Menikah: The End

Meningat sebentar lagi (atau mungkin entah kapan) saya akan menikah, wejangan kian deras memenuhi kedua telinga. Dari keluarga, rekan kerja, sahabat, atau teman dunia maya yang jauh di mata dekat di gadget. Wejangan dari mereka bernada sama, menyerukan satu irama agar saya kelak mampu menjadi istri yang penurut, yang sabar, yang lemah lembut, yang setia melayani, yang menjadi pendukung, yang harus kuat dan tegar, yang kalau dirangkum akan menjadi Super Woman namun berhati lembut.

Bukan saya tidak mengacuhkan nasihat mereka. Itu merupakan ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya. Saya senang mereka peduli sama saya hingga meberikan petuah bijak serupa itu.

Namun…

semua petuah itu malah membuat mindset saya akan pernikahan menjadi kembali seperti dulu. Kembali menjadi Intan yang antimenikah seperti bertahun-tahun lalu. Karena menurut saya akhirnya menikah itu membosankan.

Bukankah akan amat bosan bila semua-semuanya menjadi tergantung pada kita sebagai istri? Kita yang dipaksa sabar, kita yang dipaksa lemah lembut, kita yang dipaksa tegar, kita yang dipaksa setia melayani, kita yang harus nurut, kita yang bla… bla… bla…

Haruskah saya selalu sabar? Iya.

Tapi saya ingin sesekali ketika saya meluapkan amarah suami saya datang mengelus kepala saya dan mendekap saya dalam pelukannya, agar amarah saya reda.

Haruskah saya lemah lembut? Iya

Tapi saya juga ingin dapat meluapkan kekesalan saya bila suami saya bertingkah menyebalkan. Bukankah itu manusiawi?

Haruskah saya tegar dan kuat? Iya

Tapi bolehkan bila sesekali saya ingin bermanja dalam pelukannya atau menyandarkan kepala pada pundaknya ketika dunia terasa sesak untuk saya?

Haruskah saya selalu melayani? Iya

Tapi apakah berlebihan bila saya ingin dia tidak memperlakukan saya layaknya pembantu? Apakah nista bila lelaki ikut membantu istrinya mencuci piring? Atau menguras bak mandi?

Mungkinkah lirik-lirik lagu, cerita cecintaan di novel dan romansa film-film itu hanya cocok ketika berpacaran dan menjadi lelucon bila dibawa dalam kehidupan pernikahan?

Salahkah saya terlalu berharap akan ada sedikit keromantisan unyu-unyu di mana saya diperlakukan layaknya perempuan paling beruntung bila sudah menjadi istri?

Karena bila memang adanya menikah akan menjadikan perempuan penuh tanggungjawab membosankan, tanpa jiwa dan hatinya disiram akan cinta, kasih sayang, perhatian, dan romantisme unyu-unyu maka menikah itu sama sekali tidak menjadi indah.

Dan bila saya harus menjadi pihak yang berkorban dan terus mengalah tanpa adanya perhatian, rasa peduli, saling menolong, rasa cinta dan kasih dari sang suami maka…

251020_175281832533796_7802825_n

kehidupan saya telah tamat.

Perlahan

Dengan perlahan aku ingin mencoba belajar mencintaimu.

tumblr_ln7vfdHXZA1qlaa6wo1_400

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Namun mengapa yang kurasa kamu menghambatinya?

 

 

 

Mencontek Dia

Biasanya hal yang paling saya inginkan dari peralatan Doraemon adalah Pintu Kemana Saja. Bayangkan, dengan pintu ajaib itu kita bisa ke mana saja yang kita inginkan tanpa perlu berlelah-lelah dalam perjalanan, tanpa perlu waktu khusus dan terlebih lagi tanpa perlu biaya. Sekali lagi, bayangkan, bila ada alat itu saya bahkan mungkin bisa ke Belanda, negara impian saya tanpa perlu modal yang banyak.

