Dongeng

Karena setiap perempuan memunyai dongeng rekaan milik mereka sendiri. Terutama dongen tentang cinta.

 

Demi melihat alasan kenapa sesosok Fedi Nuril mampu mematahhatikan perempuan se-Indonesia yang katanya Raya, maka saya menonton film Surga yang Tak Dirindukan. Pemerannya selain abang Fedi Nuril juga ada Laudya Cinthia Bella dan Raline Shah.

Agak seperti film ayat-ayat cinta di mana abang Fedi Nuril punya istri 2. Film Surga yang Tak Dirindukan juga mengisahkan Bang Fedi Nuril punya istri 2. Satu karena cinta, satu karena terpaksa demi menolong orang lain.

Saya sih setuju ama argumen Arini (Bella) yang menyatakan, kalau mau nolong kenapa juga mesti dinikahin? Iya, kan. Nolong sih nolong aja. Gak usah pake ada janji-janji nikah deh.

Takutnya nih, sekarang akibat nonton itu pilem banyak perempuan baper Indonesia yang nekad terjun dari lantai gedung tinggi demi ngarep ada yang bujuk-bujuk untuk jangan lompat dengan iming-iming dinikahin.

Oh itu gak mungkin yak? Palingan Cuma saya aja ya yang ujug-ujug pengen belagak bunuh diri supaya ada yang ngelamar.

Wuih.. sadar, Tan. Itu mah Cuma pilem. Pilem doang. Jangan ngarep ada sosok KW-an fedi Nuril yang bakalan baik hati nikahin orang yang mau bunuh diri.

Ada pernyataan yang saya suka dari Arini ketika marah-marah sambil nangis menghujat Meirose (Raline Shah)

“Kamu telah berhasil menghancurkan dongeng saya, untuk menghidupkan dongeng kamu.”

 

Pada kalimat itu saya takjub. Pertama, takjubnya saya melihat ada dua perempuan berparas cantik dalam satu scene. Mungkin kalau cowok yang nonton bakal bingung ngebela siapa. Arini atau Meirose.

Kedua, tetiba waktu terasa membeku. Otak saya berkejaran ke belakang. Memory saya menangkap suatu masa di mana ketika…

 

Dongeng milik saya hancur.

 

 

Seorang gadis dari keluarga sederhana. Berparas biasa. Berstatus sosial rata-rata dengan tingkat ekonomi standar. Ditemukan oleh keluarga terpandang. Dipinang oleh lelaki tampan, mapan dan matang. Didoakan agar menjadi sepasang dengan lelaki tampan. Menjadi perempuan beruntung ala ala Cinderella.

 

Seperti itu dongeng saya. Dongeng yang bukan saya khayalkan. Namun dongeng nyata yang tercipta tiba-tiba untuk saya.

 

Lalu…

 

Petaka muncul. Pinangan dibatalkan. Kegusaran hati menghancurkan doa dan harapan. Menjadi sepasang tinggal kenangan.

Dongeng saya dihancurkan oleh orang lain. Dengan sengaja.

 

Saya jadi berpikir. Apa memang mungkin dunia isinya begini. Dongeng milik kita akan menindih dongeng milik yang lain. Agar suatu dongeng milik kita berakhir bahagia kita harus menghancurkan dongen rekaan perempuan lain. Iyakah benar seperti itu?

 

Ingatan saya kembali ke beberapa tahun silam. Ketika dongeng saya belum tercipta. Kala itu saya diberikan kesempatan untuk memasuki dongeng indah yang seseorang ciptakan buat saya. Konsekuensinya ada dongeng perempuan lain yang hancur bila dongeng saya ingin tercipta.

Mungkin karena sang pangeran bukanlah pangeran impian. Maka dongeng itu saya abaikan. Tak tertarik rasanya menghacurkan dongeng milik orang lain hanya demi pangeran yang tak memikat hati.

Dengan demikian. Iyakah sebuah dongeng tercipta dengan menghancurkan dongeng orang lain?

