Gak Nafsu Makan

Terjadi percakapan ringan menjelang keberangkatan pulang saya dan teman-teman dari Pulau Breuh. Seorang perempuan muda mengatakan betapa dia heran melihat perempuan lain kalau stress malah kurus. Sedangkan dia, kalau stress malah banyak makannya yang menyebabkan dia gemuk.

Sontak saja, seorang lelaki menunjuk saya. Dia berkata, “kalau mau kurus tanya resepnya ama Intan,”

Saya langsung memalingkan wajah saya ke yang ngomong. Dan ya, saya jadi dituduh sedang stress sama yang lain.

Sebenarnya iya juga sih. Kalau stress saya cenderung gak bisa makan dan kurus. Tapi kemarin itu saya gak tengah stress juga. Emang baru pulih dari sakit dan nafsu makan belum membaik. Hingga berat badan 48 kilo yang saya banggakan tempo hari harus turun dan puas berada di angka 45 saja.

Pulang dari trip ke Pulau Breuh minggu lalu, nafsu makan saya berkurang. Sehari makan sekali saja. Itupun makan karena badan udah lemes dan hoyong banget. Tentu saja ini akibat dari stress.

Stress menyebabkan nafsu makan saya terbang ke Macedonia.

Penyebabnya apa?

Ini bukan perkara patah hati, beban kerja atau bahkan keuangan. Ini harusnya bila terjadi pada orang normal adalah suatu hal yang membahagiakan. Namun bagi saya, menakutkan.

Sepulang dari liburan, seorang lelaki yang tengah PDKT sama saya mengatakan, bila saya telah yakin mau sama dia dan menjalani hubungan hingga semoga berjodoh, maka saya diminta untuk melepaskan lelaki lain yang tengah dekat dengan saya juga. Saya diminta untuk tidak memberikan harapan palsu kepada yang lain. Fokus ke dia.

Mendengar pintanya saya terdiam. Sejak putus tunangan setahun lalu, saya perhitungan soal hati. Saya tidak mau menyerahkan perasaan saya utuh ke satu orang tanpa jaminan orang tersebut gak bakal membuat hati saya kecewa lagi. Jadinya, setiap kali ada lelaki yang dekat dengan saya, ya saya persilahkan. Di lain sisi saya juga mempersilahkan lelaki lain untuk mengenal saya. Saya sendiri tidak mau terikat hubungan dengan mereka. Selalu saya katakan, kenali aja saya dulu. Kalau cocok ya lamar saya.

Nah, saya hanya menerapkan sistem siapa duluan dia dapat. Jadi siapa kira-kira dari sekian lelaki yang saya ladeni yang duluan memikat hati saya lalu ngelamar dan kemudian direstui orangtua maka pada dialah saya menasbihkan diri sebagai istri.

Dan dari semua yang dekat dengan saya, tidak satupun meminta saya hanya fokus kepada mereka. Entah mereka yang PD banget saya cuma meladeni salah satu dari mereka, entah mereka memang membebaskan.

Hingga lelaki satu ini muncul dan minta diprioritaskan bila saya mau sama dia. Bila saya tidak yakin saya boleh pergi.

Permintaan yang sulit. Semacam, ini orang high quality manner, namun bila saya diminta fokus sama dia saya semacam disuruh bertaruh lagi akan kebahagian hidup saya.

Untuk bahagia kita kadang butuh rasa sakit. Tapi saya terlalu takut untuk merasakan sakit lagi pada apa yang disebut kebahagian semu.

Berhari-hari saya memikirkan permintaannya sehingga saya stress dan tidak nafsu makan. Hingga di suatu sore saya memutuskan untuk tidak mengiyakan permintaannya. Kami berjanji ketemu sore itu. Di situ akan saya katakan saya tidak mampu mempertaruhkan lagi fisik saya untuk menderita.

Sebelumnya, saya sedang chating dengan temen. Saya curcol dong.

Di sesi curhat itu saya serasa ditampar oleh temen saya. Dikatakan, mau sampai kapan sih saya gak pernah bisa meyakini sesuatu. Mau sampai kapan saya curiga sama lelaki. Mau sampai kapan saya gak mau memberi kesempatan kepada lelaki. Mau sampai kapan saya kepengen berjodoh dengan seseorang tapi membuka hati tidak mau.

