Hari tentang doa yang masih sama

Tiga bulan yang lalu usia saya telah sampai ke angka dua yang di belakangnya sudah banyak. Ke umur duapuluh yang ampir dekat ke angka tiga puluh. Di mana krim anti aging makin rutin saya pakai. Di mana kehilangan tabir surya lebih bikin saya sewot ketimbang kehilangan pacar.

Ulang tahun kemarin berlalu  biasa. Penambahan umur seperti seharusnya. Ucapan-ucapan yang biasa disertai iringan doa yang masih sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi.

Klasik.

Semoga jodoh saya disegerakan.

Dan sama seperti tahun lalu. Tahun sebelumnya. Dan tahun sebelumnya lagi, balasan aamiin dengan khidmat saya lantunkan. Agar semesta mendengarkan meski suara saya terlalu sayup.

Tulisan tematik mengenai ulang tahun say,a memang berniat saya tuliskan. Karena entah sejak usia berapa, tulisan mengenai penambahan umur rutin saya tulis meskipun terkadang telat. Bahkan telat sebulan. Ini telat 3 bulan malah.

Ya… mengenai jarang nulis ini, bukan saya aja kok yang ngalamin. Bloger-bloger kece favorite saya juga blognya lama yang hiatus. Setahun posting Cuma 3 tulisan. Atau malah ada yang memang sudah menutup blognya. Entah karena ngeblog tidak seheboh dulu lagi. Entah para blogger yang semakin banyak urusan dunia yang mesti dibenahi.

 

Untuk saya, males dan lebih suka nonton streaming drama korea.

 

Minggu lalu, seluruh pegawai di kantor saya nongkrong cantik di sebuah kafe nge-hits di Banda Aceh. Ngobrol ngalor ngidul. Begosip ini itu. Sesekali bahas OSL dan target. Sesekali adu-aduan NPL. Entahlah…

Hingga ke percakapan tentang bunga. Tentang rangkaian bunga super besar yang diberikan rekan kerja saya ke kekasihnya yang wisuda. Lalu ditimpali dengan rangkaian bunga tak kalah aduhai dari seseorang untuk rekan satu kantor kami. Buket bunga ulang tahun. Yang jumlah mawarnya setara dengan usia dia. 22 tangkai untuk ulang tahun ke 22.

Lalu tetiba saya ingat. Ulang tahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu saya juga diberikan rangkaian bunga mawar oleh seseorang.  Namun jumlah tangkai mawar segar berwarna merah seperti warna kesukaan saya itu tidak menunjukkan jumlah usia saya.

Jumlah tangkai mawar itu hanya 4. Sedangkan usia saya  7  kali lipatnya.

Namun meskipun hanya berjumlah 4 tangkai, tidak membuat saya sirik dengan rekan saya yang berjumlah 22 tangkai. Saya malah senyum geli sendiri dengan bunga tersebut. Hingga sore itu ingatan saya melayang ke hari saya menerima bunga mawar ulang tahun saya.

 

Itu kali pertama saya diberikan bunga. Oleh lelaki pula. Di ulang tahun saya pula.

Apa masih harus saya tidak bersyukur?

Meskipun saya bukan tipikal pecinta bunga. Dan bukan tim perempuan sumringah dikasih bunga saat ulang tahun. Namun, hari itu saya senang. Saya bahagia.

Sesuatu yang pertama memang mampu menjadikan suatu hal spesial. Mendapatkan bunga untuk pertama kalinya memang sukses membuat saya merasa itu ulang tahun yang spesial. Ulang tahun yang saya anggap biasa namun berbeda.

Rangkaian bunga mawar saya yang sederhana membuat senyum saya terkembang hari itu. Diberikan oleh seorang lelaki spesial. Lelaki yang sungguh saya tak menyangka mampu memberikan saya bunga.

Karena awalnya saya udah pasrah dia bakal biasa aja di hari ulang tahun saya. Kalau dia lupapun saya gak bisa marah. Karena memang tipikal lelaki yang seperti itu. Bukan lelaki romantis namun dia klimis.

 

Saya memang gak menganggap bunga sebagai salah satu hadiah yang cocok buat saya. Saya lebih memilih diberikan sepasang sepatu, buku, atau tiket pesawat PP ke Turki. Atau dikasih combo ketiganya malah saya gak mampu nolak. Namun bunga ulang tahun kemarin cukup mampu membuat saya merasa kalau saya ini ternyata perempuan juga. Dan bersyukur lelaki klimis ini mengganggap saya perempuan dan layak mendapatkan bunga mawar berwarna merah.

