Sinyal Buruk Penghalang Cinta

Kemarin seorang rekan seangkatan kerja saya menelepon. Si dia ini adalah lelaki yang sangat kurang beruntung mendapatkan penempatan di Sinabang. Sinabang (Sinabang ya, bukan Sabang) adalah sebuah pulau yang untuk melintasinya ampun-ampunan deh. Usaha banget. Alhasil jauhnya jarak, susahnya transportasi membuat dia jarang pulang kampung. Gak seperti saya yang tiap minggu bisa pulang ke rumah. Mari kita bersama-sama memberikan doa kepadanya agar ia betah dan mendapatkan berkah selama penempatan di sana. Aamiin…

Balik lagi ke si rekan. Dia telepon saya untuk mengucapkan, “Tan, selamat ulang tahun ya,”

E buset…hehe onion head

Kontan saya tertawa sebelum membalas ucapannya, “makasih ya, Bang. Tapi Abang ucapinnya kecepatan setahun kurang 14 hari nih.”

“Maaf, Tan. Abang tau telat ucapinnya tapi mau gimana lagi, tau sendirilah kondisi Abang sekarang. Di Pulau. Jaringan susah kali. Kita kan enaknya tuh kalau teleponan jam-jam setelah Isya gitu. Nah, di saat waktu kayak gitu sinyal jaringan sibuk. Jam sibuklah. Coba yang kedua kali masih susah. Ya udah pikir besok aja. Besoknya lupa. Pas inget, sibuk lagi jaringan. Ini Alhamdulillah lagi inget dan sinyal bagus,” tuturnya panjang lebar menjelaskan. Saya yang mendengarkan senyum-senyum aja di Ulee Glee. Gak berani terlalu ngejek seperti kebiasaan saya. Wuih.. bisa ngamuk-ngamuk dia objection onion headkalau saya ejek . Hahaha

Nah.. itu cerita saya yang diucapkan ulang tahun terlambat oleh rekan seangkatan yang lumayan dekat dengan saya dan orangnya memang perhatian kepada semua temen-temen.

Dari cerita itu saya berpikir. Berpikir matang-matang.

Fiuh…sigh onion head

Alhamdulillah ya.. meskipun saya dan tunangan harus terpisah jarak seribuan kilometer lebih antara Aceh dan Bandung namun komunikasi kami lancar jaya. Sinyal gak pernah jadi kendala (kecuali Telkoms*l lagi ngulah), pulsa Alhamdulillah lancar jaya dan gak pernah jadi alasan untuk gak telponan, yah.. paling masalah kami hanya waktu aja. Dianya sering sibuk.

Ya mending ya orang yang sibuk daripada jaringan yang sibuk.

Bayangkan. Apa jadinya kalau saya LDR sama orang yang tinggal di pulau, lalu susah dapet sinyal? Apa gak bikin garuk-garuk dinding kalau lagi kangen? Apa gak bikin emosi kalau ada perlu tapi malah gak bisa dihubungi? Wuih…masa harus surat-suratan sih untuk mengucapkan rindu, menyapa pagi hari dan bercerita tentang hari? Bisa basilah ceritanya starving onion head

Maka dengan ini saya ingin mengatakan kabar baik bagi kalian semua pelaku LDR. Selama kamu atau pasanganmu tidaklah berlokasi di Pulau atau daerah tertentu yang sinyal teleponnya susah, maka bersyukurlah meskipun jarak yang terbentang antara kalian jauh.. jauh… jauh.. sekali. Karena jarak tak menjadi masalah bila komunikasi lancar. Well.. masalah siy sebenarnya, cuma kan karena udah berkomitmen untuk LDR dan setia (uhuk… uhuk…) maka ya harus diterima. Masalah kuadrat itu, udah LDR eh.. susah pula komunikasinya gegara sinyal.

Jadi para LDR-ers… bersuka-citalah bila kamu masih bisa mendengar suara pasanganmu kapanpun kamu inginkan. Karena bukan sinyal penghalang cinta kita super onion head

Tiga Perempuan: 5 Tahun Kemudian

Sambil sibuk menyantap bakso goreng ketiga perempuan itu berceloteh dan tertawa. Mereka duduk asyik di pinggiran lapangan bola di dekat kampus setelah kuliah usai. Sore begini banyak penjaja makanan mengelilingi lapangan bola. Lapangan bola tersebut tidak sedang digunakan untuk pertandingan bola, hanya ada beberapa kelompok perempuan berjilbab besar duduk berkerumun agak ke tengah lapangan. Mungkin sedang melakukan kajian islami.