Lantas… saya berubah pikiran.

Sore itu hujan. Kami tidak jadi bertemu. Pikir saya ini baik, saya punya waktu untuk berpikir. Mengikuti ego saya. Atau melakukan apa yang dinasehati sahabat saya.

Akhirnya malam sebelum berangkat ke perantauan saya bertemu dengannya.

Saya menguak cerita masa lalu saya. Suatu cerita yang gak pernah saya ceritakan kepada gebetan manapun. Karena saya gak mau siapapun kelak yang menjadi suami saya tahu kalau saya pernah bertunangan dan pertunangan itu kandas dengan penuh drama. Itu semacam aib bagi saya. Toh di antara mereka banyak yang gak tau saya suka nulis cecurhatan hingga gak tau keberadaan blog ini.

Namun dengan tenang, ia mengelus kepala saya lembut. Ia jadi paham kenapa selama ini saya tampak begitu keras. Kenapa selama ini seperti ada yang saya tahan-tahan.

Lalu akhirnya, malam itu saya memutuskan.

Insyaallah. Saya mau dengan lelaki ini.

Insyaallah. Saya hanya akan fokus ke dia.

Insyaallah. Semoga yang ini bukan orang yang salah.

Aku Malu

Malam itu kamu mengusap kepalaku lembut. Namun efeknya dadaku bergemuruh hebat. Segera kusingkap jemari tanganku ke bawah meja. Agar gemetarannya tak kamu lihat. Agar saat kamu iseng menyentuh tanganku dinginnya tak kamu rasa.

Tatapan matamu yang syahdu mendebarkan. Membuat aku bertanya, tentang apa yang kamu lihat pada diriku. Malam itu cuma sepulas lipstik bertengger di bibirku. Lainnya tiada. Masihkah aku terlihat cantik?

Bila kamu menemukan rona merah di kedua pipiku, kamu beruntung. Itu berarti aku tengah malu-malu. Malu-malu bertemu kamu untuk pertama kali hanya berdua.

Kamu bilang kita semestinya sering bertemu. Aku jawab tidak. Tidak usah terlalu sering. Bukan tidak rindu. Namun biarkan rinduku hanya Tuhan yang tahu.

Anggap saja setiap pagi aku mengucapkan selamat pagi untukmu selepas bangun dari tidur. Meski tidak kamu dengar namun begitulah adanya.

Anggap saja setiap malam aku mengucap rindu padamu. Meski tidak terkatakan namun itu nyata.

Anggap saja, ketika kamu memanggil sayang, kubalas juga dengan panggilan sayang. Meski aku bungkam, aku juga ingin.

Biarkan diamku menjadi tanda aku malu. Biarkan aku merasa malu dengan jilbab yang kukenakan. Biarkan aku menjaga lisan dan perbuatanku demi terjaganya marwahku. Biarkan aku simpan buncahnya perasaanku hingga nanti telah tiba waktunya.

Malam itu. Kamu minta kita untuk sering bertemu. Lain kali, biarkan kubawa adikku ikut serta. Seperti biasanya bila kita bertemu. Agar terjaga lisan dan tanganku.

Ingatlah, meskipun aku kaku, namun nyatanya ingin kugenggam tanganmu.

Tak Mau Lagi Mendengar

Dalam sebuah drama Korea yang saya tonton, ada percakapan antara ibu dan anak perempuannya. Si anak perempuan bertanya, sejak kapan hubungan ibu dan ayahnya merenggang? Sejak kapan mereka berhenti berbicara satu sama lain?

Dalam drama tersebut dikisahkan si ibu dan si ayah perempuan tersebut tidak berbicara sejak bertahun-tahun lamanya. Mereka belum bercerai. Masih hidup di bawah atap yang sama. Mereka tidak bercerai hanya karena alasan anak perempuannya. Sementara cinta tidak ada lagi. Sementara komunikasi telah bisu. Mereka hidup dalam diam.