 

Yah.. meskipun setelah puas saya menimang bunga tersebut saya sibuk mencari-cari apakah ada bingkisan lainnya sebagai kado ulang tahun saya. Syukurnya ada. Karena kalau tidak, apalah arti ulang tahun tanpa kado yang menyenangkan hati. Yang berharga, bernilai dan bisa dipakai. Bukan Cuma bunga yang dipajang beberapa hari lalu layu terbuang.

Hahaha… iya. Itulah kenapa saya kurang sreg ama bunga. Nilai ekonomisnya terlalu cepat menyusut. Hilang lalu dibuang.

 

 

Jadi, ulangtahun keduapuluhyangbanyak kemarin itu. Di doa-doa yang dipanjatkan rekan, sahabat, dan keluarga yang mengharapkan agar jodoh saya mendekat dan ijab terucap cepat demi acara pernikahan yang akan dihelat. Saya berharap, doa itu mampu menembus langit. Diijabah oleh-Nya. Menjadikan saya dan lelaki klimis itu sepasang. Sepasang di dunia dan akhirat. Agar kelak, doa soal jodoh terhenti tahun ini. Agar rekan, sahabat, dan kerabat mampu mengimajinasikan untaian doa lainnya lagi untuk saya tahun depan.

 

Ketik Aamiin atau Like di kolom komentar, tapi gak menjamin kamu masuk surga sih.

 

Recehan yang Menjadi Emas

Hari itu seperti hari kerja lainnya. Nasabah datang silih berganti. Rata-rata ibu-ibu seperti biasanya. Hingga seorang Ibu yang wajahnya familiar bagi saya datang dan berkata, “Dek anak saya mau nabung emas.”

Saya berjinjit sedikit dan melongo ke bawah untuk melihat anak yang dimaksud ibu tersebut dengan gestur tubuhnya. Konter kerja saya tinggi hingga agak menyulitkan saya melihatnya meskipun akhirnya terlihat juga seorang anak perempuan berseragam merah putih.

Criing….criiiing….

Bunyi uang receh nyaring di lantai. Si Ibu mesem-mesem malu.

Dek, kalau uang receh bisa, kan? Ini uang celengannya dia. Dipindahin ke sini aja duit celengnya.

Wah… boleh, bu. Boleh banget. Saya juga malah perlu uang recehan. Rada sulit nyari recehan sekarang, Bu.

Si Adek berseragam SD tersebut lalu dengan kedua tangannya menaruh pundi-pundi hartanya ke atas konter untuk ia berikan ke saya. Saya sambut dengan sumringah. Sumringah karena ini kali pertama mendapati anak SD yang punya kesadaran menabung emas. Sumringah melihat recehan yang bisa dijadikan stok kasir buat kembalian ke nasabah. Sumringah kejadian ini bisa jadi bahan tulisan buat kontes Sahabat Pegadaian.

Dua puluh lima ribu ya, Kak. Sepuluh ribunya sama Mamak.” Ucapnya malu-malu.

Iya. Kakak hitung dulu ya.” Saya meraup recehan tersebut. Si ibu langsung memberikan lembaran sepuluh ribuan yang dia keluarkan dari dompetnya.

Untuk beramah tamah saya bertanya, “Si Adek udah tau kalau uang jajannya dimasukin ke Tabungan Emas gini, Bu?

Udah. Udah saya bilang kemarin itu.

Dianya gak keberatan?

Gak. Dia suka. Ada bukunya. Ada namanya dia.”

Saya terharu. Saya ingin meneteskan air mata. Namun ingat eye liner yang saya pakai gak waterpoof jadinya terharu doang tanpa pake air mata.

Setelah uang kelar dihitung dan jumlahnya sesuai yang disebutkan si adek SD, saya input transaksinya. Si Ibu juga gak mau kalah. Beliau juga ikutan nabung. 300 rebu.

 

Setelah mereka selesai bertransaksi masih dengan senyum sumringah karena mendapati anak SD datang ke Pegadaian bawa recehan beli emas, saya berkata, “Rajin-rajin ya, dek nabungnya. Entar kalau gede emasnya udah banyak, deh.

Si Adek senyum malu-malu. Menggenggam tangan ibunya. Dan berlalu dari kantor saya.