Kira-kira 5 tahun ke depan kita bakal jadi apa ya?” Tanya seorang perempuan di sela-sela santapan bakso gorengnya yang dia pesen ekstra pedas. Pedas adalah favoritnya.

Kuliah. S2 di luar negeri. Paris.” Ucap salah satu temannya.

Iya. Kuliah. S2 dimanapun itu asal gak di sini (Aceh)” ucap teman lainnya yang paling kalem dan pendiam di antara mereka namun paling cerdas.

Iya. Kuliah di luar negeri. Aaah… moga-moga aku kesampaian ke Belanda.”

5 tahun kemudian.

Ya ampun, Tan. Aku kangen masa-masa kita kuliah dulu. Iya. Jajan bakso goreng. Nongkrong di pinggir lapangan bola sambil mengkhayal tentang masa depan.”

Eh… bentar. Dulu kalau gak salah si Intan pernah tanya, jadi apa kita 5 tahun ke depan kan? Mengkhayal sambil makan bakso goreng. Ingat gak, Tan?” kali ini perempuan yang dulu terkenal pendiam dan kalem namun cerdas angkat bicara dan bertanya.

Hmmm.. iya yak. Jadi kira-kira 5 tahun itu kapan?”

Sekarang deh kayaknya,” ucap si perempuan kalem yang kini telah berubah menjadi perempuan dewasa cantik, anggun dan tentu saja tetap cerdas.

Masa sih?” perempuan satunya lagi meragu.

Bentar…,” saya menengahi “kira-kira kita tuh duduk di sana semester berapa?”

5,6,7 kali.”

Saya menghitung-hitung…

Semester satu tahun 2006

Semester 2 dan 3 tahun 2007

Semester 4 dan 5 tahun 2008

Semester 6 dan 7 2009

Kira-kira semester 5, 6 atau 7.

Hemmm…

Iya deh kayaknya. Kira-kira aja lah ya. Iya. Sekarang ini lah 5 tahun akan datang dari 5 tahun lalu itu,” jawab saya setelah mereka ulang ingatan.

Jadi…?”

Well… inilah kita,” kata saya. Lalu kami bertiga tersenyum. Tertawa. Kembali menyuap mie pangsit yang menjadi salah satu jajanan favorit kami. Selagi menyuap saya yakin, pikiran kami masing-masing sibuk dengan kenangan masa lalu dan kenyataan masa kini.

Dulu kami bertiga adalah sekelompok kecil perempuan yang sibuk dan terlalu mengutamakan pendidikan. Berandai-andai berkuliah di luar negeri. Menargetkan pada usia tertentu sudah s2. Iya. Kami bahkan lupa menargetkan pada usia berapa kami ingin menikah. Karena cita-cita kami adalah menggapai pendidikan sebanyak mungkin atau ingin menjadi wanita karir yang sukses.

Lulus kuliah kami mendapatkan pekerjaan. Sibuk bekerja dan letihnya kerja lambat laun membuat kami lupa akan cita-cita kami ingin berkuliah di luar negeri. Saya sih sempat usaha mengajukan beasiswa S2 keluar negeri namun tak diterima. Usaha saya yang kurang. Saya sadari itu. Pekerjaan membuat saya tidak mempunyai waktu seleluasa semasa kuliah.

Lalu akhirnya saya melanjutkan kuliah di Universitas tempat saya menyelesaikan s1. Saya mengambil gelar profesi Akuntan. Ini pun kuliahnya kececeran gegara kerja. Gegara semasa kuliah profesi ini saya harus 2 kali ke luar kota dalam waktu bulanan, alhasil kuliah yang harusnya Cuma setahun saya selesaikan 2 tahun.

Kapok. Saya gak mau lagi lanjutin s2. Pengen napas dulu. Pengen kumpulin pundi2 uang dulu. Karena selama ini pundi keuangan saya bocor lagi ke biaya kuliah saya. Pengen berbagi dulu sama keluarga.

2 temen saya melanjutkan ke jenjang s2. Kini mereka tengah tahap thesis. Saya sih kalau bukan karena sesak napas capek mesti bolak-balik dari kota tempat saya kerja ke kota tempat saya kuliah mungkin juga tengah bernasib sama seperti mereka. Namun ya itu, dulu saya milihnya focus aja dulu di pekerjaan baru saya. Menata karir baru entar kalau udah gak sesak napas lagi dan pundi2 uang udah menggunung saya akan mengambil gelar s2.

