Bila Nanti Kita Menikah

Aku mensyukuri pekerjaanku ini. Pekerjaan yang gak akan pernah membuatku lembur. Ada. Tapi itu mungkin akan sangat jaraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang sekali. Sehingga bila nanti kita menikah, kamu yang kerjaannya selalu lembur dan ketika kamu pulang dalam keadaan letih, ada aku yang menyambutmu pulang dengan senyum dan akan membuatkan minuman apapun yang kamu inginkan.

 

Aku menyukai pekerjaanku yang jarang menatap layar komputer. Hingga tidak membuat migrainku kumat. Bayangkan saja, pekerjaan dulu selalu membuatku pulang dalam keadaan lelah dan migrain karena selalu menghadapi komputer. Situasi ini memberikan keuntungan buatku hingga, aku tetap dalam kondisi fit sepulang kantor hingga bisa memasakkan makanan yang kamu inginkan untuk makan malam kita. Hey… aku sudah belajar memasak.

 

Aku menyukai pekerjaanku yang pulangnya lebih awal dari kantor kebanyakan, hingga aku punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan apa-apa saja hingga kamu pulang kantor.

 

Aku menyukai ketika aku bekerja. Maaf bila aku tidak bisa menjadi Ibu rumah tangga mutlak. Setidaknya saat ini. Tapi belum tau nanti. Mungkin nanti, aku akan mengubah pikiranku entah dengan apa.

 

Tapi yang harus kamu yakini adalah, sesuka apapun aku terhadap pekerjaanku, secinta apapun aku terhadap karirku, tetaplah kamu diatas segalanya, tetaplah kamu yang lebih aku suka, tetaplah kamu yang lebih aku cinta.

 

 

Maka, kamu. Jangan melakukan hal sebaliknya. Nanti, bila kita menikah.

Diperkosa: Kalau Gak Bisa Ngelawan ya Nikmati Aja (?)

Hidup itu kayak diperkosa, kalau gak bisa ngelawan ya nikmati aja.”

Setau saya quote ngasal itu punyanya Raditya Dika. Tapi bagaimana setahu kamu?

Abaikan soal makna dari quote ngasal tersebut, saya ingin artikan secara harfiah aja anak kalimatnya yang menjadi kalimat penjelasan.

Kalau gak bisa ngelawan dinikmati aja”

Iya gak sih kita (ngajak ngomong ama perempuan) kalau diperkosa terus gak bisa ngelawan malah bisa nikmati aja? Saya belum tau emang rasanya proses persetubuhan itu kayak gimana, tapi emang kata orang nikmat. Lantas apakah karena itu nikmat maka ketika diperkosa kita bisa nikmati gitu aja?

YANG BENER AJA?

*sewot to the max

Paling yang bisa kita lakukan kalau kita gak sanggup ngelawan ya nangis, atau pingsan. Lalu setelah semua berakhir dan kita sadar kita jadi gila mungkin. Mungkin…

Nah, saya punya kisah nih tentang perempuan-perempuan hebat yang lebih baik mati ketimbang keperawanannya atau harga dirinya direnggut paksa secara tidak halal.

Kisah pertama saya baca di koran lokal Aceh, Prohaba. Kejadiannya tempat saya tengah mengais rejeki sekarang, Bireuen. Seorang ABG lebih milih melarikan diri secara nekat dengan mempertaruhkan nyawanya dengan berenang di laut selama 3 jam sejauh 2 mil untuk menyelamatkan harga dirinya dari lelaki bejat hidung belang. Syukurnya setelah berada di air selama itu ia masih hidup.

Hebat?

Iya. Menurut saya aksi heroiknya patut diacungi jempol.

Baca kisah lengkapnya di sini: Takut Dicabuli, Cewek ABG Renangi Laut 3,2 Km 

Kedua, cerita yang berasal dari Pontianak. Saya tau kisah ini karena salah satu teman dunia maya saya mempublikasikannya di Facebook.