Menanggapi pertanyaan tersebut, si ibu menjawab, “Entahlah. Itu terjadi begitu saja. Mungkin sejak kami tidak saling mendengarkan lagi. Kau tahu? Cinta bisa hilang karena kita tidak mau lagi mendengarkan. Jadi bila pasanganmu berhenti mendengar. Saat itu cinta sudah tiada”

Saya lupa bagaimana persis redaksi kalimatnya. Semampu yang saya ingat begitulah maksud dari jawaban si Ibu.

Saya melihat ke pengalaman saya. Mengapa akhirnya hubungan saya dan dia yang kini disebut mantan berakhir. Ternyata itu dimulai pada saat yang tidak saya sadari sebelumnya. Sejak ia tidak mau lagi mendengarkan saya.

dalam diamku berbagi

dalam riuh ku sendiri

ini bukanlah sesuatu yg salah

dalam harapku abadi

dalam rinduku tak lagi

bertanya cinta yang telah kau tinggalkan

suara tentangmu bayangan tentangmu

jarak dan waktu membunuh aku*

*Saat itu saya pikir saya pantas mengusik harinya dengan kehadiran saya melalui suara. Jarak terbentang antara kami harusnya bisa diperpendek dengan seringnya komunikasi yang kami bagi setiap hari. Tapi nyatanya, kebiasaan hari-hari lalu menjadi berubah. Ada masa ketika semuanya berhenti. Terutama adalah, ketika dia berhenti mendengarkan saya.

tak kau dengarkah?

telephone ku memanggilmu

saat kau tak lagi, peduli cinta ini

menggigil aku mengiba, telephone ku memanggilmu

berharap cinta yg lalu, saat kau tak mau lagi mendengarku


jawablah aku menanti ini

bukanlah sesuatu yang salah

*Bodohnya saya abai tanda-tanda. Entahlah saya terlalu naif mengira ia terlalu sibuk. Nyatanya, kata om Mario Teguh sesibuk apapun seseorang ia pasti akan mengabari kita bila ia memang cinta. Ia tidak akan pernah tega membuat kita mengemis kabar, mengiba perhatian.

Saya telat menyadari. Bahwa cinta telah menguap. Lama-lama raib. Semua sejak

ketika ia tak mau lagi mendengarku.

*Lirik lagu Ribas ft Nindi, Telepon

Kaleng Minuman

Suatu sore di 2009

“Abang haus kali nih, kita mampir bentar beli minum ya?” ucapnya.

“Boleh.”

Tak lama kemudian mobil ia tepikan di pinggir jalan di depan sebuah toko serba ada.

“Intan mau minum apa?”

“Intan ikut turun aja deh,”

“Ok.”

Lalu kami berjalan menuju ke toko tersebut dan langsung mengarahkan tujuan ke sebuah lemari pendingin berisikan aneka macam minuman ringan.

Dia mengambil sebuah minuman ringan bersoda dengan kaleng berwarna merah. Minuman yang saya incar tidak ada. Ada, tapi dalam kemasan berbeda. Dan saya tidak suka.

Saya menutup kembali kulkas tersebut tanpa mengambil apapun.

“Intan gak ngambil apa-apa?”

“Gak, bang. Gak ada minuman yang intan mau.”

“Maunya apa?”

Saya menyebutkan sebuah merek dari minuman isotonik yang dapat menambahkan ion tubuh. Matanya mencari-cari ke dalam lemari es di depan kami. Lalu ketika ia membuka kulkasnya, ia mengambil sebuah minuman.

“Ini kan ada, Tan?” ia menunjukkan sebuah minuman yang memang saya maksudkan namun dalam kemasan kaleng. Yang saya mau dalam kemasan botol.

“Iya. Tapi ini dalam kaleng. Intan maunya dalam botol,”

“Kenapa?” ia merasa aneh.

“Intan gak bisa buka kemasan kaleng gitu.” Jawab saya sambil nyengir malu. Saya memang tidak pernah berhasil membuka minuman ringan dalam kemasan kaleng. Selalu saja cantelan pembukanya berakhir patah di tangan saya.

“Ya ela.. itu aja. Biar abang bukain.” Lalu ia mengambil minuman itu. Pergi ke kasir dan membayar apa-apa yang dibelinya. Setelah itu kami kembali ke mobil.