 

Hidup sih memang begitu. Ada benang merah setiap kisah dari setiap manusia di dunia. Saya yakin itu. Keputusan A yang kita ambil bakal membuat hidup orang lain terjadi dengan cara berbeda. Keputusan orang lain juga akan berdampak pada jalan hidup kita. Karena kita terkait dengan benang merah takdir kehidupan.

 

Dongeng…

Mungkin ada perempuan beruntung yang dongengnya tercipta indah tanpa membuat dongeng perempuan lain hancur. Mungkin ada dongeng yang memang ditakdirkan sejati miliknya. Dan saya kebagian yang tidak. Dongeng saya hancur untuk menghidupkan dongeng perempuan lain.  Mungkin.

 

Namun demikian. Dongeng perempuan tetaplah abadi. Tetap hidup selama perempuan tersebut bernafas. Abadi dalam setiap harapan dan doanya setiap memulai hari. Maka itu, saya juga ingin optimis. Kelak, dongeng saya akan tercipta. Dongeng yang sejati hanya untuk saya. Dongeng yang tidak akan dihancurkan atau malah menghancurkan dongeng milik orang lain. Dongeng yang hanya akan melengkapi dongeng kisah hidup sang pangeran agar membuat akhir yang bahagia.

 

Karena meski bukan putri berparas jelita, setiap perempuan mengkhayalkan dongeng cintanya yang indah, yang megah.

Bye…

Hey… apa kabar? Apa efek setelah adanya teroris beberapa waktu lalu bagi kondisi mental dan fisik mu? Aku yakin tak mengapa bagimu. Karena bukan teroris yang kau takutkan melainkan kurs mata uang Indonesia yang melemah. Kalau akibat dari teroris maka mata uang Indonesia terus merosot aku yakin kamu pasti akan makin memaki-maki si teroris yang masih diragukan keterorisannya.

Aku masih mengingat betapa banyaknya kicauanmu saat kemarin Rupiah kita melemah. Rupiah melemah aja kamu sewot. Gimana kalau aku yang melemah? Melemah, tak berdaya, terkapar seperti saat keracunan karbon monoksida tempo hari, akankah sewot dan panikmu sama?

Maafkan aku tidak mengetahui kapan tanggal ulang tahunmu. Iya. Tidak tahu. Bukan lupa. Dalam ingatanku hanya bulannya saja yang kuketahui tidak beserta tanggal. Namun ketika aku semakin menyadari Januari semakin bergerak kian habis, kenapa ulang tahunmu belum juga muncul?

Maksudku.. di zaman media sosial semarak ini dan kamu begitu aktifnya di jejaring Path. Kenapa lelaguan ulang tahunmu tak bersuara. Maka, siang itu aku putuskan untuk kepoin akun media sosialmu. Mencari tahu kapan hari lahirmu.

Daan… maaf. Aku telat tiga hari. Maaf. Aku tidak memperlakukan ulang tahunmu layaknya kamu memperlakukan ulang tahunku. Maaf.

Jadi.. selamat ulang tahun, lelaki sombong. Ya.. aku memanggilmu begitu. oh.. tidak tepat begitu ya? Biarlah itu menjadi di antara kita saja karena aku tidak ingin mengumbar statusmu di blogku.

Selamat ulang tahun. Serta mulia dan bahagia. Hiduplah lebih bahagia dari hari yang lalu. Hari yang penat yang berhasil kamu lewati. Hiduplah lebih bersyukur pada-Nya. Bersyukur atas apa yang telah dan sedang terjadi pada hidupmu. Semoga rahmat dan anugerah-Nya terlimpah untukmu agar semakin tercapai segala ambisimu.

Ngomong-ngomong soal ambisi. Aku inget betapa ambisimulah yang sekarang menjadi prioritasmu. Aku tidak menghujatnya. Dalam sisi yang profesional aku malah mengagumi ambisimu dan mengganggap begitulah seharusnya lelaki.

Seharusnya…

Ohiya… masih ingat akan lamaran tiba-tibamu saat aku sedang membeli koper? Bukan belagak bodoh tapi awalnya aku memang tidak ngeh. Bagaimana bisa? Kenapa aku? Kok kita? Aneh. Sudah bingung mencari koper yang kece ditambah lagi bingung harus bereaksi bagaimana atas pernyataanmu. Tapi lalu sebuah kalimat, “Liburan aja dulu. Senang-senang dulu. Nanti aja jawabnya,” membuatku akhirnya mampu membuat keputusan. Ya.. keputusan tentang koper mana yang kupilih untuk kubeli.