 

Segera setelahnya saya berpikir. Betapa anak SD aja mampu menabung emas, lalu di belahan bumi Nusantara yang lain ada temen saya yang masih meragukan kejumawaan Tabungan Emas. Atau bahkan yang lebih memprihatinkan, belum tau apa itu Tabungan Emas.

 

Saya flashback lagi deh. Meskipun tulisan Tabungan Emas udah berkali-kali saya bahas di blog saya.

Pegadaian kini hadir dengan inovasi yang memudahkan nasabah memiliki emas hanya bermodalkan duit 5 ribuan aja. Produk itu lalu dikenal dan melegenda dengan nama Tabungan Emas.

Tabungan Emas memiliki mekanisme transaksi serupa dengan tabungan biasa pada bank umumnya. Namun yang membuatnya kece dan berbeda adalah saldonya yang langsung dikonversikan ke dalam gram emas.

Kebayang?

Ilustrasi gampangnya gini.

Harga emas hari ini setelah saya cek di Aplikasi Sahabat pegadaian adalah Rp5.480 per 0.01 gram. Jadi bila kamu minimal bawa duit segitu kamu udah bisa nabung emas senilai 0.01 gram. Murah, kan?

Kalau kamu mau bawa duit lebih sih bisa juga. Coba lihat mungkin di dompet kamu ada recehan seribuan atau limaratusan yang berat-beratin dompet. Sinih, tukerin ke emas. ada berapa? 7.000? 10.000? 100.000? terserah kamu deh mau nabung berapa. Berapapun rupiah yang kamu kasih akan Tabungan Emas konversi langsung ke gram emas yang setara. Tapi inget, minimal penyetoran ya harus seharga 0.01 gram yang harganya berubah-ubah setiap harinya.

 

Untuk mengetahui harga emas kamu sih gak perlu repot-repot datang ke Pegadaian dulu. Tinggal gunakan hape, kamu donlod aplikasi sahabat pegadaian. Di sana bakal update harga emas harian per 0.01 gramnya. Atau kamu bisa juga main ke pegadaian.co.id

screenshot_2016-11-30-19-07-48_com-arukasi-pegadaian

Syarat pembukaan rekening Tabungan Emas ini gampang aja. Segampang kita diputusin sama kekasih pas lagi sayang-sayangnya. Eh maap. Keceplosan.

Syaratnya KTP dan uang Adm sebesar Rp10.000 lalu saldo awal per 0.01 gram. dengan ketiga hal itu kamu udah berhasil memunyai rekening Tabungan Emas Pegadaian.

 

Nah, kalau kamu mau tanya kenapa dedek gemesh yang masih SD pun bisa punya rekening Tabungan Emas padahal dia belum punya KTP?

Itu dia nebeng pake rekening emaknya. Jadi dibuatkan qq untuk rekeningnya dia.

14925551_10206173892220801_4970519693940212890_n

Awalnya emaknya harus bikin rekening Tabungan Emas dulu sebagai rekening induk. Lalu untuk membuat buku rekening tabungan si anak secara terpisah tinggal dibuat rekening tambahan dari rekening emaknya. Jadinya buku rekening emak dan anak terpisah. Si anak seneng. Emaknya bangga karena anak kecil udah punya kepedulian untuk menabung. Terlebih menabung emas yang memang udah dipercaya sejak nenek moyang dulu ampuh buat menjaga nilai uang kita.

 

Saya ngebayangin  Si Adek SD itu bila ia rutin menabung setiap minggu atau bulannya dari recehan sisa uang jajannya. Maka kelak, ketika ia dewasa ia sudah memiliki emas yang berlimpah. Yang bisa ia gunakan buat biaya pendidikannya kelak atau modal ia berwirausaha. Apapun itu. Yang jelas, anak sekecil itu sudah berinvestasi sejak belia. Investasi emas pula.

 

Jadi kamu, yang duitnya berwarna merah bergambar mantan presiden masih mikir-mikir buat berinvestasi emas? masih mikir  buat nabung emas? malu ih. Anak SD aja, yang duit recehan bisa nabung emas.Berinvestasi emas. Untuk membeli masa depan dengan harga sekarang.

 

Dan ada yang baruuuuu nih…

Sekarang untuk bertransaksi emas sudah bisa melalui ATM bagi pemegang kartu ATM BNI atau BRI. Jadi entar kalau kamu mau transfer duit buat emak di kampung, istri atau bayar hutang, bisa disekaliankan buat membeli emas via ATM.