Seorang remaja putri dibunuh oleh pacarnya karena dia menolak melakukan hubungan intim dengan si pacar brengseknya itu. Ya, dia tetap saja tidak membiarkan si pacar mengambil sesuatu yang berharga pada dirinya meskipun akhirnya ia dibunuh.

Baca cerita lengkapnya di sini: You Dont Have to Kill Her

See?

Gak ada tuh yang namanya kalau gak bisa ngelawan ya dinikmati aja.

Kita harus ngelawan apapun caranya.

Apapun resikonya.

Karena apabila kita mengatakan kalau gak bisa ngelawan ya dinikmati aja itu namanya bukan ngelawan tapi pengen, itu namanya bukan pemerkosaan tapi mau sama mau.

 

TMT 1 Juli: Udah Bisa Nikah

Akhirnya masa penantian setahun itu datang juga.

1 Juli 2013 saya resmi diangkat menjadi pegawai di Perusahaan tempat saya menerima gaji setiap tanggal 25. 1 juli 2014 merupakan masa yang ditunggu karena pada tanggal ini maka hak cuti sudah saya dapatkan juga……………

hak untuk menikah.

Yay!

Yay!

Gak terasa udah setahun resmi jadi pegawai, namun kalau dihitung masa OJT ini sudah jalan 1.5 tahun. Kayaknya inilah pekerjaan yang terlama yang pernah saya geluti. Bisa merayakan anniversary untuk pekerjaan kali ini merupakan suatu hal baru bagi saya yang kalau kerja kaya bajing lompat.

Cuti. Aaah… rasanya pengen segera ngambil cuti buat dipake jalan-jalan kayak orang-orang atau juga………..

dipake buat nikah.

Hakhakhakhak…

 

Yang Telah Pergi Gak Bisa Kangen

Kata orang Jawa, apabila kita mencium bau yang mengingatkan akan orang lain, biasanya orang itu memang sedang memikirkan atau merindukan kita. 

-Wangi-

Kalimat tersebut saya ambil dari sini. Salah satu blog yang kerap saya baca kalau blogwalking.

Hal pertama yang muncul ketika saraf otak saya memberikan informasi tersebut memberikan efek kepada saya tentang kenangan. Lagi. Dan lagi.

Sebelum saya melanjutkan, tolong tahan diri kalian untuk tidak memberikan puk-puk lagi buat saya. Tenang saja, saya menulis ini tidak dengan perasaan galau. Hanya ingin menulis. Itu saja. Kehidupan saya sudah sangat baik sekarang.

Balik ke topik ye.

Pas awal-awal si pacar meninggal, saya pernah mengalami hal serupa. Aroma khas-nya tiba-tiba menyambangi hidung saya. Itu bukan aroma dari parfum yang ia kenakan, karena sekeras apapun saya memintanya memakai parfum tak pernah mau ia lakukan. Aroma yang menyambangi hidung saya itu berasal dari pengharum pakaian yang digunakan ibu saya yang juga sama dengan aroma yang dipakai oleh almarhum pacar saya.

Ketika itu reaksi saya adalah kaget. Lalu benak mulai muncul sekelebat kenangan tentangnya. Tentang canda tawa kami, tentang rajukannya, tentang perdebatan tak penting, tentang amarah. Tentang semuanya. Tentang dia.

Ketika itu reaksi kedua saya adalah murka mendadak. Saya kesal kenapa ibu saya memilih pengharum pakaian yang sama yang selalu ia pakai. Saya kesal saya harus kembali mengingatnya dengan cara seperti itu. Saya ingat saat itu saya melarang ibu saya kembali memakai pengharum pakaian itu. saya tak ingin terjebak kembali bersama kenangan tentangnya. Karena saat itu (setahun lalu) hati saya masih labil.

Bila memang dikatakan bila kita mencium aroma seseorang maka orang tersebut tengah kangen dengan kita. Sepertinya untuk kasus saya, hal ini tidak berlaku. Karena saya percaya, orang yang telah mati terputus segala urusannya dengan dunia kecuali 3 hal: doa anak yang sholeh, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah.