Lalu deringan telepon darimu mulai kerap. Pesan whatsappmu kian banyak. Rayuanmu kian marak. Pertimbangan-pertimbanganku mulai nyata. Dan kita mulai menyatukan visi dan misi. Mensketsa masa depan. Menggubah masa lalu menjadi pelajaran masa akan datang. Menggoreskan mimpi. Lalu membuat keputusan.

Ambisimu. Toleransiku. Tak cocok.

Adakah yang lebih aneh dari dilamar dan ditolak oleh lekaki yang sama? Iya. Kamu yang melamarku, lalu setelah segala penjelasan dan penjelasan kamu malah menolakku ketika hampir kukatakan iya. Ketika aku memberikan toleransi demi terwujudnya ambisimu. Lalu bahkan toleransiku belum cukup untuk ambisimu.

Dilamar dan ditolak oleh lelaki yang sama. Aneh.

Akhirnya kita menyerah. Aku lelah. Kamu berlalu. Aku tak menyalahkan jarak atau ambisimu. Aku juga tak menghujat Tuhan. Aku hanya menganggap takdir jodoh tidak menyinggungkan perasaanmu pada perasaanku. Kita tidak berjodoh.

Maka.. biarlah kita hanya terus menjadi teman. Teman dari SD hingga sekarang. Teman yang melulu bertemu di sekolah yang sama. SD, SMP, SMA, hingga kuliah di kampus yang sama. Biarlah kita terus seperti itu. Biarlah aku tetap menyebutmu teman SD. Atau teman kampus.

Dan ya.. sosok kawan ngajak kawin tidak ternobatkan untuk kamu padaku.

Iya.. begitu saja.

Jadi.. sekali lagi. Selamat Ulang Tahun. Sehat-sehat dan berbahagialah di sana. Ingat shalat, ingat Tuhan. Teruslah bekerja keras dan menjadi kaya raya namun tak lupa sedekah. Jadilah seorang lelaki yang baik dan temukan jodohmu.

Jangan khawatirkan aku. Bila pun masih tak tertebak kapan aku akan menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang harus merasa beruntung. Pada masa penantian itu, aku akan baik-baik saja. Tetap optimis dan semakin cantik. Kamu jangan pernah menyesali yang telah berlalu. Bukan mendendam, seperti tak ada pisang berbuah dua kali. Tak ada pula lamaran yang kuterima dua kali dari lelaki yang sama.

Ohiya. Sepasang sepatu hadiah ulang tahun darimu untukku September lalu mungkin akan selalu jadi alarm. Setiap kali kupakai otomatis benakku akan teringat padamu. Kamu beruntung.

Sejujurnya aku tidak berharap kamu membaca tulisan ini. Namun bila terjadi maka mungkin kamu masih penasaran terhadapku. Hahaha.

Bye…

 

Salah Tingkah

“Semalam aku kepikiran kamu.”

“Kangen?” tebakku frontal.

“Mungkin.”

Di sini aku tersenyum. Sepagi ini mendapatkan panggilan telepon darimu membuatku sumringah. Mendapatkan fakta kamu mengakui kangen aku. Bagaimana aku mampu menyembunyikan senyumku?

“Jadi apa?”  aku bertanya secuek mungkin.

“Kata orang, kalau kangen itu harus ketemu. Bukan Cuma diungkapkan.”

Aku tertawa.

“Jangan tertawa, Intan.”

“Aku ingin.”

“Apanya?”

“Aku juga ingin. Ketemu kamu.”

“Baiklah. Sore ini?” tanyamu antusias.

“Iya.”

“Sip.” Terdengar suara gembira di ujung telepon.

“Nanti aku akan datang dengan suamiku. Pastikan kamu membawa istrimu.”

“Pasti.”

 

Telepon terputus. Cuma ingin ketemu, tidak ada yang salah. Pernikahan kami masing-masing-pun tak salah. Cuma rasa kangen itu saja yang manja. Bener-bener bikin salah….

