuah desa yang tidak ada keriuhan dan kepikukan sama sekali. Hidup single, iya banget. Memunyai cukup uang iya sih. Namun yang berbeda adalah sensasi pulang kantor. saya pikir, ketika membuka pintu dan mencumbu kegelapans aya akan merasakan kebebasan dan kenyamanan. Nyatanya, ketika pintu kosan saya buka setiap saya pulang kerja, yang saya temui adalah kehampaan dan kesepian yang memilukan. Yang bila diresapi membuat saya jatuh nelangsa dan terus bertanya, “ngapain saya harus membuang waktu saya di desa ini? Sedangkan orang-orang desa ini malah merantau ke kota tempat tinggal saya atau bahkan luar kota dan luar negeri?”

Iya. Pulang ke kosan setiap harinya itu menjadi hal terburuk. Sepi dan sunyi bukan sebuah kemewahan yang seperti selama ini saya pikirkan. Pulang ke kosan bukannya masak, malah menyurutkan nafsu makan saya. terlalu banyak malam saya lewati tanpa makan malam. Terlalu banyak malam saya merasa menyesal pernah ingin hidup sendiri jauh dari rumah. Terlalu banyak malam saya pikirkan dalam sepi kalau Tuhan memang mewujdukan doa saya. namun saya lupa mengatakan kalau maksudnya saya itu ingin tinggalnya di kota bukan di desa.

3 tahun hidup sendiri makan ditemani kipas angin dan ngobrol dengan dispenser cukup merusak otak saya hingga akhirnya sebelum otak saya rusak parah saya memutuskan:

 

NIKAH ENAK KALI YAK.

 

 

To be cont…

Hari tentang doa yang masih sama

Tiga bulan yang lalu usia saya telah sampai ke angka dua yang di belakangnya sudah banyak. Ke umur duapuluh yang ampir dekat ke angka tiga puluh. Di mana krim anti aging makin rutin saya pakai. Di mana kehilangan tabir surya lebih bikin saya sewot ketimbang kehilangan pacar.

Ulang tahun kemarin berlalu  biasa. Penambahan umur seperti seharusnya. Ucapan-ucapan yang biasa disertai iringan doa yang masih sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi.

Klasik.

Semoga jodoh saya disegerakan.

Dan sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi, balasan aamiin dengan khidmat saya lantunkan. Agar semesta mendengarkan meski suara saya terlalu sayup.

Tulisan tematik mengenai ulang tahun say,a memang berniat saya tuliskan. Karena entah sejak usia berapa, tulisan mengenai penambahan umur rutin saya tulis meskipun terkadang telat. Bahkan telat sebulan. Ini telat 3 bulan malah.

Ya… mengenai jarang nulis ini, bukan saya aja kok yang ngalamin. Bloger-bloger kece favorite saya juga blognya lama yang hiatus. Setahun posting Cuma 3 tulisan. Atau malah ada yang memang sudah menutup blognya. Entah karena ngeblog tidak seheboh dulu lagi. Entah para blogger yang semakin banyak urusan dunia yang mesti dibenahi.

 

Untuk saya, males dan lebih suka nonton streaming drama korea.

 

Minggu lalu, seluruh pegawai di kantor saya nongkrong cantik di sebuah kafe nge-hits di Banda Aceh. Ngobrol ngalor ngidul. Begosip ini itu. Sesekali bahas OSL dan target. Sesekali adu-aduan NPL. Entahlah…

Hingga ke percakapan tentang bunga. Tentang rangkaian bunga super besar yang diberikan rekan kerja saya ke kekasihnya yang wisuda. Lalu ditimpali dengan rangkaian bunga tak kalah aduhai dari seseorang untuk rekan satu kantor kami. Buket bunga ulang tahun. Yang jumlah mawarnya setara dengan usia dia. 22 tangkai untuk ulang tahun ke 22.

Lalu tetiba saya ingat. Ulang tahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu saya juga diberikan rangkaian bunga mawar oleh seseorang.  Namun jumlah tangkai mawar segar berwarna merah seperti warna kesukaan saya itu tidak menunjukkan jumlah usia saya.

Jumlah tangkai mawar itu hanya 4. Sedangkan usia saya  7  kali lipatnya.

Namun meskipun hanya berjumlah 4 tangkai, tidak membuat saya sirik dengan rekan saya yang berjumlah 22 tangkai. Saya malah senyum geli sendiri dengan bunga tersebut. Hingga sore itu ingatan saya melayang ke hari saya menerima bunga mawar ulang tahun saya.

 

Itu kali pertama saya diberikan bunga. Oleh lelaki pula. Di ulang tahun saya pula.

Apa masih harus saya tidak bersyukur?

Meskipun saya bukan tipikal pecinta bunga. Dan bukan tim perempuan sumringah dikasih bunga saat ulang tahun. Namun, hari itu saya senang. Saya bahagia.

Sesuatu yang pertama memang mampu menjadikan suatu hal spesial. Mendapatkan bunga untuk pertama kalinya memang sukses membuat saya merasa itu ulang tahun yang spesial. Ulang tahun yang saya anggap biasa namun berbeda.

Rangkaian bunga mawar saya yang sederhana membuat senyum saya terkembang hari itu. Diberikan oleh seorang lelaki spesial. Lelaki yang sungguh saya tak menyangka mampu memberikan saya bunga.

Karena awalnya saya udah pasrah dia bakal biasa aja di hari ulang tahun saya. Kalau dia lupapun saya gak bisa marah. Karena memang tipikal lelaki yang seperti itu. Bukan lelaki romantis namun dia klimis.

 

Saya memang gak menganggap bunga sebagai salah satu hadiah yang cocok buat saya. Saya lebih memilih diberikan sepasang sepatu, buku, atau tiket pesawat PP ke Turki. Atau dikasih combo ketiganya malah saya gak mampu nolak. Namun bunga ulang tahun kemarin cukup mampu membuat saya merasa kalau saya ini ternyata perempuan juga. Dan bersyukur lelaki klimis ini mengganggap saya perempuan dan layak mendapatkan bunga mawar berwarna merah.

 

Yah.. meskipun setelah puas saya menimang bunga tersebut saya sibuk mencari-cari apakah ada bingkisan lainnya sebagai kado ulang tahun saya. Syukurnya ada. Karena kalau tidak, apalah arti ulang tahun tanpa kado yang menyenangkan hati. Yang berharga, bernilai dan bisa dipakai. Bukan Cuma bunga yang dipajang beberapa hari lalu layu terbuang.

Hahaha… iya. Itulah kenapa saya kurang sreg ama bunga. Nilai ekonomisnya terlalu cepat menyusut. Hilang lalu dibuang.

 

 

Jadi, ulangtahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu. Di doa-doa yang dipanjatkan rekan, sahabat, dan keluarga yang mengharapkan agar jodoh saya mendekat dan ijab terucap cepat demi acara pernikahan yang akan dihelat. Saya berharap, doa itu mampu menembus langit. Diijabah oleh-Nya. Menjadikan saya dan lelaki klimis itu sepasang. Sepasang di dunia dan akhirat. Agar kelak, doa soal jodoh terhenti tahun ini. Agar rekan, sahabat, dan kerabat mampu mengimajinasikan untaian doa lainnya lagi untuk saya tahun depan.

 

Ketik Aamiin atau Like di kolom komentar, tapi gak menjamin kamu masuk surga sih.