 

Ayoooo… menabung emas bersama Pegadaian. Mengatasi masalah tanpa masalah.

IMG-20160404-WA0000.jpg

#AyoMenabungEmas

Cerita-cerita…

Sejak pindah ke Banda Aceh saya udah jarang update blog. Update media sosial juga gak sesering dulu. Semua karena saya udah gak kesepian lagi dan internet tanpa batas di rumah yang gak bikin kita fakir kuota, membuat saya lebih suka streaming daripada nulis.

 

Gak ada lagi pulang kantor Cuma disambut kipas angin. Makan ditemani dispenser dan curhat didengerin angin berhembus. Masa-masa kelam sendirian di desa tanpa ada yang jual empek-empek sudah terlewati.

Yang ada kini pulang ke rumah yang ada penghuninya. Mulai dicereweti lagi untuk makan. Rebutan kamar mandi dengan adek-adek. Dan kalau laper gak perlu pura-pura tidur biar lupa.

 

Suasana di kantor pun beda jauh. Di kantor sekarang ada manusianya. Dulu ya di kantor, ya di rumah, saya sendirian. Kini ada banyak manusia lainnya. Ada obrolan khas karyawan dan perempuan. Dari bahas si bos, nasabah, hingga mantannya rekan kerja. Dari bahas tas, pamer lipstik baru, hingga rebutan cane rasa coklat. Lebih hidup. Namun juga dengan beban kerja yang gak sesantai dulu. Dengan target yang bikin kening berkerut. Dan dengan jadwal kerja yang menjadikan hari Minggu tinggal legenda.

 

Namun bila ditanya, enakan mana, di tempat dulu atau di Banda? Rasa-rasanya gak perlu bibir saya menjawab. Tempat Dulu adalah desa yang tak kurindukan.

Bila ditanya, apakah saya senang kembali ke kota dan rumah sendiri? Rasa-rasanya gak perlu ditanya lagi. Meski lebih capek namun dengan kembali ke rumah semua terasa lebih mudah. Tidak ada lagi perjuangan sendiri dan susah-susah sendiri. Tidak ada lagi sakit sendu sendiri. Dan tidak ada lagi nangis Cuma peluk guling kalau lagi ada masalah.

Meski awal-awal mutasi ke kantor baru semua terasa lebih kejam daripada ospek mahasiswa baru. Dengan bos-bos yang begitu banyak. Dengan daftar target yang begitu jumawa. Dengan rekan kerja yang belum bisa saya ngerti. Bahkan saya sempat nangis di brangkas. Sempat nangis di depan Pak Bos. Sempat tersisih dan tersudut. Sempat dianggap Cuma seperti pot bunga di sudut ruangan saat rapat. Sempat dikucilkan. Dan sempat stress hingga jerawat membabi buta tumbuh di wajah.

Namun akhirnya semua terlewati juga. Sedikit demi sedikit semua membaik. Dan yang terpenting, saya mulai terbiasa. Terbiasa akan aturan yang lebih keras. Dengan target yang lebih banyak.

Yang dulunya nangis di brangkas, kini bisa ketawa ngakak dan gosip heboh di brangkas. Yang tadinya jadi pot bunga di sudut ruangan, sekarang jadi AC. Kalau mati pasti dihidupin supaya gak kepanasan. Tapi kalau hidup yang dicuekin. Haha… lumayanlah. Setidaknya udah gak dikucilkan lagi.

 

Sebentar lagi akhir tahun. Target- target harus tercapai. Meskipun dari sekarang udah tau berada di posisi aman. Tapi semua pasti bisa berubah di bulan Desember. Namun, apapun itu soal kerjaan yang mulai terkendalikan, saya berharap soal asmara juga mulai terkendalikan dan terprediksi. Jadi bukan soal target kerjaan aja yang berhasil namun target pribadi juga.

 

Meski masih November, saya sudah kadung berharap Desember tahun ini menjadi Desember yang lebih indah dari tahun sebelumnya.

Namun, Sayang…

Di suatu sore kita bertemu yang tanpa gebu. Tanpa tahu apa yang semesta mau. Namun itu menjadi sore yang mengubah segalanya. Mengubah lara menjadi ceria. Mengubah sendu menjadi senyum malu-malu. Dan yang paling hebat adalah, menjadi sehebat-hebatnya penyembuh luka yang muak menganga di hati kita.