5 tahun yang akan datang ternyata kami begini.

Saya tidak sedang kuliah di luar negeri. Saya hanya bergelar SE, Ak tanpa gelar s2. Bekerja di BUMN. Berencana menikah tahun depan dengan tunangan saya sekarang.

Perempuan kedua yang berniat s2 di Paris, kini telah menikah. Masih aroma pengantin baru. Tengah menyusun thesis di Universitas Unsyiah.

Perempuan nan cerdas itu berkarir di salah satu Bank Swasta. Juga tengah menyusun thesis. Akan segera dipinang untuk dijadikan istri.

Well…

Akhirnya kami menggeser cita-cita kami. Menurunkan level. Semua karena mungkin kami tidak setangguh orang lain mengejar cita-cita. Mungkin juga karena kami terlalu terbuai dengan karir. Tapi bagaimanapun kami suka menjalaninya dan mensyukuri apa yang telah kami dapat.

Jadi… 5 tahun lagi kita kayak apa ya?”

Ngumpul-ngumpul sambil gendong anak,”

Lagi. Kami tertawa.

Layak Jadi Calon Istri Berkualitas

Saya heran, kenapa sampai usia seperempat abad ini tak jua ada lelaki yang datang melamar saya. Padahal kalau saya bercermin dan bertanya pada cermin, siapakah perempuan paling cantik di komplek perumahan saya, tentu saja jawabannya adalah…

.

.

.

Tidak ada.

Bulan aja gak bisa ngomong, konon lagi cermin. Hedeuh…

Jadi ditengah kebimbangan dan kebingungan plus keheranan tentang tak ada lelaki yang khilaf mau sama saya, lalu saya mulai introspeksi diri. Saya menilai kekurangan diri sendiri serta kelebihan diri saya.

Tarohlah saya gak bisa masak, jorok, malas mandi, tukang tidur, susah bangun pagi, judes, jutek, gak perhatian, masa bodoh soal beberes rumah, egois, makannya banyak, kekanakan, pemarah, pemalas, dan tukang mengkhayal sebagai kekurangan saya. Tapi tentu saja saya punya kelebihan kan.

Berikut kelebihan saya.

  1. Saya ini pasti akan menjadi istri yang gak menguras dompet suami. Selain saya sudah punya pekerjaan saya juga bukan tipikal perempuan hobi belanja. Kalaupun belanja saya bukan penggila barang bermerek. Saya cenderung ingin sesuatu barang yang harganya sesuai dengan fungsinya. Untuk kosmetik-pun kulit saya ini murah banget. Pernah coba produk mahal yang menguras gaji tapi bereaksi gak bagus di kulit wajah saya yang menimbulkan jerawat dan muka berminyak berlebih. Alhasil saya kembali ke produk murah meriah tapi gak bikin jerawatan. Saya juga bukan penggemar salon. Intinya saya ini perempuan low budget, low maintenance lah.
  2. Saya ini.

*mikir*

.

.

.

.

.

  1. Baiklah. Lanjut ke kelebihan ketiga.

Kelebihan saya yang ketiga yang pantas untuk dijadikan pertimbangan sebagai calon istri yang baik adalah…

*mikir*

*mikir keras*

*mikir lebih keras*

*minum prokol*

*nyerah*

4. kelebihan saya yang keempat adalah…

Baca ulang kelebihan pertama.

*sigh*

Kayaknya saya tahu kenapa tidak ada lelaki yang khilaf melamar saya hingga detik ini.

Pacar Untuk Semangkok Bakso

Ayoo dong… kamu pacaran aja sama dia. Kan enak ntar pulang pergi kuliah bisa dijemput ama dia,” Ujar perempuan mungil berkacamata penuh semangat. Semangat yang membuat curiga jangan-jangan dia ada peran di balik layar penembakan yang dilakukan.

Ogah,” jawab perempuan yang baru saja dinyatakan cinta oleh abang letting di kampusnya.

Kenapa? Entar juga kamu bakal ditraktir makan sama dia. Enak kan bisa makan bakso gratis,” si gadis mungil masih beragumen.

Hey… kalau aku berpacaran hanya demi semangkuk bakso, maaf, aku masih punya uang untuk bayar baksoku sendiri. Kalaupun aku pengen bakso dan gak punya uang, aku masih punya kamu yang bisa aku utangi. Gak perlu pacar hanya demi bakso gratis.”