Sebelum memulai kembali berkendara dia mengambil kaleng minuman saya dalam kantung plastik dan membukanya. Setelah dibuka ia menyerahkannya pada saya.

“Mulai sekarang, apapun yang Intan inginkan namun gak bisa Intan lakukan serahkan aja sama Abang. Biar abang yang ngelakuinnya untuk Intan. Seperti kaleng minuman ini. Mulai sekarang sampai seterusnya, biar abang yang ngebukainnya untuk Intan.”

Saya menerima kaleng minuman tersebut. Tanpa menjawab apapun kecuali memberinya sebuah senyum, saya teguk minuman isotonik tersebut. Dia pun meminum minuman bersodanya. Perjalanan dilanjutkan.

Namun, tidak dengan perjalanan kami.

 

Suatu malam di 2016

“Jadi kenapa Abang menghilang 7 tahun lalu?”

“Abang? Intan kan yang ngilang?”

“Kayaknya Abang deh. Apakah ada kata-kata Intan yang salah atau apa hingga Abang pergi?’

Dia tidak menjawab. Saya menatapnya lekat. Mungkin dalam hatinya tengah menyumpaserapahi saya. Sedangkan saya ingat betul kenapa ia pergi dan menghilang. Memang itu karena saya. Saya yang masih terlalu muda saat itu. Belum mampu memegang komitmen apapun. Hanya seorang gadis yang baru berulang tahun ke 20.

Suatu sore di 2016

Di depan kami telah tersaji minuman pesanan kami masing-masing. Saya dengan Ice Chocolate Mint kesukaan saya, dia dengan Lemon Tea hangat pilihannya. 7 tahun memang mampu mengubah kebiasaan dan karakter seseorang. Kini ia tidak lagi melulu memesan kopi sebagai minuman pilihannya. Rokok yang selalu ia hisap juga telah lama ia tinggalkan. Katanya telah 5 tahun ia berhenti merokok.

“Kebiasaan boleh berubah. Tapi wajah abang kayaknya gitu-gitu aja, ya?”

“Yang bener? Kayaknya abang keliatan makin tua.”

“Well, iya. Sudah ada kerutan di mata. Tapi secara keseluruhan masih sama. Style abang pun masih selalu rapi seperti dulu.”

“Intan makin cantik.”

“Intan tau.” saya langsung memotong pujiannya hingga di situ. Dia terkekeh dengan kepedean saya.

“Intan akan menikah.” saya mengatakan itu tepat ketika ia berhenti terkekeh. Cangkir teh yang hendak ia pegang ia lepaskan. Ia tatap saya lekat.

“Dengan?”

“Lelaki tentu saja. Abang juga gak kenal.”

“Lelaki beruntung.” katanya.

“Semoga dia berpikiran yang sama seperti abang.”

Lalu hening tercipta. Mata kami beradu lekat. Seperti terlalu banyak hal ingin dikatakan namun tahu semua hanya sebuah kesia-siaan belaka. Tak mengubah apapun.

Setelah itu kami hanya melanjutkan basa-basi yang lain. Hingga ia berkata, “Yuk, abang anterin pulang.”

Tak lama kemudian kami sudah di mobilnya. Ia menyetir tenang sambil berbicara ini itu dengan saya. Lalu tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di sebuah mini market.

“Kita beli minum sebentar.”

“Bukannya tadi kita minum?”

Tanpa menjawab ia hanya senyum saja. Lalu ketika ia turun dari mobilnya saya mengikutinya. Kami masuk ke mini market tersebut dan langkah langsung ia arahkan ke sebuah lemari pendingin berisi beragam minuman.

Ia mengambil dua kaleng minuman. Yang satu minuman bersoda dengan kaleng berwarna merah. Satunya lagi minuman isotonik. Deja vu pikir saya. Saya memandangnya tapi ia hanya lempeng berjalan menuju kasir dan membayar dua kaleng minuman yang ia ambil.

Setelah itu kami kembali ke mobil. Minuman dalam kantung plastik hanya ia letakkan begitu saja dia atas dashboard. Perjalanan ia lanjutkan hingga tibalah di depan pagar rumah saya.