 

tingkah.

 

 

Cinta Pak Sopir

Kalau perempuan setia itu biasa. Lelaki setia? Standing ovation buatnya.

 

Salah seorang sopirnya seorang bapak-bapak di level pejabat di perusahaan saya telah diganti. Usut punya usut, yang lama ternyata telah dipecat.

Saya tidak menaruh perhatian lebih atas pemecatan sang sopir. Paling mangkir. Benar ternyata, namun ketika mengetahui cerita dibalik hingga ia terpaksa mangkir membuat rasa makan siang saya tak lagi sama. Malu hati pada si Pak Sopir tambah rasa haru juga bangga.

Pak sopir. Istrinya menderita kanker payudara. Atas alasan itu ia harus selalu berada di samping sang istri. Mengantarkan berobat ke luar kota dan membantu segala keperluan istri. Dengan aksinya yang demikian ia tak bisa masuk kerja. Pada kesempatan pertama, bosnya masih memaklumi dan memaafkannya, namun karena jumlah bolosnya sudah terlalu banyak terpaksa juga dipecat atas nama kedisiplinan.

Pak Sopir ikhlas. Sudahlah pikirnya, istrinya lebih penting menurutnya.

Cerita yang membuat saya terenyuh kagum pada lelaki berpostur pendek dengan kepala setengah botak itu adalah fakta bahwa ia ingin terus bersama istrinya dan terus menuruti keinginan istrinya.

Saya tidak tahu apakah penyakit istrinya sudah pada level parah. Yang jelas, ketulusan Pak Sopir mengiyakan segala pinta manja istir dan tetap setia dalam susah membuat saya terharu. Betapa setianya Pak Sopir. Betapa tabahnya beliau. Betapa tulus cintanya buat sang istri.

Dengan cerita demikian saya langsung menyimpulkan, cinta Pak Sopir buat sang istri tidak main-main. Ia sungguh mencintai istrinya. Ia rela meninggalkan pekerjaannya demi menghabiskan hari yang diminta oleh sang istri. Bersama berdua menghabiskan waktu. Cinta yang membuat senja iri karena keromantisan cinta mereka mengalahkan pendar mewah senja.

Dengan perasaan syukur mengetahui cinta seperti itu nyata dan dekat dan tak perlu jauh-jauh melihat cinta Habibie pada Ainun. Saya lantunkan banyak doa, agar lelaki setia dengan cintanya seperti itu dilapangkan dadanya dan diberikan lindungan Allah swt. Saya rapalkan doa agar sang istri mendapatkan kesembuhan. Agar mereka berdua mendapatkan hal baik yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

 

Tak lupa hati kecil berharap, agar semakin banyak lelaki dengan cinta luar biasa seperti Habibie dan Pak Sopir di dunia ini.

If I got locked away

And we lost it all today

Tell me honestly, would you still love me the same?

If I showed you my flaws

If I couldn’t be strong

Tell me honestly, would you still love me the same?

 Locked Away –R City ft Adam Levine

Penampilan di Kencan Pertama

Kesan pertama pada kencan pertama itu penentuan.

Bagi saya, first impression itu mutlak penting. Tentu saja first impression paling dasar adalah tampilan luar. Fisik. Bukan soal ketampanan tapi soal penampilan keseluruhan.

Rapih. Bersih. Wangi. Stylish.

Saya menilai lelaki dari tampilan fisiknya ya  begitu. Bukan soal tampan gak tampan ya, tapi soal mau menjaga/merawat diri. Maka, bila kencan pertama ia tampil maksimal dan keliatan banget berusaha untuk terlihat tampan maka saya akan merasa tersanjung.

Tersanjung karena merasa dia menghargai saya untuk tidak tampil asal-asalan jalan bersama saya.

Pernah jaman kuliah dulu. Ada seseorang lelaki yang tampan dan memenuhi kriteria fisik idaman saya. Putih, tinggi, kurus. Tipikal saya banget. Pada suatu hari kami janjian keluar bareng demi merayakan ultah saya. Dia datang tepat waktu menjemput saya di rumah. Salah satu poin dari first impression yang saya nilai tentunya. Tapi tahukah ada apa dibalik ketepatan waktunya?