Guliran waktu menjadi saksi tahap demi tahap bagaimana perasaan kita mengubah tujuan kita yang masing-masing menjadi tujuan yang sama dan bersama.

Hari-hari yang kita lalui. Senyum yang terkembang. Tawa yang melebar. Pertikaian dan argumen yang egois. Emosi dan segala arogansi. Sudah menjadi makanan sehari-hari.

 

Hingga lalu kita merasa jenuh. Jenuh akan senyum yang esoknya berubah menjadi amarah. Jenuh akan tawa yang esoknya menjadi teriakan. Tanpa tahu apa yang semesta mau terhadap kita.

Namun, Sayang. Ketahuilah ini. Meski tak sekalipun panggilan ‘Sayang’ aku lantunkan dari bibirku untukmu. Pun melalui jemari di pesan text. Namun, Sayang, padamulah aku ingin semua ini berakhir. Berakhir kehidupan sendiriku. Untuk kujalani berdua denganmu.

Meski kelu lidahku tuk berucap langsung. Namun hatiku tahu. Aku cinta kamu. Dan kamu harus tau.

 

Meskipun kita masih tak tahu bagaimana semesta merangkai cerita esok bagi kita. Namun biarlah kita terus berharap, agar semesta mau berbaik hati. Membuat mimpi kita menjadi nyata. Membuat dunia ikut tertawa pada kita. Lalu saat kita berpandangan, kita tahu, kenapa masa lalu mempermainkan kita begitu kejam. Semua karena agar kita bertemu lalu hati kita tergenggam. Pada perasaan yang dalam. Di siang dan malam.

 

 

 

Kilas Balik Tabungan Emas Pegadaian

“Tan, tabungan emas itu apa sih?” tanya seorang teman yang membuat saya membulatkan mata saya.  Hari gini masih ada temen saya yang gak tau menyoal tabungan emas membuat saya merasa gagal menjadi teman sekaligus menjadi pegawai Pegadaian.

Kalau saya kumpulin daftar FAQ menyoal tabungan emas, mungkin setara list-nya dengan nasabah jatuh tempo saya. Artinya apa? Banyak.

 

Di postingan kali ini saya akan mencoba menjelaskan mengenai tabungan emas dengan bahasa sederhana karena kalau pakai bahasa Macedonia saya belum belajar.

Tabungan emas itu sederhananya adalah kita bisa beli emas dengan uang 5000 ribuan aja. Ya tergantung harga emas saat itu ya, kalau hari ini harganya berada di angka 5.800 per 0,01 gram. Jadi uang 6000 rupiah kamu yang buat ngebakso aja masih keselek karena gak pake minum, udah bisa jadi emas.

 

Emang sih, seperti komentar temen saya, 0.01 gram itu segede upil aja kali gak ada. Tapi upil demi upil kalau dikumpulin bakal jadi monster upil juga tuh. Gitu juga dengan tabungan emas, dari 0,01 gram kamu kumpulin dengan istiqomah lama kelamaan bukan gak mungkin kamu punya tabungan emas senilai 2 kilo.

Sebenarnya tabungan emas ini menurut saya merupakan salah satu solusi buat lelaki jomblo yang pengen nikah namun susah buat ngumpulin mahar. Ya karena kalau mau beli emas di toko emas gak mungkin bisa dengan uang 5000-an. Makanya, Pegadaian hadir mengatasi masalah kaum jomblo tersebut. Karena eksistensi emas di Indonesia konon lagi di Aceh adalah suatu keniscayaan.

Nabung emas itu sama kayak nabung uang di Bank. Bedanya adalah saldo tabungan emas langsung dikonversi ke dalam emas dalam bentuk gram. Jumlah uang yang kamu setorkan juga semampu kamu aja sih. Minimal ya harus seharga 0.01 gram pada hari itu. jadi punya uang 10 rebu bisa nabung. Punya 57 rebu bisa nabung. Punya 1.567.000 juga bisa ditabung.

Nabungnya juga bebas mau kapan. Mau hari Senin  atau Selasa terserah. Rabu atau Kamis ya mana enaknya aja. Jumat boleh. Sabtu? Pegadaian buka dong di hari Sabtu. Asal jangan Minggu aja ya mau nabungnya. Minggu tutup.