Hening

Karena dunia telah terlalu bising, ingin aku beri engkau hening.

Dalam diam aku mencintaimu, dengan diam-diam aku merinduimu.

Tanpa suara, tanpa aksara.

Karena dunia telah terlalu bising, ingin aku beri engkau hening.

Surat

Ulee Glee, 14 Juni 2014

Kepada:

Calon Suamiku

Assalamu’alaikum wr, wb.

Dengan surat ini aku ingin menyampaikan bahwa, kamu, duhai calon suamiku bukanlah lelaki cinta pertamaku.

Pun juga bukan cinta mati dan cinta penasaranku.

Namun aku yakin, kamu adalah satu cinta yang mampu mengajakku ke surga.

Ttd

Calon istrimu yg tidak bisa masak.

Terakhir Kali Jatuh Cinta

Kapan kali terakhir kamu jatuh cinta?” aku bertanya sembari menatap tajam ke arah dua bola matamu.

Maksudnya?”

Ternyata alih-alih menjawab kamu malah balik bertanya padaku.

Kapan terakhir kali kamu merasakan jantungmu berdebar karena seorang wanita?”

Entahlah.. sudah begitu lama. Mungkin ketika aku masih kuliah.” Kali ini kamu menjawabnya dengan gerik matamu seperti berusaha mengingat memori masa silam. Mungkin sosok perempuan terakhir cinta matimu muncul dalam benakmu saat ini.

Masih ingatkah rasanya ketika jantungmu berdebar karena cinta?” aku kembali bertanya padamu. Keningmu berkerut. Lucu. Ekspresi sedang mengingatmu lucu sekali. Aku tersenyum.

Aku juga sudah lupa rasanya jatuh cinta. Lupa bagaimana debar riuh jantungku kala jatuh cinta.” Aku membuka suara, menyelamatkanmu dari pertanyaanku.

Mungkin kali terakhir 3 tahun lalu. Tidak selama kamu memang,” lanjutku lalu aku menerawang. Sesosok cinta terakhirku hadir dalam imajinasiku.

Beberapa jenak kemudian aku kembali menguasai diri. Kembali dari lamunan dan menatap lagi wajah rupawanmu. Menatap lurus ke bola mata bersorot tajam milikmu.

Tapi kini aku ingin merasakan kembali debar itu. Kembali ingin jatuh cinta. Kembali ingin senyum konyol tiada henti tersungging dari bibirku sebab ulah cinta.”

Kamu tolehkan pandanganmu padaku. Akhirnya kamu memandangiku.

Dengan sebuah senyuman tulus aku lanjutkan, “aku ingin jatuh cinta kepadamu. Aku ingin belajar mencintaimu, maka dari itu belajarlah mencintaiku juga. Agar kelak kita bisa kembali merasakan debar jatuh cinta.”

Kamu masih menatapku. Lekat. Aku kembali memberimu sebuah senyuman lalu tanpa ragu menggenggam erat jemarimu. Mendekat ke arahmu. Bersandar di pundakmu.

Iya. Kita harus belajar saling mencintai karena beberapa jam yang lalu akad nikah kita baru saja usai. Kita sepasang suami istri kini.

 

index

Arti Have A Nice Dream

Ketikan orang-orang berupa kata yang akhirnya diarahkan ke blog kita banyak banget yang lucu-lucu, kan? Gitu kita buka home screen blog kita search engine term blog kita menampilkan pencarian orang-orang. Aneh-aneh kebanyakan.

Tetiba saya ngerasa ada banyak orang yang seperti ngeramal ketika mencoba browser. Kalimat-kalimat yang ditangkap blog saya adalah seperti:

Kenapa saya menjadi mantan tak dianggap?

Wuedaaaan. Kenapa mesti tanya saya sih? Saya bukan konsultan dalam dunia permantanan.