Menurut pengakuannya demi agar saya tak menunggu lama maka ia menjemput saya dalam keadaan belum mandi. Ia tengah bermain game bersama temannya lalu teringat akan janji yang dibuatnya dengan saya. Akhirnya sekonyong-konyong ia lemparkan stik PS-nya dan meluncur menemui saya dengan kaus oblong apa adanya dan rambut tak beraturan dan dengan tanp aroma harum apapun. Untungnya dia gak bau. Tapi wajah berminyaknya kelihatan.

Mengetahui hal itu dan tentu saja melihat fakta wajahnya yang tak segar saya jadi ilfil sama dia. Saya merasa tak dihargainya. Saya merasa tidak menjadi seseorang yang harus ia tampilkan performa sempurnanya ketika hendak keluar bersama saya. Padahal saya tampil semampu saya agar saya tak mempermalukannya keluar bareng saya.

Cerita lain. Saya pernah dimintai menunggu lebih lama oleh seorang lelaki (lain) yang akan datang menjemput saya. Alasannya adalah ia masih meeting dengan kliennya. Karena saya tipikal perempuan logis yang mampu menilai prioritas maka saya maklumkan saja. Malah saya mengusulkan untuk mengganti jadwal kencan di lain waktu apabila meetingnya sangat serius yang tentu saja menyangkut arus kas keuangannya. Namun ia keukeuh menyuruh saya menunggu. Yah karena ia membuat saya menunggu dengan pemberitahuan tentu saja saya hargai dan saya tungguin.

Ketika ia berdiri di pintu rumah, mata saya langsung menyapu ke ujung sepatu sport-nya hingga ke topi hitam Nike-nya. Tampilan yang kece menurut saya. Saat itu saya ingat betapa tersanjungnya saya melihat dia tampil menarik hari itu. Kencan hari itu juga gak membuat saya malu dengan fakta tubuhnya yang palingan hanya berbeda sesenti dua senti dari tubuh saya. Wangi tubuhnya menutupi pendek posturnya.

Dalam perjalanan ia membuat pengakuan. Kalau sebenarnya ia tadi bukannya sedang meeting penting. Memang benar ia meeting tapi tak selama itu. Yang membuat ia lama ialah kenyataan ia harus pulang terlebih dahulu ke rumahnya yang jauh untuk mandi dan berusaha membuat diri menarik agar mampu membuat saya tertarik padanya. Mendengar itu, saya tersanjung dua kali. Saya sangat merasa dihargai.

Iya, first impression bagi saya begitu. Seorang lelaki haruslah berpenampilan menarik ketika kencan pertama dengan saya. Bukti bahwa ia tak ingin mempermalukan saya keluar dengannya dengan tampilan awut-awutan.

Seorang lelaki ganteng bisa bikin saya ilfil karena gak mandi. Seorang lelaki pendek mampu membuat saya tersanjung dengan usahanya.

 

Kesan pertama bagi saya begitu. Selanjutnya barulah menilai bibit, bebet bobot.

Dan ya.. saya tetap meyakini satu hal: Jadilah lelaki wangi. Maka ketampanan akan mengikuti.

 

 

Sistem Kerja Jodoh

Dengar-dengar pernikahan Fedi Nuril ditasbihkan sebagai Hari Patah Hati Nasional ya? Kamu salah satunya gak sih? Saya sih gak. Saya patah hati hebat hingga ogah kerja ketika hari pernikahan Dude Harlino. Pernikahannya membuat saya tak ada alasan lagi untuk terus sendiri. Namun hampir dua tahun dia menikah, saya belum bisa menggantikan sosok Dude Harlino di hati saya. Efeknya, saya masih makan malam sendirian di kosan hanya ditemani dispenser.

Mengikuti cerita alur cinta Fedi Nuril dengan sang istri  dari kenalan hingga ke pelaminan yang saya kepoin akibat judul berita yang sangat menggoda penasaran, diketahui bahwa Fedi Nuril melakukan proses ta’aruf dengan seorang perempuan yang dia kenal hanya karena sebuah broadcast.