=============================================================================

Hahahaha…. Familiar dengan percakapan di atas.

Iya sih, untuk seusia kita sekarang, (kita? Saya aja kaleeee) emang percakapan gitu udah punah dari kehidupan sehari-hari kita. Namun coba ingat, beberapa tahun lalu. Saat masih berseragam putih abu-abu, atau saat masih menjadi mahasiswa, hal seperti itu kerap terjadi.

Dan benar, buat apa capek-capek pacaran hanya demi semangkok bakso gratis?

Mending kalau pacarannya selalu happy happy aja, tapi tau sendirilah kalau udah pacaran itu gimana. Yang perempuan bakal sering drama queen, dan yang lelaki tak mau kalah menjadi drama king.

Maka, bila perasaan tak terlalu kuat, bila masalah yang hanya didapat, bila cinta belum mendekat, kenapa harus malu menjadi jomblo lalu pacaran hanya demi semangkok bakso gratis?

Dua Puluh Enam

Umur dua puluh enam udah pantes menggunakan krim anti aging belum siy?

Ini catatan ulang tahun yang terlambat. Sama seperti menstruasi saya yang terlambat datang bulan ini. Usia 26 tepat menghampiri saya pada tanggal 10 kemarin, namun sebab galau tak berkesudahan (sekarang sih sudah) mengingat umur yang sudah tak lagi muda membuat saya urung menulis.

Aaak…

Saya merasa saya sudah tua…

Karena bahkan seperempat abad lebih sudah saya lalui. Huvt…

Mengingat umur pasti juga mengingat pencapaian yang telah diraih.

Baiklah. Alhamdulillah atas usia yang masih diberikan Allah swt, atas raga dan jiwa yang (kadang2) sehat, atas pekerjaan yang mengasyikkan, atas rejeki-Nya yang tak berkesudahan, atas kebahagian yang saya nikmati, atas keluarga yang selalu ada buat saya, atas sahabat yang selalu masih setia, atas rekan kerja yang baik hati, daaan… atas seseorang lelaki yang pada ulang tahun lalu tak tahu saya sebut apa namun dia special, kini dengan bangga saya menyebutnya tunangan saya (sebab sudah nangkring sebuah cincin di jari manis saya), atas calon mertua yang baik banget ama saya, meskipun belakangan saya menyesal telah menyia-nyiakan kebaikan mereka.

Ya.. atas semua itu saya bisa tersenyum bangga karena mendapatkannya di usia saya yang ke 26.

Setiap ulang tahun selalu punya cerita sendiri. Memang momen ulang tahun tak lagi menarik bagi saya sejak umurnya 23 tahun. Seingat saya, dua kali saya bahkan melupakan hari ulang tahun saya. Hohoho…

Ulang tahun kali ini, pagi2 sekali saya mendapatkan kejutan dari temen se-kosan yang meletakkan kado di tempat tidur saya kala saya mandi.

20140910_072458

Lalu setelah itu pergi ke kantor dan mendapati, rekan kerja saya yang usianya hanya 5 tahun lebih muda dari ayah saya membelikan saya sarapan. Dia tahu saya jarang sarapan sejak tinggal dan bekerja di Ulee Glee. Dan ini merupakan hadiah ulang tahun darinya.

Camera 360

Malamnya saya mendapati donat dari teman sebagai hadiah kue ulang tahun untuk saya.

20140910_230753

Tidak lupa banyak ucapan dari teman, sahabat, dan keluarga.

Lalu bagaimana dengan tunangan saya?

Bila tahun lalu dia orang pertama yang mengucapkan ulang tahun pada saya, kini ia menjadi orang yang terakhir ngucapin. depressed1 onion head

Bila tahun lalu dia begitu romantis mengucapkan ulang tahun sambil menyanyikan lagu dari David Lee- Happy Birthday, tahun ini dia hanya mengucapkan selamat ulang tahun.sigh onion head

Bila tahun lalu dia ingat, tahun ini saya harus berucap “Bang, Intan ulang tahun loh hari ini?”.

Ya… dia lupah sodara-sodara… whip onion head

Huahahahahaha

*ketawa setan*

Well… tapi saya yang pernah berjanji gak akan mempermasalahkan momen-lupa-hari-ulang-tahun-di-momen-ulang-tahun maka saya gak marah-marah ama diayawn onion head . Ya… wajar siy kalau dia lupa. Soalnya sejak sebulan belakangan kerjaanya begitu padat, ditambah lagi di hari ulang tahun saya dia tengah mengikuti diklat yang mana menyita seluruh harinya untuk belajar. Makanya saya gak heran dia lupa. Saya justru heran kalau dia ingat. Karena sudah menebak inilah makanya saya gak mencak-mencak.