Jadi intinya itu, tabungan emas itu fleksibel. Kita bisa setor berapa aja dan kapan aja itu sesuai hasrat kita. Kalau mau cepet terkumpul emasnya biar banyak, ya nabungnya yang rajin. Rokoknya dikurangin. Disisihkan jadi tabungan emas. Cepet deh kamu nikah.

Sebenarnya menyoal tabungan emas ini udah pernah saya bahas pada postingan di bawah ini.

Ketika Duit 5 Ribu Bisa Jadi Emas

Jadi kalau kamu sempat baca postingan saya hari ini. Coba klik deh postingan lama saya. Semoga mencerahkan. Kalau udah tercerahkan, bagi kamu warga Banda Aceh dan sekitarnya yang mau buka tabungan emas sekaligus silaturahmi sama pengelola cantiknya. Bisa kunjungi saya di Pegadaian Unit Punge. Letaknya di jalan menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Kalau berjodoh, kita akan bertemu. Bila tidak sampai ke pelaminan, sampai ke pembukaan rekening pun jadi.

 

Wassalam…

 

 

Cerita Ibu yang Resah dan Anak yang Galau

Pagi tadi di ruang brangkas, saya menyapa sekaligus menyindir iri rekan sekantor saya yang sukses ijin ngantor kemarinnya. Bukan apa-apa sih, cuti di Cabang ini level sulitnya setara seperti saya nemu jodoh. Udah ajukan, belum tentu bisa cuti. Udah tunangan, eh gak jadi nikah. Itu maksudnya dari kata setara.

Tapi si Kakak yang diragukan umurnya setua KTP-nya ini eh, bisa-bisanya aja tuh cuti dadakan sehari. Alasannya karena ingin temenin anak sulungnya yang ikutan pawai di kota yang lain.

Iya sejak ia dimutasikan ke Banda Aceh, anak sulungnya masih berada di kota tempat tinggalnya dulu.

Awalnya saya merasa menghadiri acara pawai anak itu hal sepele. Yah.. Cuma pawai. Entahlah kalau wisuda, pembagian rapot, atau menemani si anak untuk mengambil piala kemenangan.

Namun setelah mendengar jawaban si Kakak rekan sekantor saya itu, saya jadi bungkam, merinding dan berubah pikiran.

Awalnya si Kakak gak berencana pulang dan memang udah katakan pada anaknya gak pulang. Anaknya ngambek dong, dan mulai menilai betapa dirinya sungguh malang karena temen-temennya bakalan ditemani sama Ibunya sementara dia tidak. Sementara dia harus pawai tanpa ditemani dan dilihat oleh Mamanya.

Mungkin akhirnya rekan kerja saya ini kepikiran oleh kata-kata si anak, gak tega dan galau hingga membuat dia memberanikan diri mengajukan cuti dadakan dengan langsung bicara ke atasannya atasan.

Singkat cerita si Kakak cuti dan pulang ke kota tempat anak sulungnya beserta suaminya tinggal. Menurut cerita si Kakak, betapa anak sulungnya begitu senang ketika ia pulang. Berlarian, memeluk, bersuka cita senang sekali. Kepulangan Mamanya layaknya sebuah hadiah paling istimewa dan dinanti olehnya.

 

Sambil mengubek-ubek isi brangkas dan belagak cuek mendengar ceritanya, saya diam-diam terenyuh. Cerita itu membuat saya merinding.

Saya sudah terlalu banyak menonton film, video klip, atau iklan tentang anak yang tengah ikut pertunjukan namun orangtuanya terlalu sibuk hingga gak bisa menyaksikan pertunjukan tersebut. Namun, di detik terakhir, di asa terakhir dalam batin si anak datanglah sosok orang tua yang dia tunggu secara ajaib dan drama hingga membuat si anak bersuka cita dan bersemangat mengisi pertunjukan.

Selama hidup, saya tak pernah mengalami hal serupa cerita di atas. Saya bukan anak yang mesti didampingi orangtua, terlalu sering kegiatan saya semasa kecil tanpa didampingi. Bahkan, saat wisuda sarjana saya gak menyerahkan undangan orang tua kepada ayah atau ibu saya. Menurut hemat saya, gak ada istimewanya saya ketika wisuda, tidak cum laude. Jadi saya hanya akan jadi wisudawati yang biasa saja di antara ribuan peserta lainnya.

Orang tua saya pun tipikal simpel. Anaknya gak minta datang ya gak datang. Saya hanya minta dijemput usai prosesi wisuda, lalu kami lanjut dengan acara keluarga untuk syukuran kelulusan saya. Saya lebih suka begitu.