Fakta tersebut membuat adik saya tak habis pikir dan dia merasa penting untuk membahasnya dengan saya. Si adik gak ngerasa seorang Fedi Nuril yang artis kece itu bisa-bisanya menambahkan pin seorang perempuan yang disebarkan melalui broadcast. Dan bisa-bisanya ia (Fedi Nuril) melakukan proses kenalan seperti lelaki pada umumnya: bbm-kopi darat-lanjut berhubungan. Dalam pikiran si adik hal tersebut terlalu sepele untuk dilakukan lelaki sekelas Fedi Nuril.

Saya tak yakin, apakah si adik ikut menjadi korban patah hati atau tidak. Tapi satu yang saya yakin. Begitulah cara kerja jodoh yang Tuhan tetapkan buat Fedi Nuril dan Istri.

Sistem kerja jodoh bagi setiap orang berbeda-beda. Gak melulu dramatis harus ketabrak dan mungut buku bareng atau sebaheula zaman Siti Nurbaya yang dijodohkan. Kadang ya gitu, seumum dan selazimnya yang lagi ngetrend berapa tahun belakangan ini. Melalui media sosial. Tanpa pandang bulu, bahkan sistem kerja jodoh yang dianggap sepele atau mungkin gak berkelas (bagi sebagaian orang) ini pun bisa terjadi pada artis. Pada sang Fedi Nuril yang tetep masih kalah kece dibanding Abang Dude Harlino.

Menurut pengakuan Fedi Nuril, ia biasanya tak menghiraukan broadcast sebar nomor kontak tersebut. Namun entah kenapa, untuk nama satu tersebut hatinya merasa ingin menjadikannya sebagai salah satu teman di daftar kontaknya yang kemudian berujung menjadi teman seumur hidup (insyaallah.. allahumma aamiin).

Ya begitulah jodoh. Begitulah skenario yang Allah reka untuk mereka. Sesederhana dan seumum itu. Dan bila memang sudah ditakdirkan bersama, tak mesti sebuah pertemuan hebat menjadi awal mula hati membuahkan cinta. Bila memang sudah ditakdirkan, sebuah broadcast-pun mampu mendesirkan hati yang menuntut kepada sebenar-benarnya jodoh.

Adik sepupu saya menambahkan kalau mulai sekarang ia tak akan lagi mengabaikan sms dari nomer tak dikenal atau permintaan pertemanan di jalur BBM. Yah.. mana tahu selanjutnya giliran Adipati Dolken yang lagi nyari jodoh.

Lalu bagaimana dengan kamu?

Masih mengharapkan akan ada lelaki yang menawarkan jaketnya padamu di halte saat kamu tengah berteduh kedinginan sebagai langkah awal penentu jalan jodoh?

Karena mungkin sistem kerja jodohmu bukan seperti itu. Tidak seromantis itu. Tapi satu hal, apapun sistem kerja jodoh yang tengah/akan/sudah Allah berikan kepada kita, pastinya itu akan menjadi satu moment indah tak terlupakan seumur hidup. Apapun temanya. Romantis. Komedi. Horor. Drama. Atau mungkin thriller.

Persiapkan dirimu.

 

 

 

 

Kecantikan Palsu

Sejak tahun 2010 saya menggunakan softlens untuk membantu penglihatan saya yang kabur. Namun saya selalu menggunakan soft lens berwarna bening. Alasan utamanya adalah agar tidak ada yang mengetahui saya menggunakan soft lens. Ya, di saat kebanyakan orang lain menggunakan soft lens padahal mata mereka sehat untuk sekedar gegayaan, saya malah menutupi fakta saya menggunakan soft lens. Hasilnya, di saat saya menggunakan kacamata, malah dikira saya sedang gegayaan karena mereka tidak mengetahui kalau sebenarnya mata saya minus.

Adik saya pernah bertanya, kenapa saya tak menggunakan soft lens berwarna untuk mata saya. Dalihnya, agar saya kelihatan cantik. Saya menjawab kalau justru itulah yang saya hindari. Kelihatan cantik.

Kelihatan. Namun bukan kenyataan.