Saya ucapkan terima kasih atas waktunya untuk pergi dengan saya sekaligus mengantar jemput saya. Lalu sebelum saya turun ia memanggil nama saya lembut.

“Intan.”

“Ya?”

Tangannya meraih kaleng minuman isotonik. Ia buka kaleng tersebut dan menyerahkannya pada saya.

“Dulu abang pernah katakan. Apa yang gak bisa Intan lakukan serahkan sama abang. Dulu Abang juga pernah berjanji, untuk selalu ngebukain kaleng minuman yang gak bisa Intan buka. Maafin abang. Abang harus tarik kata-kata abang. Maafkan abang juga pernah menghilang. Selama kurun waktu 7 tahun, tentunya banyak orang lain yang bersedia membuka kaleng minuman Intan. Ini kaleng terakhir yang abang bukain untuk Intan. Selanjutnya hal ini akan menjadi tugas lelaki lain.”

Saya hanya diam melihatnya berbicara sepanjang itu. Mendengarkan dengan dada berdebar. Bergemuruh. Luluh dan luruh.

Saya meraih kaleng minuman yang telah ia buka. Mengucapkan terima kasih sekali lagi. Pamit. Membuka pintu mobil. Turun dan melambaikan tangan padanya ketika mobil ia lajukan menjauh dari pagar rumah saya.

Saya tidak langsung masuk ke dalam rumah. Di teras, dengan masih menggenggam kaleng minuman isotonik tersebut hatinya berbicara sendiri.

Menyoal jodoh, Bang. Bukan hanya ketika orang itu kita rasa tepat. Cinta kita hebat. Namun kita juga membutuhkan semesta yang sepakat. Hingga menyempurnakan di waktu yang tepat.

Menyoal kita, Bang. Kita hanya dipermainkan oleh waktu. Waktu yang membuat kita bertemu. Menghilang. Bertemu lagi yang hanya tidak untuk menjadi apa-apa.

Andai saja Abang tidak muncul ketika usia saya masih 20 tahun melainkan ketika umur saya sedikit lebih banyak. Mungkin saat itu saya bisa menerima abang dengan gampang.

Atau, andai saja ketika 7 tahun kemudian kita bertemu kembali dan abang lebih cepat 5 menit saja. Mungkin ini bukan kaleng minuman terakhir yang abang bukain buat Intan.

5 menit mampu mengubah takdir kita. Jalan kita dan hati kita. 5 menit sebelum abang mengirimi saya sebuah pesan berisikan ‘Hi’ yang terkandung perasaan rindu di dalamnya, saya baru saja mengiyakan perasaan seseorang.

Dan ketika saya sudah mengatakan iya. Saya tidak bisa mundur. Akhirnya 5 menit itulah yang menentukan kepada siapa saya meyakinkan hati saya untuk saya sandarkan sepanjang sisa hidup saya.

Saya teguk minuman itu. Sebuah pesan BBM muncul. Sebuah pesan dari kekasih hati. Saya senyum membaca pesannya. Kepada dia saya telah jatuh cinta. Kepada ia saya siap membagi dunia saya. Kepada dia yang tidak tahu sama sekali bahwa saya tidak bisa membuka kaleng minuman. Karena yang ia tahu saya tidak menyukai minuman kemasan apapun.

7 tahun mengubah kebiasaan seseorang. Abang yang tidak lagi banyak minum kopi dan merokok. Saya yang tidak lagi minum minuman kemasan terlalu berlebihan.

Lebih Baik Tidak Ada AADC2

Saya belum menonton film Ada Apa Dengan Cinta 2, namun dengan PD saya ingin mengutarakan pendapat saya kenapa lebih baik film AADC2 tidak pernah ada. Bila nanti saya telah menonton dan saya berubah pikiran maka akan saya tulis lagi. Tapi ini murni pendapat saya doang yang bukan pengamat industri film. Dan ini pendapat sebelum menonton.

AADC2 tercipta mungkin karena ada film pendek yang dipergunakan untuk ngiklanin sebuah aplikasi chating. Melihat antusias para penggemar Cinta dan Rangga yang membludak akhirnya menghasilkan sebuah film AADC2.