Namun saat ini saya tak ingin Pintu ke Mana Saja Doraemon, saya ingin laci meja belajar Nobita. Laci yang oleh Doraemon disulap menjadi lorong waktu.

Ya saya menginginkan Lorong Waktu tersebut.

Saya ingin kembali ke tahun-tahun sebelumnya. Ke tahun-tahun di mana hidup saya tak sedikitpun bersinggungan denganmu. Ke tahun sebelum ada sebuah sua yang mengikat kita.

Ada yang ingin saya ketahui. Tentang bagaimana kamu, bagaimana dia, bagaimana kalian. Bagaimana kamu terhadapnya, bagaimana dia terhadapmu. Bagaimana kalian saling. Bagaimana kalian bersama.

Karena menghadapimu saya tak punya petunjuk.

Jadi mungkin saya ingin mencontek sedikit saja caranya.

images

 

Rindu

Bila saya merinduimu, saat itulah saya meneleponmu.

 

 

hotline_by_splorp_at_flickr

 

 

 

 

 

 

 

 

Meskipun saat sedang telponan tak sekalipun kata ‘rindu’ saya ucapkan.

Saya Punya Rencana, Allah yang Menentukan

Manusia hanya bisa berencana namun Allah swt-lah yang menentukan, cucok jadi kata pengantar tulisan saya berikut ini.

 

*benerin posisi duduk

 

Sudah April ya ternyata. Waktu kayaknya buru-buru banget deh bergulir padahal kan saya-nya punya keinginan untuk nikah tahun ini. Lah ini kalau persiapannya belum kelar dan tahun udah berganti maka cita-cita saya batal dong?

 

Okeh. Ketimbang ngalor ngidul nih saya curcol mari simak apa yang mau saya bahas. Kalau gak mau ya silahkan mampir ke blog lain yang mungkin lebih banyak faedahnya daripada blog dari blogger abal-abal kayak saya.

 

Tu … wa… ga… pat!

 

Pada awal tahun 2014 saya dengan tekad bulat udah merencanakan ingin membuat tulisan mengenai resolusi saya tahun ini. Sebelumnya saya gak pernah sih nulis itu yang namanya resolusi. Saya punya buku yang berisi mimpi-mimpi saya dan tenggat waktu kapan harus saya wujudkan, tapi saya gak pernah menulis resolusi tahunan.

 

Mengapa?

Karena biasanya melihat dari orang-orang itu hanya resolusi anget-anget tai ayam. Jangan salahkan saya kalau mengambinghitamkan ayam. Karena ayam ya ayam. Bukan kambing.

#tulisan makin geje.

 

#balik ke pokus utama

 

namun akhirnya pupuslah keinginan saya menulis resolusi tahun 2014 di blog Kura kura Hitam ini dikarenakan…..

 

 

Lapie, laptop kesayangan saya (karena satu-satunya) yang sudah menemani saya sejak tahun 2008 tewas pada akhir bulan Desember tahun 2013.

*need pukpuk, guys.

 

Jadilah saya mati gaya. Kehilangan. Hilang arah dan tujuan. Dan satu yang pasti: gak bisa nulis lagi.

 

Ketika ingin diperbaiki itu laptop akan menguras kantong saya. Pikir-pikir ketimbang bikin mending beli baru. Namun hingga tulisan ini diposting-pun saya belum beli laptop baru. Karena saya lago butuh modal.

 

Modal nikah.

*nyengir.

 

Selain membuat resolusi saya juga sebenarnya berencana ingin membuat tulisan yang bisa memotivasi diri saya agar kembali bisa menulis setiap hari lagi. Semacam ingin meneguhkan hati agar terus menulis dengan membuat postingan dengan suatu tema. Ya rencananya saya ingin memecut keinginan nulis saya dengan menjadikan Bulan Januari dengan tulisan bertema. Temanya adalah #pertama. Jadi ya selama satu bulan penuh saya akan berkisah tentang apa-apa aja yang menjadi pertama dalam hidup saya. Semisal pertama kali gajian, pertama kali pacaran, pertama kali nge-kost, pertama kali makan bakso, tapi tentu saja tanpa pertama kali malam pertama (belum soalnya).