Penjelasan lebih lanjut kepada adik saya adalah, “kakak gak mau cantik palsu. Ketika orang mengagumi kita cantik, lalu naksir lalu akhirnya nikah. Terus pas setelah nikah dan dia melihat aslinya kita pas bangun tidur yang tanpa make-up, tanpa soft lens, tanpa dandanan rapi, dia akhirnya menyesal. Melihat kita aslinya tak secantik poto profil.”

Intinya, saya tak mau menipu.

Untuk itulah, saya selalu membeli soft lens berwarna bening.

Namun, pada Januari kemarin, ketika membeli soft lens baru karena yang lama sudah kadaluarsa, saya membeli warna coklat. Memilih warna yang paling mendekati dengan warna asli mata saya yang coklat tuanya tua banget. Bukan yang bening. Karena yang bening saat itu tidak tersedia. Dan karena malas ribet ya sudahlah, saya melanggar komitmen saya sendiri.

Akhirnya, saya pada ditanyain, “Pake soft lens ya?” yaah.. padahal kemarin-kemarin jugak pakek kaleeee…

 

Selain soft lens apa lagi yang dewasa ini lagi ngetrend untuk membuat diri terlihat cantik?

Kamera 360, kamera B29 (atau apalah itu namanya), dkk.

Saya juga tidak menyukai kamera 360. Bukannya saya tak menggunakannya. Ada. Cuma bisa dibilang jarang saya selfie pake kamera 360. Selain karena dengan kamera itu alis saya yang tipis makin lenyap menyisakan serpihan, kamera itu juga cenderung membuat kulit saya terlihat pias, pucat. Saya lebih menyukai warna terang, makanya saya lebih memilih menggunakan kamera biasa untuk selfie yang menampilkan sesungguhnya warna lipstik saya. Bukan berarti saya tidak menggunakan aplikasi apapun untuk mengedit. Ada, hanya saja bukan untuk menutupi cela wajah, melainkan hanya untuk memainkan warna agar kelihatan apik.

Cela wajah ditutupi dengan 360? Hello… wajah itu dirawat, bukan diedit.

Itulah kenapa saya memilih melakukan perawatan wajah yang merogoh kocek ketimbang memakai cara praktis yang menipu. Karena sejatinya perawatan wajah bukan untuk terlihat cantik atau menipu publik, tapi untuk kepuasan diri sendiri dalam merawat diri agar sehat dan terlihat awet muda kayak oma Titik Puspa.

Percuma cantik di poto doang tapi aslinya gak, kan? Jangan sampe deh, kayak kejadian yang pernah heboh di berita online. Tentang kopi darat yang berakhir dengan perkelahian karena si lelaki merasa tertipu dengan poto profil si perempuan yang jelita namun hasil editan.

Entahlah sesajen apa yang dipakai 360 hingga mampu membius banyak perempuan menggunakannya, saya pun tak tahu. Padahal banyak teman perempuan saya yang cantik-cantik aslinya namun masih juga mengandalkan 360. Padahal tanpa kamera 360 sungguh wajahnya sudah jelita, sungguh kulit mulusnya sudah membuat saya iri.

Maka itu, saya gak pernah antusias kalau udah selfie ama beberapa temen lalu menggunakan kamera ponsel miliknya. Ketika saya lihat hasilnya yang di share, ya ampun… hasil 360 atau B29 (apapun lah itu namanya) semua. Kalau udah begitu, tentu saja poto itu hanya untuk saya lihat. Tidak untuk saya share atau posting di akun sosial media manapun milik saya.

Menurut saya, potolah pakai kamera biasa aja dulu. Ketika akan di-share, baru mainkan aplikasi ini itu untuk mengatur kecerahan, kekontrasan atau mem-blur-kan bopeng. Karena gak semua orang suka efek kamera 360 atau B29 (apapun lah itu namanya) yang membuat efek alis menghilang, lipstik kayak abis makan krayon, wajah berpendar aneh, atau kulit kelihatan pucat. Ya, tidak semua. Terutama saya.

Lalu soal 360. Sepake-pakenya saya ama 360 itu paling Cuma buat selfie aja. Poto yang nampilin muka aja. Karena 360 untuk poto rame-rame suatu ide buruk. Soalnya agak serem ngeliat, gak laki, gak perempuan, bibirnya kayak abis ngelumat krayon semua.