Makanya, saya gak dapat feel galaunya si anak dan resah nya si orangtua yang biasanya dimunculkan dalam film atau iklan itu. Saya baru ngeh ama hal begituan ya karena cerita rekan kerja saya. Dalam hati saya terbersit kalau ternyata hal kayak gituan nyata adanya. Bukan rekaan cerita melankolis di drama doang ternyata.

 

Mungkin benar kata “Si Abang”, gak semua hal dalam hidup bisa kita lakukan secara simpel dan main gampang aja. Gak semua kejadian bisa kita anggap sepele. Kalau itu saya anggap sepele bukan berarti bagi orang lain sepele. Dan mungkin karena saya kurang peka dan belum punya naluri keibuan.

Menilik kisah si rekan kerja saya juga jadi berpikir serius. Bila kelak saya jadi seorang Ibu, mungkin saya harus lebih peka. Untuk hal-hal sederhana kadang anak ingin kita sebagai Ibu atau orangtuanya mendampinginya. Dan saya mungkin kelak, bila bekerjanya harus pindah-pindah terus dan terpaksa pisah sama anak, harus juga bisa akrobat atau salto untuk bisa ke sana ke mari supaya punya waktu di hari penting si anak.

 

Ya… kalau mau lebih mudahnya sih, jalankan aja niat yang menjadi tagline hidupnya saya selama setahunan terakhir ini.

Resign, menikah lalu jadi ibu rumah tangga.

 

Anaknya Dua

Mata saya beradu pandang pada sesosok wanita cantik dengan alis tercetak sempurna. Pada detik pandangan kami bertemu ia sunggingkan sebuah senyum. Di tengah kesibukan melayani nasabah batin saya membenak, bahwa saya seperti mengenal senyum tersebut. Namun alih-alih mencoba mengingat saya hanya mampu membalas senyumnya dengan senyum dadakan yang tak sempurna.

 

Tiba giliran wanita tadi maju ke loket. Setelah cincinnya saya terima untuk saya taksir jumlah pinjamannya saya melihat kartu identitasnya. Namanya. Ah iya. Dia adalah sesosok wanita yang pernah saya kenal di masa lampau. Saya tidak ingat namanya. Saya juga agak sedikit meragukan tadi mengingat wajahnya. Namun bila wajah itu dipadukan dengan nama yang saya baca di KTP-nya maka saya tahu bahwa dia adalah adik kelas saya ketika SMP.

 

Jumlah uang pinjaman yang bisa diberikan telah ditentukan. Namanya saya panggil. Ia bangkit dari ruang tunggu dan berdiri di depan loket dengan penuh percaya diri dan lagi-lagi dengan senyum yang masih sama sejak bertahun-tahun lalu.

 

Setelah menyepakati jumlah pinjaman dan saya tau ia seperti mengenali saya, saya bertanya.

“Kita kenal kayaknya ya?”

“Iya kayaknya. Kakak SMP 3, bukan?”

“Iya. Ah.. berarti kita satu SMP,” jelas saya.

“Iya,”

 

Beginilah serunya bekerja di bagian layanan. Setiap hari kita ketemu dengan orang berbeda dengan banyak ragam maunya. Serunya lagi kali ini saya bekerja di bagian layanan dan di kota tempat saya tinggal. Bukan lagi merantau. Di mana sering saya jumpai orang-orang yang saya kenal sejak kecil. Seperti momen ketika saya bertemu dan melayani temen SMA saya yang dulunya tukang teriak-teriak di kelas kini sudah bersorban dan berjanggut. Saya temui guru Matematika saya ketika SMP. Saya temui teman masa kecil saya. Saya temui adek kelas saya.

Beberapa membuat saya takjub, betapa waktu mampu mengubah tidak hanya penampilan namun juga karakter. Beberapa tetap setia dengan gaya dulunya. Seperti wanita yang tengah saya layani tadi. Si adek kelas.

Posisi kami yang sama-sama berdiri membuat saya ciut. Seingat saya dulu tinggi kami tidak berbeda. Namun kini ia tampak begitu tinggi. Saya mencoba tidak minder saat itu juga karena berpikir mungkin dia pakai heels sementara saya pakai sepatu flat.