Saat saya menonton film pendek Rangga dan Cinta itu ketika saya tengah liburan ke Korea tahun 2014 lalu. Diantara temen seperjalanan, saya mungkin yang kurang maruk dan gak penasaran banget ama film pendek yang saya lebih suka nyebutnya iklan tersebut. Ketika kami balik ke hostel dan mendapatkan jaringan internet, temen-temen seperjalanan saya menceritakan kesannya dengan heboh setelah menontonnya. Setelah mereka selesai, dan puas mendengarkan mereka berkomentar, barulah saya ambil ponsel saya dan menonton film pendek tersebut setelah terlebih dahulu meminta link-nya pada salah satu temen saya.

Saya tonton. Lalu reaksi saya adalah:

Harusnya film ini tidak pernah ada.

Seorang teman seperjalanan berkomentar, “Ya ampun, akhirnya filmnya ada lanjutannya. 14 tahun aku tunggu akhirnya dibikin lanjutannya,”

Saya mendengarkan namun tidak berkomentar. Ingin balas berpendapat namun urung.

Ending sebuah cerita itu ada 3. happy ending, sad ending dan question ending. Begitu yang saya pelajari ketika di bangku SMP. Kalau sekarang ada perubahan silahkan dikoreksi. Nah, untuk AADC itu termasuk question ending menurut saya. Sebuah akhir yang sebenarnya udah indah tapi dibuat gantung karena Rangganya pergi dan nyuruh Cinta nunggu satu purnama. Kalau mau dikatakan Happy ending sih boleh aja. Tapi bagi saya ini termasuk kategori question ending di mana penonton bebas berimajinasi mau gimana akhirnya kisah Rangga dan Cinta.

Apakah Rangga kembali setelah satu purnama.

Apakah setelah satu purnama dan menemui Cinta, Rangga balik lagi ke Amerika lalu mereka LDR.

Apakah akhirnya malah Rangga tidak kembali.

Tebakan sotoy saya mengatakan, saat menonton film tersebut semuanya pasti mengira itu sudahlah sebuah akhir. Dan percaya Rangga akan kembali setelah satu purnama.

Namun apa yang terjadi?

Akibat adanya film singkat tersebut dunia jadi tau Rangga tukang PHP dan sekali lagi membuktikan kebenaran perkataan sewot saya tentang “Lakik tuh omongannya emang gak ada yang bisa dipercaya”.

Dan ya, tidak seperti teman saya yang kesenangan akibat adanya sambungan film AADC dan telah menunggu selama 14 tahun. Saya justru patah hati mengetahui sang pujangga Rangga tak mampu menepati janjinya pada Cinta. Karena bagi saya, ketika menyelesaikan AADC saya beranggapan kisah mereka berakhir bahagia. Rangga akan menemui Cinta setelah satu purnama.

Namun nyatanya, kisah dibuat berbeda. Seperti Sinetron yang memunculkan kembali tokoh yang telah mati, dengan alasan selama ini sang tokoh cuma amnesia saja. Begitu pula Rangga. Kisah cinta Rangga dan Cinta dihidupkan kembali dengan menampilkan sosok Rangga yang tukang PHP dan Cinta yang gagal move on.

Saya membaca beberapa ulasan tentang film AADC2, dengan membaca itu semua saya semakin yakin. AADC2 tidak sepatutnya muncul. Seperti mantan saya yang tidak sepatutnya muncul menawarkan kembali sepotong cinta yang telah saya buang ke Timbuktu.

Karena menurut saya AADC2 hanya merusak khayalan. Baiklah mungkin bukan khayalan kamu. Tapi khayalan saya sendiri. Karena apa-apa yang telah berakhir biarlah berakhir.

Dan ya, saya menulis pendapat ini tanpa menonton dan terlebih lagi tanpa tau ending AADC2 gimana. Saya sengaja, hanya ingin mengetahui apakah pikiran saya sebelum dan sesudah menonton sama atau berbeda.

Ini murni pendapat atas perasaan saya, bila berbeda dengan kamu (yang membaca), tak perlu membully. Karena semua orang berhak merasakan sesuatu.