Lagian, seperti yang adik saya katakan, bila saya sendiri pernah melupakan hari ulang tahun saya, kenapa justru heran bila orang sesibuk dan secuek tunangan saya melupakan hari ulang tahun saya.

Hahahaha…

Iya. Ini aneh.

Hmmm…

Harapan di ulang tahun lalu adalah semoga di ulang tahun akan datang (yang mana sekarang) saya sudah menikah atau paling tidak sedang menyiapkan pernikahan saya.

Kejadiaaan??

Tentu tidak sodarah sodarah..hell yes onion head

Saya belum menikah, dan bahkan saya tidak sedang menyiapkan apapun untuk pernikahan saya.

Ya… gak semua harapan itu terkabulkan. Mungkin Tuhan punya rencana lain, dan biarkan saya bersabar menunggu doa saya dikabulkan.

Well…

Mau tau apa harapan saya tahun ini?

Lebih spesifik dari harapan tahun lalu.

Ya.. saya ingin menikah. Tahun depan saat ulang tahun ke 27 saya harus sudah menjadi seorang istri. Istri dari tunangan saya sekarang.

Yang bilang aamiin mana suaranyaaaaa??

happy onion head

Duhai Penulis

Sudah chapter ke 13. sudah halaman ke 89. Dua tokoh utama belum juga jatuh cinta. Duhai Penulis, bila ini adalah sebuah novel romantis yang tengah ingin Kau tulis, para pembaca mungkin sudah bosan setengah mati. Alih-alih menyelesaikannya, pembaca itu malah akan membuang novel ini.

Sudah chapter ke 13, harus berapa chapter lagi hingga sepasang manusia tokoh utama itu mendapatkan romantisme hingga novel ini menjadi layak dibaca? Harusnya saat ini bukan lagi tentang cerita datar nan membosankan. Tidakkah Kau peduli akan pembaca-Mu? Atau tidakkah Kau prihatin akan dua tokoh ciptaan-Mu itu.

Bila kisah ini membutuhkan ratusan chapter, maka pada chapter ke berapakah akan Kau tunjukkan tanda-tanda dua insan jatuh cinta?

Bila kisah ini membutuhkan ribuan halaman, akankah Kau pastikan kisah ini akan berakhir happy ending?

Satu hal, Penulis. Jangan pernah Kau ubah genre novel ini.

Sementara itu, Para Para Perempuan Single

Tanpa secangkir kopi di meja kerja, tangan saya sibuk menari-nari di layar ponsel saya. Aktivitas di pagi hari itu adalah mengobrol dengan beberapa teman melalui aplikasi chating. Nasabah belum datang pada jam segini, maka saya manfaatkan waktu saya untuk bertukar kabar dengan beberapa teman lama atau teman gak pake lama demi menjaga hubungan. Bertanya hal biasa seperti kabar, kerjaan dan kesibukan. Untuk beberapa yang sudah mempunya pasangan saya tanya pasangannya, yang sudah punya anak saya tanya kabar anaknya.

Setelah itu saya beralih melakukan percakapan di salah satu grup chating yang isinya rekan-rekan kerjanya. Lingkupnya kecil. Rekan kerja tapi yang berteman dekat. Perempuan semua.

Dalam grup itu berisikan 4 perempuan yang berusia antara 23-26. Usia segitu di mana ada perkumpulan perempuan lain yang sibuk membahas mengenai pentingnya ASI dan tempat baby spa yang bagus, atau membahas menu masakan yang sehat bergizi untuk keluarga beserta riwil harga sembako naik, sementara kami….

Kami, para perempuan single berkarir ini malah berasyik masyuk membahas perbandingan harga emas, toko emas yang bagus, dan kadar emas yang baik (ini releven dengan pekerjaan saya yang bergelut di hal-hal beginian)

Ya… kata salah satu temen saya itu, untuk sementara inilah kehidupan yang kita punya. Kehidupan yang hanya berisi percakapan soal pekerjaan yang di-sharing.

Saya setujui, dan berharap kelak, pembahasan kami akan melebar. Ke ranah kehidupan perempuan sebagai istri atau ibu, tidak lagi hanya perempuan berkarir.