Lulusan Teknik sebaiknya kerja di mana?

Kerja di bank harus lulusan apa?

Istri hebat di ranjang gimana?

Agar suami makin cinta

Perempuan gak bisa masak

Lama-lama saya ngerasa blog saya jadi sekelas blog vemale.com dalam rubrik seks & cinta atau perempuan dan life style

Ebuset sekali.

Tapi yang paling banyak dan hampir setiap hari selalu nongol di search engine term adalah: arti have a nice dream apa. (Saya tahu sih ini gegara postingan saya yang ini).

Semacam ngerasa berdosa sama yang bener-bener pengen tahu arti kalimat itu lalu nyasar di blog saya. Seingat saya, di blog ini saya gak ngebahas arti dari have a nice dream karena blog saya bukan blog untuk mempelajari bahasa inggris dasar. Bukan karena saya males sih, tetapi lebih karena emang bahasa inggris saya ini kacau banget bahkan untuk level dasar. Ya jadi itulah kenapa kalau akhirnya kamu-kamu (para pencari arti) harus menelan kekecewaan ketika terdampar di blog saya dan tak menemukan artinya.

Sama seperti kamu sebenarnya, saya juga gak tahu apa itu artinya have a nice dream. Saya mesti buka google translate dulu untuk tahu artinya. Nah, saya jadi punya saran nih buat kamu. Ketimbang kamu secara asal nulis ‘arti have a nice dream’ pada layar google, mendingan kamu langsung beralih ke google translate aja. Di sana jawaban kamu lebih terjawab ketimbang harus nyasar ke blog saya ini.

Etapi saya gak ngusir atau melarang kamu untuk datang ke sini sih. Makasih banget udah nyasar. Tapi saya ini kan baik, makanya ngasih kamu saran yang lebih bagus. Sebagai imbalannya, ya gak salah lah kalau tiap hari kamu datang ke sini tapi yang harus diingat adalah jangan banyak tanya ya, jangan tanya kenapa mantan kamu putusin kamu, atau cara memperbesar payudara. Pelis deh, saya juga masih bingung gimana cara membesarkan payuda…. Ah sudahlah.

Ohya, bagi yang masih penasaran dengan apa artinya have a nice dream itu saya yakin banget nih yakin, kalian pasti sedang dirayugombali oleh gebetan atau bahkan pacar kalian. Soalnya ya… saya juga gitu deh dulunya.

Tapi yaaa… pas dapet ucapan kayak gitu saya gak gugling untuk nyari tahu artinya. Saya malah kesengsem sampe gak bisa tidur.

Iyeee..

Arti kalimat itu adalah punya sebuah bagus mimpi.

*lari-lari cantik blogwalking ke tempat lain*

Bahasa Tak Beraksara

Hidup terasa begitu remang tanpa adanya sebuah kepastian. Tentang apa-apa yang sering tercekat di tenggorokan. Ingin dikeluarkan namun rasa enggan menyergap. Akhirnya padam, bagaikan pijar api lilin di atas kue ulang tahun yang ditiup dengan semringah oleh manusia yang bertambah usia. Entah apa yang mereka semringahkan, kematian yang semakin dekatkah?

Semua kata-kata aku telan kembali. Meledak di dalam perut bersama kupu-kupu yang sudah lebih dulu menghuninya beberapa bulan belakangan ini. Pernahkah kamu mendengar kisah tentang kejatuhan cinta yang berujung maraknya kupu-kupu menggelitik perut? Aku tak tahu benarkah ada kupu-kupu dalam perutku tapi anggap saja begitu. Toh untuk membelah perutku hanya untuk membuktikan sebuah kebenaran aku terlalu pengecut.

Kamu hadir dalam hangat yang kamu bawa di bawah derasnya hujan yang aku suka. Dengan senyum menawan memabukkan. Dengan suara tenang menghanyutkan. Mungkin aku terlalu berlebihan mendefinisikanmu, nyatanya mungkin orang lain tak melihat apa yang aku lihat. Namun, aku memang tak sedang peduli akan apa yang orang katakan. Aku hanya peduli apa yang akan kamu katakan. Itukan alasanmu datang pada malam hujan deras ini?