 

Oh.. .. Gosh.. ini sesuatu yang tidak bisa saya hindari untuk lihat. Dadanya. Dengan posisi berdiri berhadapan ukuran dadanya sungguh sangat mengintimidasi milik saya. Begitu aduhai.

Jadi selain wajah dengan cetakan alis sempurna, senyum bibir basah yang sejak SMP sudah ia miliki bahkan tanpa perlu menggunakan lipgloss, tubuh tinggi semampai, berdada besar, berpinggang ramping lenggak-lenggok, si adek kelas saya itu sungguh telah tumbuh sempurna. Menjadi wanita cantik yang ummmm…. sungguh menggoda iman lelaki.

 

“Berapa udah anggota, Kak?” pertanyaannya mengalihkan pandangan mata saya dari dadanya.

“Haaa?” saya kikuk.

“Berapa anggota, kakak?”

“Di sini?” tanya saya bego. Saya ngertinya dia sedang bertanya di kantor saya berapa orang anggotanya. Walaupun saya bingung juga ngapain dia tanya gituan.

“Anak kakak. Udah berapa?” dia bertanya sambil kembali tersenyum. Mungkin kali ini senyumnya sambil ngejek saya yang jadi bego

“Oh… dua,”

Makjleb. Saya jawab spontan tanpa mikir. Biasanya saya jawab gituan kalau ada nasabah iseng tanya saya udah berkeluarga apa belum. Atau tanya status saya atau tanya anak berapa. Saya jawab aja singkat. Daripada saya jawab sebenarnya terus saya diceramahi -oleh nasabah yang gak kenal-kenal amat- soal usia perempuan dan karir yang jangan terlalu dikejar.

Nasabah kurang tau. Hari-hari, selain mengejar nasabah jatuh tempo saya nyambi ngejar jodoh.

“Sama. Saya juga udah dua, Kak,”

Wow… tetiba saya bersyukur menjawab kalau anak saya udah dua. Jadi setidaknya tanggapannnya kemudian yang entah apapun itu kalau tahu saya belum menikah tidak membuat saya minder. Biarlah dia kena saya bohongi. Saya berharap tidak ada kelak hingga ia tahu saya berbohong ternyata.

Iseng, saya perhatikan KTP-nya. Berharap saya bisa melihat dengan siapa dia menikah. Penasaran lelaki seperti apa yang berhasil mendapatkan nona cantik walau otaknya biasa-biasa saja ini.

Namun, KTP mana sih yang menjelaskan kita menikah dengan siapa? Tok hanya tertulis status: KAWIN sebagai penanda statusnya. Lalu mata saya melihat ke informasi tanggal lahirnya. Ebuset.. ternyata dia lebih tua 3 bulan dari saya dengan tahun kelahiran sama. Dan dia manggil saya kakak?

Oke.. gak bisa disalahkan sih. Toh ketika sekolah dia memang di kelas yang di bawah saya setingkat. Wajar aja dia manggil saya kakak.

“Kegiatannya apa sekarang?”

“Di rumah aja, Kak. Jadi ibu dan istri yang baik aja,” dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum bibir basahnya lagi.

Saya memberikan sebuah senyuman. Gimanapun setelah berhasil tumbuh menjadi sesosok wanita cantik sempurna, punya anak dua, menjadi ibu rumah tangga adalah poin ketiga yang saya iri dari wanita ini.

“Sebenarnya ada jualan online juga sih, Kak,”

“Ohya? Jualan apa?”

“Tas”

Reflek saya melihat tas yang ia tenteng. Sebuah tas hitam metalik. Dandanan dia jauh dari kata ibu rumah tangga biasa memang. Bahkan ia lebih modis ketimbang pegawai bank. Polesan wajahnya lebih cantik ketimbang SPG kosmetik. Tubuhnya setara pramugari.

 

Setelah uang pinjaman ia terima, ia berlalu. Nasabah mengantri masih banyak. Pikiran saya tentangnya tak boleh menyita waktu saya. Namun, di akhir benak, saya ingat.

 

Tadi siang, setelah pintu kantor saya dia tutup. Ketika ia pergi melanggak-lenggok di atas heelsnya hinggal membuat potongan baju peplumnya menari-nari. Bukan tubuh moleknya yang saya irikan.

 

“Anak dua,”

Itu yang terus terngiang. Betapa saya iri ketika ia dengan senang mengatakan anaknya sudah dua dan menjadi ibu rumah tangga. Sementara saya hanya membual dan terus masih harus menghadapi nasabah setiap harinya.