 

Namun ya balik lagi ke pembukaan tulisan saya ini. Saya cuma bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Laptop saya rusak, saya gak bisa nulis leluasa dan hanya disibukkan dengan main game dan hunting tema pre-wed yang mantap.

 

Sesekali ada nulis via ponsel (yang sudah pintar) saya, tetapi kalau tulisannya panjang kayak gini mbok ya males juga.

 

Maka, postingan berbau pemberitahuan ini saya tulis pake komputer kantor saat saya masihlah makan gaji buta.

 

Menulis dengan komputer kantor itu gak nyaman. Kayak pergi keluar rumah tapi gak pake jilbab. Ya gitulah kira-kiranya.

 

 

 

Tak Bersejajar (Tak Berjodoh)

Semakin tak bisa saja aku menyejajarimu. Sudahlah langkahmu kian lebar membuatku berlari-lari kecil di belakangmu. Jangankan berharap tanganku bisa kau gandeng bersejajar saja aku tak mampu.

Duhai lelaki yang menyenangi kebebasan sementara aku hanyalah perempuan yang terikat aturan, bagaimana caranya agar aku bisa menghirup oksigen yang sama di tempatmu?

Kini jauh lebih sulit. Kamu yang mempunyai langkah lebar dan panjang, kamu yang menyukai kebebasan kini tengah bercengkerama dengan awan putih.

Adalah aku yang semakin jauh darimu. Adalah kamu yang semakin tak terjangkau.

Mungkin ini yang dinamakan tak jodoh.
Mungkin ini yang disebut-sebut sebagai cinta tak berbalas.

Mungkin kamu hanyalah tetap menjadi angan-tak-berkesudahanku.

Kamu, perempuan yang…

Kamu, perempuan yang berhasil mendapatkannya tanpa usaha berlebih. Tahukah kamu betapa aku pernah usaha begitu gigih hanya untuk menarik sedikit perhatiannya agar sudi bicara denganku? Kamu, wahai perempuan, menjadi sosok yang aku benci.

Kamu, perempuan yang berhasil membuatnya mengucapkan ijab qabul untukmu. Tahukah kamu aku begitu patah hati mendapatkan undangan pernikahan kalian? Kamu, sosok yang aku cemburui sangat banyak.

Kamu, perempuan yang beruntung yang telah mendapatkan lelaki itu, lelaki yang aku puja. Kamu, perempuan yang kini bersamanya jadilah pantas untuknya.

Karena aku selain tak mampu menarik sedikit perhatiannya, aku juga tak mampu mengulur waktuku lebih banyak agar lelaki yang kupuja itu tetap lekat kupandang.

Kamu, jagalah dia. Bila tidak, aku akan meminta malaikat maut menggantikan posisi kita, takdir kita, dan hidup kita.

Ini ancaman.

Dengan penuh rasa cemburu,
Perempuan yang mencintai suamimu begitu terlalu.

Pada Jari Manis

Saat yang mengumbar cinta kalah dengan yang memberi bukti (cinta).

image

Terima kasih telah menyematkannya pada jari manisku.

Banda Aceh, 15032014

Tepat

Saat kamu lahir saya belumlah lahir. Saat usiamu beranjak 18 bulan barulah saya lahir di dunia ini. Selanjutnya kita menjalani hidup tanpa saling mengenal satu sama lain.

Mungkin iya, ada pada suatu lokasi di kota tempat kita tinggal dan besar kita saling berpapasan, namun takdir saat itu tidak menginginkan kita bersinggungan. Mungkin. Mungkin juga selama hidup, memang tak sekalipun kita berpapasan. Mungkin.