 

Hal terakhir tentang penipuan publik tentu saja riasan wajah. Ini suatu hal yang hampir semua orang lakukan. Coba apus alis sinchan, hapus lipstik merona, hapus eyeliner, dan lihat perubahannya. Pasti beda banget. Before-after perempuan dengan make up itu sungguh merupakan keajaiban dunia loh. Mungkin lelaki bisa gak mengenali perempuan yang sama dengan atau tanpa make-up kalau ketemu di jalan. Mungkin ketika akhirnya menyadari kalau perempuan tersebut adalah orang yang sama, hal pertama yang dilakukan adalah membuka mulut lebar-lebar. Tentu saja, saking kagetnya.

Ini juga yang mendasari saya untuk tidak terlalu berlebihan menggunakan pensil alis. Bisa dibilang saya menggunakan pensil alis baru setahunan ini. Itupun karena kritik dan kanan-kiri yang mengatakan jidat saya kayak lapangan bola. Atau aneh ketika saya menggunakan lipstik genjreng dan eyeliner tapi alisnya gak ada. Maka itu, saya sapukanlah pensil alis tipis. Setipis mungkin. Lagi. Saya gak mau, ada cinta lelaki yang nyangkut pada alis saya, bukan hati saya.

 

Mengenai dandanan. Saya sih sebenarnya gak terlalu menor tapi gak juga terlalu polos. Andalan harian saya hanya lipstik, eyeliner. Setahunan belakangan ditambah pensil alis. Bedak? Jarang saya gunakan. Lebih sering hanya menggunakan pelembab dan tabir surya saja.

Bagaimana dengan eye shadow, blush on dan maskara? Ketiga hal itu optional dan lebih digunakan ketika harus pergi kondangan atau acara tertentu saja. Acara tertentu yang benar-benar tertentu.

Mungkin prioritasnya begini:

  1. Lipstik
  2. Tabir surya
  3. Pelembab
  4. Eyeliner
  5. Pensil alis
  6. Eye shadow
  7. Maskara
  8. Bedak
  9. Foundation
  10. Blush on

 

Semalas-malasnya saya dandan, kalau harus keluar rumah, saya pasti menggunakan lipstik.

 

Suatu ketika ada lelaki yang datang ke rumah saya, Ibu saya memperingatkan agar sebelum menemuinya saya haruslah dandan terlebih dahulu. Nah, karena ini untuk urusan yang serius saya malah ingin tampil apa adanya tanpa menipu. Saya gak ingin dia menyesal kemudian. Dengan cueknya saya menemuinya tanpa polesan. Hanya setipis lipbalm berwarna pudar. Karena dia harus tau apa adanya saya.

Saya selalu aware dengan segala hal yang akan memungkinkan orang salah paham akan suatu kecantikan semu. Karena saya tahu pasti, saya ini photogenic. Oke, kalau kamu melihat poto saya kamu-pun pasti akan mengakui kepedean saya ini. Karena kepedean saya lahir dari banyak pendapat orang-orang. Oleh karena itu, saya tidak ingin menambahkannya dengan segala penipuan publik lainnya. Agar kelak, siapapun dia yang akhirnya menjadi lelaki yang beruntung melihat saya untuk pertama kalinya ketika saya bangun tidur dengan iler menetes, tak ada sedikit penyesalan dan rasa tertipu di dirinya.

 

Dua hari tak bekerja dan tak ke mana-mana membuat saya tak bertemu dengan cermin dan tak mengencani tas kosmetik saya. Muka polos sepolos-polosnya.

Lalu tadi, ketika melihat diri saya di cermin maka saya berujar. Inilah saya. Intan sebenarnya. Berwajah pucat. Beralis tipis. Berjidat lebar. Tanpa make up. Tanpa filter.

Bila kamu (lelaki manapun) menjenguk saya saat ini dan masih menganggap saya cantik. Saya tak akan ragu mengiyakan lamaranmu.

Tapi pastikan dulu efek racun karbon monoksida sudah hilang dari tubuh saya.