Prolog: Trip Singkat Ke Pulau Breuh

Awal Januari 2016 saya berikrar: Bulan Mei 2016 saya menikah. Salah satu kesongongan lainnya tentang saya. Tentang saya yang PD menaklukan apapun. Menyangka semua obsesi tentu akan dapat saya taklukan asal saya bekerja keras, asal saya berusaha.

Namun seperti mimpi-mimpi tahun lalu. Cita-cita tentang menikah selalu tak pernah kecapaian hingga sekarang. Kesongongan saya menargetkan kapan saya menikah tak pernah (atau belum) menjadi nyata. Lagi dan lagi. Bulan Mei tidak merupakan bulan di mana saya memakai baju pengantin.

Di akhir bulan Maret saya menyadari. Rencana saya kembali gagal. Dan libur panjang di minggu pertama bulan Mei yang saya ancang-ancang menjadi hari pernikahan saya lekas saya ganti jadwal menjadi libur untuk travelling.

Suatu malam, saya japri temen SMA saya yang hobi keliling Aceh. Saya tanyakan rencananya di long weekend (tanggal 5 Mei-8 Mei). Seperti dugaan saya dia punya rencana. Saya minta diikutsertakan. Dia sih bilang yes.

April dia ngasih kabar kalau trip yang bakal dilakukan adalah ke Pulau Breuh. Mengetahui bakal ke pulau rasa excited saya kembali buncah. Tentang patah hati dan patah semangat gagal menikah terabaikan sudah. Tergantikan khayalan tentang trip seru di salah satu tempat indah di Aceh.

Beberapa hari kemudian si temen ngasih tau lagi kalau trip yang bakal dijalankan bakalan diselingin dengan aksi donasi ke anak-anak di Pulau Breuh. Nah, ini bukan tentang aksi sosial yang disempetin buat liburan. Ini kebalikan, liburan yang diselingi dengan aksi donasi. Temen saya keren. Idenya dan beberapa temannya yang merencakan trip ini keren menurut saya. Jadilah nama trip kami menjadi: Gerakan 1000 Buku Tulis Untuk Anak Pulau Breuh.

Mengetahui hal itu saya langsung merasa keren. Apalagi ngebayangin saya bakalan terlibat dalam aksi sosial itu. Ini pengalaman pertama bagi saya. Pengalaman pertama ngetrip di kampung sendiri dan pengalaman pertama menjadi salah satu kontributor dalam donasi tersebut. Tetiba saya ngerasa mirip Mbak Nadine Chandrawinata.

Saat rapat pertama saya ikutan dan dikasih tau kalau yang bakal ikutan ngetrip berjumlah sekitar 30 orang. Rame banget pikir saya. Mereka dari berbagai kalangan, latar belakang dan komunitas. Semakin seru nih kayaknya. Saya selalu senang melakukan perjalanan dengan orang yang tak saya kenal sebelumnya. Semacam mendapatkan kejutan. Mendapatkan teman baru. Yang kalau cocok maka bakal jadi teman sesungguhnya. Yang bila tidak terlalu cocok, lumayanlah dapat kenalan baru yang entar kalau ketemu di lampu merah bisa kita tegur atau klakson.

Pada akhirnya yang ikut serta berjumlah 25 orang. Campuran lelaki dan perempuan. Campuran berbagai usia. Campuran komunitas. Campuran latar belakang. Campuran style. Yang kesemuanya punya kisah masing-masing.

Berbagai kisah dalam benak yang tetap membuat semuanya tetap kuat dan ceria. Berbagai kisah yang tetap membuat masing-masing orang merasa, melakukan perjalanan ini adalah sesuatu yang tepat. Sesuatu yang benar.

Tentang kisah cinta yang tak berbalas. Tentang mencintai dalam diam. Tentang rela berkorban demi perempuan yang dicintai. Tentang kangen suami yang tidak ikut serta. Tentang menunggu sebuah kepastian. Tentang lari dari kebisingan untuk menenangkan hati dan pikiran guna menetapkan pilihan kepada siapa hati harus dilabuhkan. Tentang memaksa hati agar tidak jatuh cinta sembarangan. Tentang kisah pahit yang terlarang untuk jatuh cinta. Tentang membagi hati. Tentang tidak mampu menerima cinta. Tentang terus menanti tanpa kehilangan asa bahwa seseorang yang bakal menjaga hati itu pasti akan datang. Tentang menikmati kesendirian. Tentang berjuang melawan segala keterbatasan. Tentang berbagi. Tentang 25 kisah orang yang melatarbelakangi sebuah senyuman yang tercipta kala menikmati sunset dan debur ombak di Pulau Breuh.