Lalu usia demi usia kita jalani tanpa sedikitpun menyangka bahwa kamu suatu ketika akan bertemu dengan perempuan seperti saya. Hari-hari yang saya jalanipun tanpa ada aba-aba bila suatu hari ada masa di mana saya berkenalan dengan kamu.

Babak demi babak episode hidup kita terus berganti dan di dalamnya para pemain datang dan pergi dari hidup kita. Namun kita masih terus terpencar. Kita masih bertanya-tanya siapakan belahan dari diri kita yang sebenarnya.

Sampai pada usia saya menjelang 25 dan kamu menjelang 27 akhirnya alam memutuskan sudah saatnya kita bertemu. Kita memang bukanlah Adam dan Hawa yang bersama-terpisah-lalu bertemu. Kita terpisah tanpa pernah bersama untuk lalu dipertemukan. Lalu karena kita memanglah cucu sang Adam maka kitapun mengikuti jejaknya. Mengitari bumi hari demi hari berharap suatu ketika kita yang tak pernah saling mengenal akan bertemu pada satu titik yang sama.

Dan kita dipertemukan.

Kita bertemu.

Setelah 25 tahun saya tinggal di bumi, setelah 27 tahun kamu di bumi. Akhirnya kita bertemu.

Kita bertemu pada satu titik yang sama.

Terlalu lamakah saya muncul di depanmu? Atau terlalu cepat?

Saya belum bertanya hal itu padamu hingga saya tak tahu jawabnya untuk saya ulas pada tulisan saya ini. Namun bagi saya, kamu bukanlah sosok yang datang terlalu lambat atau terlalu cepat, kamu datang di saat yang tepat.

Tepat untuk kita bertemu. Tepat untuk kita belajar mencintai. Tepat untuk kita bergerak maju menyempurnakan separuh agama.

Kenapa Harus Mandi Kalau Bisa Gak Mandi?

Apa sih yang salah dengan jarang mandi?

Saya belum menemukan alasan yang cukup kuat kenapa saya mesti mandi di pagi hari libur bila memang hanya akan nongkrong di rumah seharian. Saya juga belum menemukan alasan yang bagus kenapa harus mandi sore sepulang kantor bila memang badan baik-baik saja karena tidak merasa gerah atau bau. Saya bahkan tidak merasa sepulang latihan yoga di malam hari saya harus langsung mandi.

Alasan saya gak mandi ya buat apa?

Toh saya tidur sendiri dan yang pasti saya gak bakal mengganggu orang lain kalau saya bau. Lagian saya hanya di rumah saja. Kabar baiknya, saya gak akan pergi ke luar rumah bila belum mandi. Nah, jadi kenapa kejarangan saya mandi malah diherankan, kan?

Lagian, saya ini sudah menobatkan diri saya sebagai duta lingkungan yang akan menghemat air. Dengan jarang mandi maka saya sudah menghemat pemakaian air.

Kalian boleh berkilah kalau air itu gratis selama gak pake PDAM. Tapi tahukah kalian kalau di Indonesia masih banyak daerah yang kekurangan air bersih?

Masih inget sama iklan si Beta yang kekurangan air hingga harus berjalan jauh untuk mengambil air. Lalu berkat kebaikan hati Aqua, si Beta kini tidak kekurangan air lagi.

Masih banyak beta-beta lain di Indonesia ini yang kekurangan air bersih, masa iya kita gak ada toleransinya sedikitpun dengan menghambur-hamburkan air bersih hanya untuk mandi?

Mandi seperlunya saja. Semisal akan bepergian atau sepulang dari bepergian bila badan terasa lengket, bau dan berkeringat. Jadilah duta lingkungan hemat air untuk diri sendiri.

Gak. Saya bukan malas mandi. Saya hanya jarang mandi dengan alasan menghemat air. Ini serius. Serius banget malah. Saya gak bercanda. Ini bukan pembenaran diri. Ayolaaaaah… mandi itu tak segitu pentingnya.

Blog Stats

  • 90,935 hits

Archives

Kapan Gajian?

April 2014
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,764 other followers