Aku terlalu beraksara katamu. Banyak kata-kata yang aku telan lalu aku lahirkan dalam bentuk aksara. Aku pemalu di balik semua sifat blak-blakanku. Itu katamu.

Lalu kamu, si pemuda pemalu yang jarang berkata-kata hadir malam ini dalam bahasa tak beraksara. Terlalu lugas.

Aku sayang kamu.

Itu ucapmu.

Kupu-kupuku riuh.

Menikah: The End

Meningat sebentar lagi (atau mungkin entah kapan) saya akan menikah, wejangan kian deras memenuhi kedua telinga. Dari keluarga, rekan kerja, sahabat, atau teman dunia maya yang jauh di mata dekat di gadget. Wejangan dari mereka bernada sama, menyerukan satu irama agar saya kelak mampu menjadi istri yang penurut, yang sabar, yang lemah lembut, yang setia melayani, yang menjadi pendukung, yang harus kuat dan tegar, yang kalau dirangkum akan menjadi Super Woman namun berhati lembut.

Bukan saya tidak mengacuhkan nasihat mereka. Itu merupakan ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya. Saya senang mereka peduli sama saya hingga meberikan petuah bijak serupa itu.

Namun…

semua petuah itu malah membuat mindset saya akan pernikahan menjadi kembali seperti dulu. Kembali menjadi Intan yang antimenikah seperti bertahun-tahun lalu. Karena menurut saya akhirnya menikah itu membosankan.

Bukankah akan amat bosan bila semua-semuanya menjadi tergantung pada kita sebagai istri? Kita yang dipaksa sabar, kita yang dipaksa lemah lembut, kita yang dipaksa tegar, kita yang dipaksa setia melayani, kita yang harus nurut, kita yang bla… bla… bla…

Haruskah saya selalu sabar? Iya.

Tapi saya ingin sesekali ketika saya meluapkan amarah suami saya datang mengelus kepala saya dan mendekap saya dalam pelukannya, agar amarah saya reda.

Haruskah saya lemah lembut? Iya

Tapi saya juga ingin dapat meluapkan kekesalan saya bila suami saya bertingkah menyebalkan. Bukankah itu manusiawi?

Haruskah saya tegar dan kuat? Iya

Tapi bolehkan bila sesekali saya ingin bermanja dalam pelukannya atau menyandarkan kepala pada pundaknya ketika dunia terasa sesak untuk saya?

Haruskah saya selalu melayani? Iya

Tapi apakah berlebihan bila saya ingin dia tidak memperlakukan saya layaknya pembantu? Apakah nista bila lelaki ikut membantu istrinya mencuci piring? Atau menguras bak mandi?

Mungkinkah lirik-lirik lagu, cerita cecintaan di novel dan romansa film-film itu hanya cocok ketika berpacaran dan menjadi lelucon bila dibawa dalam kehidupan pernikahan?

Salahkah saya terlalu berharap akan ada sedikit keromantisan unyu-unyu di mana saya diperlakukan layaknya perempuan paling beruntung bila sudah menjadi istri?

Karena bila memang adanya menikah akan menjadikan perempuan penuh tanggungjawab membosankan, tanpa jiwa dan hatinya disiram akan cinta, kasih sayang, perhatian, dan romantisme unyu-unyu maka menikah itu sama sekali tidak menjadi indah.

Dan bila saya harus menjadi pihak yang berkorban dan terus mengalah tanpa adanya perhatian, rasa peduli, saling menolong, rasa cinta dan kasih dari sang suami maka…

251020_175281832533796_7802825_n

kehidupan saya telah tamat.

Blog Stats

  • 101,186 hits

Archives

Kapan Gajian?

July 2014
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ngalor-Ngidul di Twitter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,765 other followers