Saya tidak sehebat 24 orang lainnya. Saya tidak punya pengalaman traveling sebanyak mereka. Saya tidak melakukan aksi sehebat mereka. Saya hanyalah seorang karyawati biasa yang mencoba melihat mereka satu persatu. Melihat sisi melankolis sekaligus humoris dari setiap orang. Untuk saya rekam dalam ingatan. Menjadikan cerita. Lalu saya ambil pelajarannya. Bahwa bila kita berduka, duka itu bukan hanya milik kita. Bila kita tertawa, ajaklah orang lain untuk tertawa bersama. Karena dunia itu indah. Karena pun kadang dunia sedang tidak adil, tapi kita selalu punya harapan bahwa duka tak pernah abadi.

Perjalanan ke Pulau Breuh pada rentang waktu 5 hingga 8 Mei kemarin adalah salah satu pengalaman hebat lainnya dalam hidup saya. Meski pulang dengan wajah gosong dan kulit yang perih akibat tak tahan sinar matahari, tapi saya merasa pain yang saya dapat setara dengan gain yang saya genggam.

Awalnya saya sempat ragu untuk ke Pulau Breuh. Bagaimana tidak, awalnya saya traveling hanya ingin melarikan diri dari kenyataan kalau saya lagi-lagi batal kawin. Persis seperti traveling saya ke Korea akhir 2014 lalu. Lalu hanya beberapa minggu sebelum saya berangkat saya punya harapan baru. Jadi ya saya semacam kasian long weekend dipake buat traveling. Mending kencan pikir saya. Soalnya saya dan dia tinggal di kota berbeda karena faktor kerjaan. Sempat galau. Namun akhirnya saya putuskan pergi juga.

Syukurlah saya pergi. Terbebas dari sinyal hingga membuat saya lost contact dengan peradaban membuat saya benar-benar menikmati perjalanan dengan segala keindahan alamnya. Dan dari keheningan tanpa sinyal juga, saya jadi benar-benar berpikir dan menentukan pada siapa saya harus memberikan kepercayaan, hati dan harapan saya. Meyakini bahwa dia yang saya pilih insyaallah menjadi orang yang tepat. Memastikan hati saya tak lagi maju mundur cantik untuk berkomitmen.

Dan ya, meski saya tak jadi kencan namun saya pulang dengan membuat sebuah keputusan mantap. Dan semoga ini keputusan terakhir.

13214952_10205066630539951_492596024_o(1)

Berhenti

Dan kamu memutuskan untuk berhenti mendengarkanku sejak itu. Setelah itu panggilan teleponku tak pernah engkau indahkan. Sejak itu bunyian pesanku selalu terabaikan. Saat itu aku tak lagi mampu mendebarkan hatimu. Itulah saat kamu memutuskan segala yang ada harus diakhiri. Itulah saat aku menyadari semuanya memang telah berakhir.

Lalu dalam diam aku yakin dengan pasti.

Itulah saat melepaskan.
Melepaskan jeratan hatiku yang tertanam di perasaanmu yang gamang.

Itulah saatnya melenyapkan.
Melenyapkan segala rasa dan emosi yang selama mengisi hari.

Itulah saatnya membebaskan.
Membebaskanmu melangkah ke mana kehendak hatimu.

Itulah saatnya meninggalkan.
Meninggalkan dengan ikhlas.

Membiarkanmu terbang bebas. Membiarkanmu mematahkanhatiku. Membiarkan hatiku lepas tanpa sandaran.

Semua itu pada akhirnya berakhir. Dimulai dengan ketika kita berhenti mendengarkan satu sama lain. Berhenti mendengarkan debaran hati masing-masing. Berhenti mendengar. Padahal telinga kita tidak tuli.